Inspirasi

Mendulang Energi Ramah Lingkungan

Kamis, 15 December 2016 02:00 WIB Penulis: (AT/M-4)

MI/ARDI TERISTI HARDI

INDONESIA memiliki potensi energi panas bumi yang besar, sekitar 29 ribu megawatt. Sayangnya, baru sedikit yang dikembangkan dan dimanfaatkan. Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi Universitas Gadjah Mada (UGM) Pri Utami mengatakan Indonesia diberkahi dengan energi geotermal karena terletak di sabuk api pasifik sehingga banyak gunung berapi yang aktif dan tidak.

Dari gunung berapi yang tidak aktif bisa diperoleh energi geotermal. "Yang sudah terbukti dan terpasang sekitar 1.400 megawatt listrik yang dibangkitkan dari energi panas bumi," kata dosen Fakultas Geologi Universitas Gadjah Mada itu, Rabu (14/12). Sayangnya, untuk mewujudkan panas bumi menjadi energi diperlukan peran semua stakeholder, baik dari sisi kepakaran para ahli, political will pemerintah, maupun peran serta masyarakat.

Kesempatan pengembangan energi panas bumi di Nusantara sangat cerah. Energi ini merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Yang dibutuhkan mewujudkan energi listrik hanya ekstraksi panas dengan media air. Prosesnya, panas bumi memanasi air yang ada di reservoir dalam tanah untuk menghasilkan uap untuk diubah menjadi energi gerak hingga menghasilkan energi listrik. "Energi panas bumi membutuhkan kelestarian alam. Mustahil (air di dalam tanah) bisa diperoleh kalau lingkungan tidak terjaga, hutan gundul," kata dia.

Keberadaan hutan sangat penting untuk menjaga ketersediaan air di dalam tanah dalam jumlah yang besar. Uap air tersebut tidak dibuang begitu saja, tetapi dikembalikan ke dalam tanah dalam bentuk air melalui sumur-sumur injeksi yang ada. Proses tersebut akan terus berputar, mirip siklus, sehingga energi geotermal termasuk energi terbarukan. "Energi panas bumi ini bersih, mengeluarkan polutan (CO2 dan H2S), yang jauh lebih sedikit daripada yang dikeluarkan tenaga fosil," kata dia.

Energi geotermal pun bisa dimanfaatkan dalam waktu lama. Pri mencontohkan pengembangan energi geotermal pertama kali di dunia dilakukan sekitar 1900-an di Larderello, Italia. Hingga sekarang pembangkit listrik tenaga geotermal itu masih beroperasi dan menjadi andalan penyuplai listrik di Italia. "Bisa dibayangkan, energi geotermal di dalam tanah Larderello tidak mati-mati dan mereka menjaga siklus air dan mengandalkan panas dalam bumi," kata dia.

Di Indonesa, pembangkit listrik tenaga geotermal pertama kali beroperasi pada 1980-an di Kawah Kamojang, Jawa Barat. Hingga kini itu mampu menyuplai energi hingga 1.400-an megawatt. Usaha pengembangan energi panas bumi telah dilakukan, antara lain mengidentifikasi dan menginventarisasi wilayah-wilayah yang potensial untuk pengembangan energi panas bumi, mengedukasi masyarakat tentang manfaat energi panas bumi, dan peningkatan sumber daya manusia.

Dengan langkah itu, risiko kegagalan dalam pengembangan energi panas bumi bisa ditekan serta pembangkit listrik tenaga panas bumi dapat semakin berkembang.

Komentar