Wirausaha

Orang Mundur yang Pantang Merugi

Ahad, 18 December 2016 07:48 WIB Penulis: Her/M-1

Gian Rizky Pratama, Mahadyansahi Alhadi, dan Bambang Bayu Febbyanto, pendiri fruitsup. -- MI/Adam Dwi

NAMA CV yang mereka pilih boleh saja nyeleneh, yakni CV Ormund yang disingkat dari ‘orang mundur’, tapi dua tahun ini membuktikan usaha mereka justru terus maju. Setiap bulan, tak kurang dari Rp90 juta omzet usaha kecil dan menengah tersebut. Padahal, produk reguler mereka hanyalah satu, yakni minuman kemasan berbahan dasar mangga dengan label Fruitsup.

Media Indonesia mengunjungi rumah kontrakan bertingkat yang menjadi sentra produksi Fruitsup, lokasinya di Kompleks Puri Indah, Jatinangor, Sumedang, Kamis (8/12). Sosok di balik usaha tersebut ternyata mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.

Menurut Gian Rizky Pratama yang menjabat COO, sejak dulu mereka memang suka berdagang. Namun, dulu, biasanya mereka reseller, bukan ­produsen. Kemudian mereka bertemu dengan Dwi Purnomo, dosen Unpad yang kini menjabat komisaris di CV Ormund Indonesia milik mereka. Dosen yang terlibat dalam penguatan masyarakat gugus buah itu mengajak mereka membuat proyek usaha.

Dari inisiatif lima mahasiswa dan dosen itulah, Fruitsup lahir. Kini personelnya berubah dengan digerakkan tiga orang, yakni Gian Rizky Pratama (COO), Mahadyansahi Alhadi (CMO), dan Bambang Bayu Febbyanto (CEO).

“Ide awalnya mah gimana caranya menikmati mangga saat tidak musim,” sebut Gian yang akrab dipanggil Aceng. Hasil penelitian masyarakat gugus buah menemukan bahwa saat panen raya, justru banyak mangga yang dibuang oleh petani karena tergolong offgrade, kualitasnya tidak bisa masuk untuk pasar modern maupun tradisional.

Dari persoalan itu, mereka pun menawarkan konsep bisnis yang bisa menjadi solusi. Mangga yang dulu berpotensi dibuang justru diolah menjadi bubur buah atau dikenal sebagai mango puree. CV mereka yang didukung perguruan tinggi, bisa dibilang menjadi perantaranya. Untuk membuat puree tanpa bahan pengawet, petani memerlukan mesin pasteurisasi yang harganya bisa mencapai Rp200 juta.

Tentu sebagai mahasiswa, mereka tak punya uang sebanyak itu, jadi mereka minta bantuan pemerintah. “Daripada ngasih traktor harga Rp1 miliar tidak terpakai, mending beli mesin pasteurisasi yang sudah jelas-jelas terpakai, jadi program pemerintah tepat sasaran, petani punya penghasilan lebih, kita juga dapat bantuan,” simpul Aceng.

Berbeda dengan minuman kemasan lain berbahan buah, Fruitsup memang tergolong lebih mahal. Sebotolnya di pasaran biasa dijual seharga Rp15 ribu. Namun, kualitas memang tidak menipu. “Kita ini bubur buah, bukan jus,” tandas Mahadyansahi Alhadi yang biasa dipanggil Abok.

Sebagai gambaran, 3 kg buah mangga gedong gincu bisa menghasilkan 1 liter puree. Dalam satu kemasan, 50% isinya murni buah mangga. Jadi bisa dibilang, wajar bila harganya lebih mahal. Saat ini, ada dua varietas mangga yang digunakan yakni gedong gincu dan harum manis.

Maju bersama
Wirausaha yang kini pemasarannya sudah mencakup wilayah Jabodetabek itu sehari memproduksi 400-500 botol. Menariknya, mereka kini tak lagi menjual langsung produknya ke konsumen. Sejak tahun kedua, mereka memilih menerapkan model bisnis reseller yang mengandalkan penjualan offline. Kebanyakan reseller mereka adalah ibu-ibu. Di Bandung sendiri, sudah ada 20 reseller terdaftar.

“Kita mikirnya bagaimana cara supaya semua rantainya diuntungkan,” ujar Aceng. Padahal mereka tentu bisa saja menjual produk sendiri dan mendapat untung lebih besar karena tak harus melalui dengan reseller dulu. Mereka ingin komitmen sebagai wirausaha sosial, berusaha menguntungkan semua orang, dan mendapatkan loyalitas dari model bisnis tersebut.

Kalaupun di tahun pertama mereka sempat menjual sendiri, itu lebih untuk tahu bagaimana strategi pemasaran yang baik. Berbekal pengalaman itu, mereka bisa mengajari dan melatih reseller.

“Kita rutin tiap bulan ngasih materi marketing ke ibu-ibu,” tukas Abok soal tanggung jawabnya itu. Di antara yang biasa diajarkannya ialah cara sukses pemasaran daring, termasuk cara ‘engage’ dengan pelanggan dan memanfaatkan fasilitas yang ada di sana.

Fruitsup sendiri punya akun media sosial, tapi diperuntukkan memberikan kesadaran soal merek mereka dan ‘profiling’. Kalau ada pelanggan yang ingin membeli, mereka paling memberi tahu kontak reseller terdekat.

Di sisi lain, ada negara-negara lain yang mulai melirik inovasi puree dan berharap bisa membeli bahan baku mereka. Selain Korea Selatan, ada juga dari Jepang yang ingin membeli puree dalam galon-galon, tanpa label Fruitsup. Saat ini permintaan demikian masih mereka tolak. Ke depan, rencananya mereka akan membuat solusi business to business, yakni dengan meracik puree dalam bentuk bata. “Bisa dimanfaatkan tukang jus dan restoran saat bukan musim mangga,” cetus Abok.

Model bisnis mereka ini bisa dibilang menjadi ‘barang jualan’ CV Ormund sekarang. Berkat model bisnis ini, mereka meraih berbagai penghargaan, semisal Anugerah Inovasi Jabar (2014), Wirausaha Terbaik Jawa Barat 2015, IBT Ristekdikti 2016, dan Penggerak Wirausaha Nasional 2016 untuk komi­saris mereka, yakni Dwi Purnomo.

Sumber pemasukan mereka pun tak hanya dari produksi dan penjualan Fruitsup, tetapi dengan menjadi tutor wirausaha dalam program pemerintah. Tempat produksi mereka kerap dikunjungi rombongan UKM dari berbagai kota sebagai media pembelajaran. Tanpa ragu, mereka pun membuka dapurnya dan menunjukkan cara kerjanya. Meski sepintas kemasannya tampak eksklusif dan seolah dibuat industri besar, nyatanya Fruitsup diproduksi di dapur sederhana. “Alat-alatnya ada di dapur semua orang, tidak perlu alat yang canggih. Yang kita harapkan itu dengar orang-orang bilang, ‘Saya juga bisa’,” tutup Aceng. (Her/M-1)

Komentar