PIGURA

Pengadilan Sumir

Ahad, 18 December 2016 06:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

ADA sanggit Ki Manteb Soedharsono yang menarik ketika membawakan lakon Astina Binangun Enggal dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta, Jumat (9/12) lalu, terutama pada sesi ketika Raja Astina Pandu Dewanata mengadili orang kepercayaannya, Patih Gandamana.

Atas dasar patron normatif yang dipegang teguh, yakni sabda pandhita ratu tan kena wola-wali (sabda raja tidak boleh mencla-mencle), Pandu mengadili tanpa keadilan. Yang salah aman, sebaliknya yang menjadi korban kejahatan justru mendapat hukuman.
Gandamana divonis bersalah karena main hakim sendiri terhadap Harya Suman. Kedudukannya sebagai patih pun tanggal. Suman, yang merekayasa kekacauan di Astina dan eksekutor tumbangnya Gandamana, malah lolos dari sanksi. Kedudukannya sebagai patih pengganti Gandamana pun karena telah telanjur dilantik tidak diutak-atik.

Elegi Gandamana itu seperti simbolisasi salah satu anomali di negeri ini. Orang jujur kojur (jujur celaka), sedangkan orang culika, yang disimbolkan Suman, malah melenggang dan menduduki jabatan.

Tercebur sumur

Gandamana ialah putra mahkota Negara Pancala. Ia putra pasangan Prabu Gandabayu-Trilaksmi. Gandamana memiliki kakak perempuan bernama Gandawati yang menikah dengan Sucitra, yang kemudian menjadi raja Pancala berikutnya bergelar Prabu Drupada.

Meski memiliki hak menggantikan bapaknya sebagai penguasa, Gandamana lebih suka mengabdi kepada Raja Astina Prabu Pandu Dewanata. Sebagai kesatria tulen, jalan itu dinilai menantang. Baginya, menjadi bagian dari kejayaan Astina di bawah pemerintahan Pandu merupakan kepuasaan hidup yang tiada bandingan.

Dalam pergelaran tersebut, Ki Manteb mampu meramu jalan cerita dengan apik dan menggugah. Dikisahkan, ada tiga utusan Negara Pringgondani yang bermaksud menyampaikan surat Prabu Tremboko kepada Pandu. Mereka ialah Arimba, Brajadenta, dan Brajamusti. Ketiganya putra Tremboko. Sebelum sampai ke sitinggil, mereka dicegat Harya Suman. Suman mengabdi ke Astina sejak kakaknya, Gendari, dipersunting Drestarasta, kakak Pandu. Suman bertanya kepada tiga pemuda yang berujud raksasa tersebut tentang maksud kedatangan mereka ke Astina.

Arimba berkata dirinya diutus bapaknya, Tremboko, untuk menyampaikan surat kepada Pandu. Suman mengatakan, menurut aturan Astina, raksasa tidak boleh bertemu langsung dengan raja di istana. Suman menawarkan diri untuk menyampaikan surat tersebut kepada Pandu. Ketiga tamu diminta sabar menunggu kabar di alun-alun. Sebelumnya, Suman sempat bertanya, apa isi surat. Arimba dan kedua adiknya mengaku tidak mengetahui persis pesan dalam nawala tersebut. Namun, kata Arimba, bapaknya pernah bilang akan mengundang Pandu datang ke Pringgondani. Tremboko ingin memberitahukan kepada rakyatnya bahwa Pandu adalah gurunya yang telah mewariskan banyak ilmu kepadanya.

Suman lalu menghadap Pandu. Di hadapan sang raja, ia matur ada tiga utusan dari Pringgondani yang ingin menghaturkan surat Prabu Tremboko. Akan tetapi, kata Suman, ketiga duta tersebut malu menghadap karena berujud raksasa dan memintanya untuk menyampaikannya.

