Lingkungan

Sekolah Berwawasan Lingkungan masih Minim

Rabu, 14 December 2016 04:21 WIB Penulis: Ric/H-2

ANTARA/Dedhez Anggara

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyatakan jumlah sekolah penerima penghargaan lingkungan (Adiwiyata) sangat sedikit. Sejak program yang bersifat apresiasi tersebut digulirkan pada 2006, baru 7.654 sekolah tingkat SD-SMA yang mendapat Adiwiyata. Dengan kata lain, baru 3,2% dari 241.304 sekolah di Indonesia yang berwawasan lingkungan.

Oleh karena itu, diperlukan percepat­an untuk melibatkan lebih banyak sekolah yang peduli lingkungan hingga membuahkan Adiwiyata.

“Sebetulnya, sih, kalau dilihat di lapangan itu, anak-anak sudah konkret. Mereka sudah menerapkan praktik reduce, reuse, recycle. Tapi, saya maunya lebih,” ucap Siti yang ditemui seusai Sarasehan Sekolah Adiwiyata Nasional 2016, di Jakarta, kemarin, yang juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Dalam kesempatan itu, 489 dari 887 sekolah nomine menerima Adiwiyata.

Menurut Siti, dirinya akan merintis kecintaan pada lingkungan di tingkat anak sekolah untuk mempersiapkan kader lingkungan di masa mendatang. Dirinya melihat Afrika yang sukses menanamkan pendidikan politik kepada anak di tingkat taman kanak-kanak.

Salah satu cara yang sudah dibicarakan, lanjut Siti, ialah melalui kurikulum. Menurutnya, penting agar tiap sekolah berkontribusi terhadap lingkungan. “Karena sekarang saya lihat lingkungan ini, kan, sudah rusak.”

Sementara itu, Men-dikbud Muhadjir menjanjikan kenaikan jumlah sekolah nomine. Menurutnya, jika tahun ini terdapat 887 nomine, tahun depan sebanyak 1.500 sekolah harus menerima Adiwiyata.

Hal itu, lanjut dia, sejalan dengan peningkatan sasaran sekolah berpendidikan karakter yang tahun depan juga ditargetkan diikuti 1.500 sekolah. “Pendidikan karakter atau yang di masyarakat dikenal dengan full day school itu salah satu sasarannya ialah menyayangi lingkungan hidup.”

Dikatakannya, kecintaan lingkungan hidup tidak bisa hanya menggunakan indikator keberhasilan di dalam kelas. “Kalau pendidikan lingkungan hidup itu penilaiannya di dalam kelas, dia tidak akan jalan,” ujar Muhadjir. (Ric/H-2)

Komentar