Tifa

Berulang Kali Jatuh dan Selalu Bangun

Ahad, 18 December 2016 05:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

BEREMPAT berdiri mengambil jarak. Mereka bersiap. Sampai pada waktu tertentu salah satu menyapa seorang lain. Uniknya, sapa bukan dalam lisan, mereka menyambung bahasa dengan kontak tubuh. Berkomunikasi dengan tabrakan badan. Bertemu dan bertabrak. Ambil jarak, lalu berkelindan lagi dan terus berbelit.

Keempatnya terlibat dalam kumparan antar mereka. Pusaran dilakukan dengan properti kain lebar yang diikat rantai pada masing-masing ujung. Semacam konferensi meja bundar yang dilakukan dengan bahasa berbeda. Berikutnya, seusai bertabrakan, mereka membangun kembali. Bagian berikutnya tak kalah me ngundang stres. Mereka jatuh dan terus jatuh. Begitu pun sebaliknya, setiap jatuh mereka bangun. Berulang jatuh dan selalu bangun.

Itulah pementasan berjudul Semegiai Random 02 oleh Muda asal Jepang di malam penutupan Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 pada 9 Desember 2016 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kehadiran kelompok teater kontemporer asal Jepang itu terbilang istimewa. Mereka menjadi satusatunya penampil FTJ 2016 yang berasal dari luar negeri. Dengan kata lain, orientasi internasional FTJ sudah mulai berjalan tahun ini. Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Afrizal Malna mengatakan Muda merupakan gambaran masa kini dunia seni pertunjukan ketika batas-batas teater, tari, musik maupun seni rupa melebur menjadi ruang baru.

"Kelompok mereka seperti sebuah perusahaan teknologi media dengan berbagai seniman lintas disiplin yang bekerja sebagai perancang sekaligus pelaku pertunjukan. Teknologi media membuat kodekode budaya seperti bisa lepas dari orbit lokalitasnya, dan hadir sebagai fesyen baru dalam elemen-elemen pertunjukan," kata Afrizal.

Pada malam penutupan FTJ 2016, selain pentas Muda dan pengumuman pemenang, masih ada tajuk penting lain yakni kesaksian Diding Zeta atau Diding Boneng sutradara teater tertua yang masih mengikuti FTJ 2016. Dalam kesaksiannya ini ia akan bercerita bagaimana ia mengikuti rangkaian FTJ dari sejak muda dan dalam kiprahnya yang panjang itu, lewat sejumlah kelompok teater, ia telah melahirkan sejumlah aktor dan sutradara teater di Jakarta. Muda sebuah hyper performance group yang didirikan Takahiko Fukui dan beberapa seniman dari berbagai disiplin seni di Kyoto, Jepang, pada 2010. Dalam karya-karyanya, Muda terilhami oleh aktivitas kehidupan, yang tersusun dari gerak-gerak yang berseberangan dengan manusia, seperti gerak benda-benda dan bumi.

Gerak-gerak didasarkan pada ritme kehidupan, misalnya peristiwa jatuh dan berdiri. Sampai peristiwa alam semesta, misalnya ketika obyek luar angkasa bertabrakan dan menyebar. Muda membawakan tema beragam, misalnya animasi, fi sika, alam semesta, ritual, dan stres. Tema itu lalu dituangkan ke pelbagai jenis seni, seperti seni peran, tari, musik, gambar video, teknologi, seni rupa, sampai seni tata ruang.

Pengalaman regeneratif

Pentas Semegiai Random 02 disutradarai Takahiko Fukui atau lebih dikenal dengan nama Quick. Dalam pentas itu, Muda bertujuan menggambarkan dan menyampaikan beberapa pengalaman regeneratif perihal kehidupan. Seperti memulai sesuatu yang baru setelah tabrakan, dan terus berdiri setelah jatuh ke bawah. Mereka memaparkannya ke dalam pertunjukan yang penuh ritual. Berbagai paduan komponen di dalam pementasan, termasuk musik dan proyeksi video. Sehingga memungkinkan sebuah perasaan stres bisa dilihat maupun dirasakan penonton. Begitu pun pentas Muda kali ini yang berusaha menegaskan kaitan yang erat antara manusia dan alam semesta.

Menurut Takahiko Fukui, bagaimanapun manusia tidak bisa hidup sendirian, tanpa hal-hal materi atau hanya bersembunyi di atas gunung. Manusia pun tidak bisa menyembuhkan luka sesamanya dalam sekejap.

"Sulit untuk berubah dalam keadaan tertekan seperti itu. Namun sesungguhnya ada banyak rahasia di dalam hidup ini yang akan terungkap ketika manusia berjuang demi sebuah perbaikan. Dan kami selalu yakin pada kehidupan. Ada irama di balik alam semesta, yang menjadi gerak atau tarian untuk kehidupan, yang mampu memindahkan seluruh perasaan tertekan tersebut," kata Takahiko. Lewat pentas ini, Takahiko Fukui nyatanya ingin memperlihatkan sebuah tabrakan. Meski nanti akan terlihat banyak tabrakan, sebenarnya tabrakan itu adalah simbol dari alam semesta sehingga prosesi setelahnya pun tidak bisa dielakkan.

"Membangun, tidak ada cara lain selain membangun. Jadi membangun terus. Tidak berhenti membangun. Kita tidak berhenti membangun. Itu bisa dibilang tradisi manusia" terang Quick. Bisa jadi akan muncul pemahaman bahwa lebih penting menjadi diri sendiri. Sekaligus tidak berpaling dari yang utama yakni menjadi bagian dalam kesatuan yang lebih besar.

Menonjolkan keahlian dan ketrampilan individu penampil, sekaligus menguatkan senyawa antarpenampil dalam satu panggung. Sekira 30 menit, penonton disuguhi dengan atraksi tubrukan, kelindan, dan jatuhan. Bukan perkara mudah untuk melalukan adegan seperti itu. Keahlian individu dari masingmasing penampil sangat dibutuhkan. Terlebih, kemampuan untuk bersenyawa dalam kesatuan yang lebih luas. Jika tidak, tabrakan dan jatuhan itu bisa berefek kurang baik.

Mereka merespons sekitar dengan diri dengan tubuh. Benturan dan tabrakan ternyata bisa menjadi pertunjukan yang indah. Begitu pula stres dan khawatir yang dipicu gerak penampil. Sesudah tabrakan lalu apa? Sesudah jatuh lalu apa? Pentas itu tidak mungkin dapat dinikmati tanpa sikap sebalik yakni membangun dan bangun. Begitu pula pemahaman terhadap manusia, tradisi, dan seni. (M-2)

Komentar