Pandu menerima surat dan membacanya. Ia kaget karena isi surat tentang tantangan perang. Pandu tidak menduga Tremboko yang selama ini menjadi muridnya berani lancang. Surat lalu diberikan kepada Gandamana. Sang patih pun langsung naik pitam seusai membacanya dan kemudian bergegas keluar dari pasewakan untuk melabrak utusan Tremboko.

Singkat cerita terjadi peperangan sengit antara Gandamana dan ketiga putra Tremboko. Arimba dan kedua adiknya terdesak dan mundur. Gandamana terus mengejar mereka. celakanya, karena tidak waspada, Gandamana tercebur ke sumur tua. Pada saat itulah kemudian Suman dan Duryudana beserta adik-adiknya (Kurawa yang merupakan putra Drestarastra-Gendari) menimbun sumur dengan batu hingga penuh.

Suman yakin Gandamana menemui ajal. Ia lalu segera melapor kepada Pandu bahwa sang patih telah mati dalam peperangan melawan prajurit Pringgondani. Atas usul Drestarastra dan Gendari, Pandu lalu melantik Suman sebagai patih menggantikan Gandamana.

Pada bagian lain, iba dengan nasib Gandamana, Begawan Landak Putih memberikan pertolongan. Ia mengevakuasinya dari dasar sumur setelah sebelumnya membuat terowongan. Ikut dalam aksi penyelamatan itu Yama Widura, adik Pandu, dan panakawan.
Setelah siuman, Begawan Landak Putih memberi tahu bahwa biang keladi yang membuatnya hampir mati itu adalah Suman. Isi surat Tremboko yang baik diubah menjadi tantangan perang. Itu semua dilakukan karena Suman mengincar kursi patih dan kekuasaan Astina. Gandamana lalu pamit dan nggeblas (lari cepat) ke Astina.

Ia menemukan Suman sedang menyusun skenario busuk berikutnya. Dengan amarah yang meluap, Gandamana menggebuki Suman hingga wadaknya rusak. Sambil merintih menahan sakit, Suman merangkak dan melaporkan kejadian itu kepada Pandu dan memohon pengadilan.
Pandu lalu memanggil Gandamana untuk diadili. Gandamana mengaku terus terang perbuatannya. Itu sebagai hukuman atas kekejaman Suman pada dirinya. Namun, Pandu menolak argumen tersebut.

Kesaksian Yama Widura yang membela Gandamana pun tidak digubris.
Pandu memvonis Gandamana salah. Menurutnya, yang berhak menghukum itu adalah raja. Pandu juga menyatakan Suman tetap menduduki jabatan patih di Astina karena ia tidak bisa mencabut keputusannya. Ia tidak ingin disebut raja yang mencla-mencle omongannya.

Jadi bancakan

Hikmah kisah itu ialah pengadilan yang tidak adil. Pandu telah mengabaikan fakta kebenaran material. Gandamana memang melakukan kesalahan, tetapi sumber kekacauan justru tidak tersentuh oleh hukum.

Suman ialah aktor yang mengubah isi surat Tremboko. Surat yang aslinya berisi tentang undangan dengan penuh hormat kepada Pandu, sekitar harmonisasi hubungan antara murid dan guru, diubah menjadi surat tantangan perang. Suman juga yang membuat Gandamana hampir mati di dasar sumur. Suman juga tidak bisa lepas dari terjadinya peperangan antara Pandu dan Tremboko yang akhirnya sama-sama gugur.

"Hari ini juga saya akan kembali ke Pancala, entah apa jadinya Astina nanti," tegas Gandamana setelah divonis bersalah.
Pernyataan Gandamana itu seperti bertuah. Pascakepergiannya dan gugurnya Pandu, Astina tidak tenteram. Pemerintahan negara diorak-arik Suman sesuai dengan seleranya. Negara jadi bacakan. Astina baru kembali pulih setelah Suman dan Kurawa sirna dalam Bharatayuda. (M-4)

Komentar