Wirausaha

Ikhtiar Bebas Riba

Ahad, 18 December 2016 07:51 WIB Penulis: Riba Amnesty

Silaturahmi Akbar GEE Indonesia I, pertemuan pebisnis yang tengah berikhtiar membebaskan diri dari riba. -- Dok. GEE

“Saya punya utang cicilan kendaraan. Saya berani karena sudah perhitungkan matang, yaitu bayarnya dari hasil usaha saya. Tahun pertama oke. Pas tahun kedua, saya dapat PHK dengan beberapa toko alasannya karena penjualan produk kurang dari 1 juta per bulan. Sekarang morat-marit hingga kerja keras fokus bayar cicilan. Pertanyaan, apa saya over kredit, tapi saya sayang sudah 28 kali cicil.”

Pertanyaan sekaligus curhat itu mengemuka pada sesi Kuliah Online, disingkat Kuline, yang dipandu Dian Ranggajaya, pendiri Syariah Wealth Management sekaligus ­Dewan Pengawas Bogor Micro Finance, Kamis (8/12).

Kuline menjadi salah satu agenda rutin Group Equator Entrepreneurs (GEE) yang berfokus pada diskusi daring tentang riba, zakat, hingga isu Islam umum yang dipandu pakar-pakar ekonomi Islam, termasuk Rangga dan Irfan Syauqi Beik, Direktur Pusat Kajian Strategi Baznas.

“Utang itu pasti, bisnis enggak pasti. Jadi segera cari kepastian, agar tidak kerja keras cuma buat bayar utang,” jawab Rangga tegas.

Sekencang komitmen
Komunitas pengusaha yang dirintis Nur Devi Rasita, 36, itu memang mengagendakan percepatan bisnis anggotanya sekencang komitmen mereka menjauhi riba, sistem ekonomi berbasis bunga yang dilarang dalam Islam.
Komitmen itu pun ditegakkan ­dalam Silaturahmi Akbar GEE ­Indonesia I (SAGI) bertajuk UMKM Repositioning: Unggul Pasar Nasional dan Tembus Pasar Internasional.

“Kami berkomitmen mendukung kemajuan UMKM di Indonesia salah satunya dengan mendukung GEE. Mari berhijrah ke sistem keuangan berbasis syariah. Karena selain menjadi partner bisnis, kami juga menyediakan pendampingan dan coaching clinic agar UMKM ­bank-able,” ujar Imam T Saptono, Direktur Utama BNI Syariah tentang program Riba Amnesty yang dilakukan pihaknya. Riba Amnesty, ikhtiar menyetop relasi dengan riba, diklaim Imam membuat bisnis berlangsung lebih adil dan transparan karena penghitungan atas bagi hasil tidak dilakukan di depan.

Devi menegaskan, Islam memang menghalalkan jual beli, tetapi mengharamkan riba. Perpindahan para wirausaha ke bank syariah bisa menjadi salah satu opsi, walaupun harus teliti memastikan isi akad agar riba benar-benar bisa dihindari.

“Saya pribadi ingin para member-nya yang cepat besar bukan forumnya, maka visi misi GEE adalah menumbuhkan pewirausaha muslim antiriba secara kualitas,” kata Devi. (Zat/M-2)

Komentar