Wirausaha

Berkomunitas, Mendongkrak Bisnis

Ahad, 18 December 2016 07:41 WIB Penulis: Hera Kaherani

Yopy Darisman dan Anggita Diandra, pemilik Thaiteanic. -- MI/Adam Dwi

ANGGITA Diandra, 24, tidak pernah mengira usaha yang dijalaninya untuk tugas mata kuliah kewirausahaan dulu ternyata masih bisa hidup hingga lebih dari empat tahun kemudian.

Kala itu Gita, demikian dia akrab disapa, seorang mahasiswi Ilmu Administrasi Bisnis di Universitas Padjadjaran, bersama beberapa teman yang tergabung dalam timnya, mereka sepakat membuat minuman thai tea dalam kemasan cup dengan label Thaiteanic.

Berbeda dengan thai tea yang di kafe lazimnya dijual hingga Rp30 ribu ke atas, Thaiteanic justru dijual seharga Rp7 ribu. Secara mengejutkan di akhir mata kuliah kewirausahaan, diketahui bisnis itu pendapatannya paling besar jika dibandingkan dengan bisnis yang dipilih kelompok lain.

Setelah lulus kuliah, teman-teman setimnya tidak ikut melanjutkan usaha itu. Gita akhirnya bekerja sama dengan Yopy Darisman, 27, seorang mahasiswa jujusan Hubungan Internasional di Unpad yang sudah pernah punya pengalaman memiliki kafe dan kedai es krim. Kala itu, mereka sepasang kekasih. Baru Agustus tahun ini keduanya menikah dan mantap tetap melanjutkan bisnis bersama.

Media Indonesia menemui keduanya di rumah produksi yang beralamat di Perumahan Bumi Panyawangan Real Estate, Cileunyi, Kamis (8/12). Di rumah produksi itu, mereka mempekerjakan warga sekitar dari ekonomi lemah. “Kita dulunya hanya memikirkan gimana cara­nya dapat untung, tapi terus dapat masukan dari komunitas agar melakukan pemberdayaan lokal,” aku Yopy.

Gita pun menambahkan, “Setelah kami mempekerjakan mereka, ini jadi alasan tambahan untung bekerja lebih baik lagi. Kalau dulu usaha berhenti tidak terlalu gimana, tapi sekarang kita mikirnya gimana supaya orang-orang ini tetap bisa kerja dan dapat penghasilan.”

Tak hanya Thaiteanic, mereka juga berinovasi dengan beberapa lini bisnis lainnya, yakni Honesty by Thaiteanic (sejak 2015), katering Rumah Meranti (2016), dan Local Tea (2016). Saat ini, omzet bisnis mereka Rp50 juta-Rp60 juta per bulan. Saat ini, tak kurang dari 25 kantin menjual produk mereka, kebanyakan tersebar di Sumedang dan Bandung. Dari tiap penjualan produk minuman kemasannya, mereka menyisihkan Rp1.000 untuk donasi pendidikan.

Salah satu tantangan utama yang harus dihadapi, inovasi untuk menangkap peluang pasar.

Terjun langsung
Karena kesuksesannya, pasangan suami istri muda ini, dilibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat sebagai tutor wirausaha baru. Di antara pengalaman mereka yang layak ditiru pengusaha baru ialah ketekunan dan kejelian membaca pasar.

Thaiteanic bisa mendapatkan pasar yang besar lantaran menyasar mahasiswa. Dengan kemasan cup dan pencarian bahan baku yang menyesuaikan, mereka bisa menjualnya dengan harga murah. Namun, mereka juga menyadari tidak semua pasar mengharapkan harga yang murah sekalipun sama-sama mahasiswa.

“Waktu kita cek pasar ke ITB (Institut Teknologi Bandung), ternyata di kantin mereka ada makanan-makanan yang harganya mahal jadi mereka cenderung rela mengeluarkan uang lebih banyak,” jelas Gita soal segmentasi yang berbeda. Sebotol Honesty biasa dijual seharga Rp13 ribu-14 ribu.

The Local Enablers
Ketika para pekerja sibuk memproduksi dan menjalankan alur distribusi produk, Yopy dan Gita biasa fokus mengembangkan pasar dan menyebar brand awareness. Keduanya terjun langsung untuk itu.
Lebih lanjut, mereka menya­rankan agar para pemilik usaha mendekatkan diri dengan komunitas wirausaha baik yang diadakan pemerintah maupun perguruan tinggi.

Di tahun-tahun awal, mereka tidak pernah mengenal komunitas. Meski tidak pernah merugi, usaha mereka tidak juga berkembang. Lalu, mereka mengenal The Local Enablers di Unpad. Mereka pun mendapat masukan yang baik dari sana.

“Kita diajarin kalau laba itu jangan langsung dihabiskan ­dengan dibagi dua setelah ­bayar karyawan, harus investasi ke aset, jadi kita mulai nambah beli kulkas,” contoh Yopy. Dengan aset bertambah, kapasitas produksi pun meningkat.

Dari komunitas yang berisi orang-orang dari berbagai latar belakang dan kepakaran, mereka juga bisa berkonsultasi soal masa kedaluwarsa agar bisa lebih panjang. Itu berkat perkenalan dengan ahli pangan.

“Semakin awal menemukan tutor wirausaha, makin baik. Buat berjejaring dan dapat ilmu untuk mengembangkan usaha,” saran Yopy. (M-1)

Komentar