Inspirasi

Jatuh Cinta pada Panas Bumi

Kamis, 15 December 2016 01:50 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi

MI/ARDI TERISTI HARDI

KEPUTUSAN dan ketekunan menggeluti geotermal sejak 1990-an telah mengantarnya meraih berbagai prestasi dalam dan luar negeri. Saat berbicara tentang geotermal, tampak sekali antusiasme Pri Utami. Ketertarikannya akan bidang itu tampak saat ia berbincang dengan Media Indonesia di Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (14/12).

Saat berkuliah di fakultas geologi, Pri mengambil keputusan berbeda. Ketika yang lain memilih bidang perminyakan, gas bumi, dan batu bara, Pri memilih studi panas bumi. Ia berpikir energi fosil suatu saat akan habis. Keputusannya itu didasari saat ia bersama keluarga berwisata ke Dataran Tinggi Dieng sekitar 1990-an. Di sana, ia dan keluarga menyempatkan diri berkunjung ke pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Lapangan Dieng.

Pri sempat menyampaikan beberapa pertanyaan kepada petugas di sana terkait dengan pengembangan panas bumi. "Lalu saya semakin yakin, lo kan ada sumber energi yang lain (selain fosil)," kenang dia. Sayangnya, jalannya tidak mudah. Saat itu perkuliahan geologi energi panas bumi belum berkembang. Bahkan saat mengajukan izin penelitian panas bumi ke kantor pusat Pertamina di Jakarta, Pri mengalami penolakan. Ia mengaku karena tidak memiliki banyak pengetahuan akan geotermal.

Pri pun meminta izin mengunjungi perpustakaan Pertamina selama liburan kuliah. "Di perpustakaan itu, saya belajar dan membuat proposal penelitian dan (hingga akhirnya) disetujui," kata dia. Hingga akhirnya, proposalnya disetujui dan ia diizinkan meneliti di lapangan geotermal milik Pertamina. Kegigihannya tidak berhenti di situ. Seusai lulus kuliah dan menjadi dosen di UGM, ia tetap mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan geotermal.

Salah satunya kedatangan para pakar panas bumi dari Selandia Baru ke Indonesia. "Saat itu sekitar 1994, saya ikut kursus mereka (para ahli geotermal dari Selandia Baru)," kata dia. Dari kursus itu, ia semakin mantap melanjutkan studi geotermal di Selandia Baru. Niatnya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Pihak Selandia Baru memberinya kesempatan mengisi formulir pendaftaran kursus. Selama tiga bulan di 'Negeri Kiwi', Pri berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang post-graduate diploma, master, hingga PhD di University of Auckland. "Dasarnya saya suka (dengan bidang geotermal). Jadi saya tidak toleh ke kanan-ke kiri," kata dia.

Penghargaan
Dalam rangka merayakan 40 tahun kerja sama Selandia Baru dan negara-negara ASEAN, mereka mengidentifikasi dan menilai sosok-sosok yang berperan dalam pengembangan ilmu yang dilakukan di Selandia Baru. Dalam perayaan yang tepat pada September 2015, Pri diberi ASEAN-New Zealand Award dari pemerintah Selandia Baru atas upayanya memajukan kerja sama Indonesia-Selandia Baru dalam bidang energi terbarukan, khususnya geotermal.

Selain kiprahnya dalam pengembangan keilmuan, Pri dianggap sebagai sosok yang turut memperkuat hubungan persahabatan Indonesia dan Selandia Baru. "Yang saya lakukan ialah knowledge transfer dari sana (Selandia Baru) kemari (Indonesia) dan dari saya ke sana (Selandia Baru). Sejak 2012, saya mengajar geologi panas bumi untuk mahasiswa pascasarjana di University of Auckland," kata dia.

Kiprahnya tidak sebatas di dua negara itu, tapi juga internasional. Bagi Pri, ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara. Ia sempat mengajar di beberapa perguruan tingi di luar negeri, seperti menjadi dosen tamu di Masaryk University di Republik Ceko dan di Institute for Sustainability and Peace, United Nations University, Tokyo.

Jadi duta
Selain itu, sejak 2015, Pri terpilih dalam 8 Woman in Geothermal Ambassador dari International Geothermal Association. Duta itu muncul agar peran gender dalam bidang geotermal bisa seimbang, antara laki-laki dan perempuan. "Para ambassador ini punya tugas memotivasi generasi muda, terutama para perempuan, untuk tidak takut berkarier di bidang geotermal," kata dia.

Pri menilai bias gender di bidang geotermal di Indonesia tidak ada. Buktinya, sekarang sudah banyak juga perempuan yang berkecimpung di dunia geotermal. Bila dibandingkan dengan awal 1990-an, ahli geotermal asal Indonesia sudah semakin banyak. Namun, itu belum cukup untuk menggarap potensi panas bumi di Tanah Air. "Tugas universitas untuk menghasilkan ahli-ahli geotermal, tetapi tugas perusahaan-perusahaan juga untuk menyerap tenaga-tenaga yang kami hasilkan dan tugas pemerintah untuk memajukan energi geotermal," kata dia.

Tidak hanya materi teknis geotermal yang diajarkan Pri, tapi juga sosial. Misalnya, sejak mahasiswa, mereka diajak untuk turut mengembangkan geotermal secara langsung ke masyarakat. "Mahasiswa KKN (kuliah kerja nyata) mengedukasi masyarakat tentang geotermal," contoh dia. Dengan KKN, mahasiswa dapat belajar secara langsung hubungan perusahaan yang bekerja di bidang geotermal, pemerintah, dan masyarakat.

Salah satu bentuk edukasinya ialah pelaksanaan Indonesian Geothermal Festival di Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara, pada 2015. Di sana juga dibuat taman pendidikan panas bumi agar masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat panas bumi. Ia punya keinginan lapangan geotermal yang ada bisa lebih dikenal masyarakat. Dengan demikian, pembangkit listrik tenaga panas bumi tidak hanya bisa menghasilkan energi listrik, tetapi juga menjadi tempat wisata edukasi bagi masyarakat. (M-4)

Komentar