MI Muda

Pembelajaran dari Es Krim

Ahad, 18 December 2016 01:00 WIB Penulis: Suryani Wandari

DOK. PRIBADI

RICHARD Theodore bukan cuma belajar wirausaha di kelas, melainkan mengimplementasikannya dalam Ekabi alias Es Krim Kreasi Anak Bangsa Indonesia. Bukan cuma soal mencari untung dan menghitung berapa omzet yang dibukukannya, dari bisnis, Richard pun belajar soal prioritas, menajamkan analisis dan bangkit dari kegagalan.

Kenapa dengan es krim? Apa yang membuat kamu tertarik?

Coba saja bayangkan es krim sudah dikenal dan disukai banyak orang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa. Semua orang bisa makan es krim, termasuk saya yang sejak kecil hobi makan es krim. Untuk itu, saya memilih usaha ini, tapi tentu saja, es krim yang dijual harus unik agar konsumen tertarik membeli.

Bagaimana perjalanan bisnis kamu?

Awal 2015 saya mulai usaha es krim ini, pertama saya buka di kantin sekolah SMK di Balaraja, Tangerang, dengan ukuran 1 x 2 meter. Namun kira-kira setelah 6 bulan, tepatnya 30 Mei 2015, aku coba buka gerai di Mall Ciputra.

Pertama ramai sekali, tapi 2 hingga 8 bulan kemudian makin sepi. Kemudian, buka di sebuah ruko di Pasar Lama no 160 di Jalan Kisamaun Tangerang, berkonsep warung nongkrong. Saya tutup usaha di sekolah tersebut dan membuka 3 cabang lagi, yakni di Mall Ciputra, Ruko Tangerang city, dan di pasar lama itu. Semuanya berkonsep warung nongkrong.

Pembelajaran yang kamu dapat ketika harus menutup gerai?

Pertama, harus teliti dalam membuat kesepakatan, apalagi ketika harus menandatangani kontrak. Karena ketidaktelitian, kami enggak tahu ada ketentuan seperti tidak boleh menambah menu. Kami juga tidak boleh fokus pada satu titik saja, harus berpikir ke jualan, mengikuti tren masa kini hingga menjaga rasa.

Ini bisnis sendiri?

Iya, semua dikelola saya sendiri dari awal, walaupun secara finansial seperti modalnya, dibantu orangtua. Saya namakan Ekabi, singkatan Es Krim Kreasi Anak Bangsa Indonesia, berkonsep es krim kreatif, unik dan sehat.

Modal awalnya?

Saya menggunakan modal awal Rp15 juta dengan bantuan orangtua. Hingga kini respons sangat bagus dari customer. Ekabi memiliki omzet Rp200 hingga Rp250 juta per bulan.

Orangtua kamu mengeluarkan banyak uang untuk modal Ekabi, menurutmu mengapa mereka melakukannya?

Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya sukses karena pasti membawa nama keluarga juga. Selama ini mereka yakin dan saya pun dipercaya karena mereka tahu saya kuat dan mampu. Keluarga adalah investor bagi saya. Makanya saya pikir kenapa enggak coba.

Apa yang istimewa dari Ekabi?

Produk es krim memang sudah banyak di Indonesia, tapi Ekabi ini pelopor yang healthy. Jika biasanya orang suka takut gemuk karena makan es krim, di sini perempuan yang biasa mengkhawatirkan hal itu bisa bebas makan es krim karena bahan yang digunakan susu segar dan UHT dengan kadar lemak di bawah 8%, yang tentunya lebih sehat.

Ada berapa varian rasa?

Kami memakai empat varian saja, yakni cokelat, green tea, red velvet, dan yoghurt. Kami pun hadir untuk mengatasi kebosanan para pecinta es krim dengan tampilan menarik, bukan lagi dengan cone, stik atau cup, tetapi hadir dalam sup es krim cacing, fish es krim, mahkota es krim hingga es krim pot. Hingga sekarang mengapa ada sekitar 20 jenis menu dengan kurang lebih 15 topping.

Harga yang kamu patok?

Jarak harga es krim itu Rp3.000 dan untuk makanan hingga Rp150 ribu. Per cup keuntungan marginnya hingga 50%.

Siapa yang menentukan resep dan desain tampilan?

Semuanya dari saya, baik ide tampilan maupun resep masakan. Enggak ada tim yang menciptakan ide tampilan. Kebetulan saya lulusan SMKN 3 Kota Tangerang jurusan tata boga. Saya juga meraih penghargaan sebagai pegawai magang terbaik saat magang di Hotel Regency Kuala Lumpur, Malaysia. Jadi saya tahu yang sedang tren dan disukai anak muda sekarang.

Biasanya kamu meng-update menu berapa lama?

Salah satu bentuk ancaman yang dikhawatirkan ialah kejenuhan masyarakat mengonsumsi. Dari kuesioner yang kami lakukan setiap 3 bulan sekali untuk mengetahui aspek harga, rasa, kecepatan, keramahan pelayanan hingga berapa kali kunjungan, customer pasti akan minta menu baru lagi lagi dan lagi. Oleh karena itu, Ekabi selalu berkomitmen rutin membuat produk baru dalam dua bulan sekali. Hasilnya tingkat kepuasan kustomer di atas 80%, sepanjang 2016.

Selain es krim, Ekabi pun jual makanan?

Ya, karena kan kebanyakan orang tidak makan es krim di jam makan siang, es krim hanya dikonsumsi sebagai makanan penutup. Makanya di gerai berkonsep warung nongkrong itu, kami melengkapinya dengan menu makanan yang tetap mengambil konsep semenarik mungkin. Ada mi antigravitasi, warnanya hitam, berasal dari arang bambu yang sehat untuk memperlancar pencernaan dan sirkulasi darah. Ada pula roti bakar hitam hingga steak.

Bagaimana kamu menjaga kualitas rasa setiap gerai?

Semua bahan berupa bahan es krim dan sayur untuk masakan dikirim ke masing-masing gerai itu dari dapur sentral dengan setengah jadi. sehingga setiap gerai tinggal meraciknya saja sehingga rasa tidak akan berbeda.

Cara kamu membagi waktu?

Pertama saya tentukan kerjaan mana yang harus dilakukan, lalu tentukan prioritas. Persiapkan dan kerjakan hingga mendapat progres maksimal. (M-1)

Komentar