Khazanah

Membeberkan Cerita Wayang Beber

Ahad, 18 December 2016 05:00 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

BOLEH dikata, wayang ialah karya yang asli Indonesia. Ada berbagai macam wayang, tetapi di antara yang banyak itu, ada salah satu bentuk pergelaran wayang yang punya keunikan tersendiri. Itulah wayang beber. Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang tertua dari sekitaran 80 jenis wayang dalam kebudayaan Indonesia. Disebut wayang beber karena teknik pertunjukannya dengan membeber atau menggelar gambar-gambar pada gulungan kertas atau kain.

Wayang beber merupakan bentuk yang sangat unik dan spesifi k meski saat ini kurang dikenal. Wayang beber merupakan bagian dari wayang Indonesia yang telah mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientifi c and Cultural Organisation (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia. Pada 7 November 2003, wayang telah diakui sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Wayang beber pertama kali dibuat Prabu Bratana dari Kerajaan Majapahit pada 1361. Ceritanya tentang Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji. Wayang beber berkembang di Jawa Timur sejak permulaan abad ke-15 hingga kini dengan keadaan yang memprihatinkan karena nyaris punah.

Wayang beber ini sebenarnya melukiskan suatu episode cerita rakyat sebagai karya seni lukis Jawa yang sudah punah. Sisa-sisanya dapat diikuti pada relief candi-candi di Jawa Timur. Di ambang kepunahannya, keberadaan wayang beber saat ini masih bertahan di dua daerah, yaitu di Pacitan, Jawa Timur, dengan lakon Jaka Kembang Kuning, dan di daerah Gunung Kidul, Jawa Tengah, dengan lakon Remeng Mangunjaya.

Diperkirakan, usia kedua lakon tersebut mencapai 350-400 tahun. Wayang beber dengan lakon Panji sangat populer pada masa Majapahit. Namun, memasuki masa Mataram Islam, popularitasnya memudar dan kalah oleh wayang kulit purwa. Kini, wayang beber di Indonesia hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, serta Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Tidak banyak yang tahu tentang jenis wayang ini.

Budaya tutur

Wayang beber merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah produk budaya tutur yang menggunakan bantuan visual. Wayang beber sudah dikenal sejak zaman Mataram Islam. Terbukti, wayang beber mempunyai dinamika sendiri. Para seniman di belakang wayang beber terus melakukan inovasi sesuai dengan zaman. Kisaran 1889, wayang beber digelar tanpa diiringi gamelan di Kabupaten Wonosari. Namun, sejak 1901, wayang beber sudah menggunakan gamelan. Bahkan, dunia akademis juga menaruh perhatian pada seni tradisi ini terlebih Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

Mereka juga aktif memamerkan hasil karya, salah satunya ialah Pemeran Wiwara Matra Wayang Beber di Bentara Budaya Jakarta pada 23-26 November 2016. Wayang beber Gunung Kidul mempunyai persamaan dengan wayang beber Pacitan, yaitu bahan dan cerita wayang yang berkisah pada Kerajaan Kediri serta Majapahit. Sementara itu, perbedaan kedua wayang beber tersebut ialah pada isi gambar yang hanya berisi tokoh-tokoh, sedangkan latar belakangnya agak kurang penuh. Meski berbeda penamaan lakon, kedua wayang beber Jaka Kembang Kuning dari Pacitan dan Remeng Mangunjaya dari Gunung Kidul punya pakem cerita yang sama. Kisah percintaan Panji Asmorobangun atau Jaka Kembang Kuning atau Kiai Remeng Mangunjaya dengan Dewi Sekartaji. Demi cintanya, Panji Asmorobangun harus bertarung melawan Klana Sewandana.

Wayang beber ala Pacitan mempunyai 24 pejagong atau babak. Berikut beberapa pejagong dalam wayang beber. Pejagong 1: Prabu Brawijaya merestui permintaan Jaka Kembang kuning untuk mencari dewi Sekartaji yang hilang dari keputren Keraton Kediri. Sementara itu, Prabu Klana Sewandana dari Kerajaan Suroteleng datang melamar Dewi Sekartaji. Pejagong 2: perjalanan Jaka Kembang Kuning dihadang Gonggowecitro, Jaladara, dan Gendrayudha di Argolawu yang ingin mengabdi. Jaka Kembang Kuning menolak, sebab ketiganya adalah mata-mata Klana. Pejagong 3: Tumenggungan Paluombo Ki Demang Conacani bermimpi mendapat wahyu. Dewi Sekartaji diterima sebagai anak oleh Ki Demang. Pejagong 4: Jaka Kembang Kuning menyamar sebagai pengamen kentrung di Pasar Tumenggungan dan melihat Dewi Sekartaji di antara penonton. Pejagong 5: Ki Demang Kuning memerintahkan Tawangalun untuk melaporkan penemuan Dewi Sekartaji kepada Prabu Brawijaya. Pejagong 6-7: Dewi Sekartaji dilamar adik Klana Sewandana yakni Roro Tenggaron. Lamaran ditolak dan terjadi pertengkaran. Pejagong 9-10: Prabu Brawijaya memutuskan diadakan adu tanding untuk mendapatkan Dewi Sekartaji. Klana Mengutus Patih Keba Lorodan untuk bertanding melawan Tawangalun. Pejagong 12: Tawangalun bertanding melawan Kebo Lorodan di alun-alun Kediri dengan disaksikan Prabu Brawijaya dan Klana. Pejagong 13: Tawangalun terluka dalam pertarungan itu. Ia ditolong dan diberi hadiah keris Pasopati oleh Ki Sedahrama. Pejagong 14: Kembali digelar adu tanding Jaka Kembang Kuning melawan Kebo Lorodan di Alun-Alun Kediri. Jaka Kembang Kuning berhasil membunuh lawannya. Singkat cerita, Pejagong 22-24: Prabu Brawijaya memerintahkan Dewi Sekartaji segera dinikahkan dengan Jaka Kembang Kuning. Dewi Kilisuci dari pertapaan Pucangan menikahkan Jaka Kembang Kuning dengan Dewi Sekartaji. Pesta Pernikahan diadakan dengan kembul bujana andrawina (makan bersama). (M-2)

Komentar