MI Muda

Harmoni dari Ember Bekas

Ahad, 11 December 2016 09:21 WIB Penulis: Syifa Amelia

Teknik Grafika Penerbitan (TGP) -- Dok. Syifa Amelia

NADA yang kompak dan memacu semangat dihasilkan dari ember plastik dan drum besi, mengentak kompak. Tinta perkusi, begitulah mereka menamai komunitas. Berdiri pada 23 April 2014, komunitas ini beranggotakan 240 orang. Semuanya terdiri dari mahasiswa jurusan teknik grafika penerbitan politeknik negeri Jakarta (PNJ).

Tinta merupakan kepanjangan Teknik Grafika Penerbitan (TGP) In a Taste of Art. “Awal mula terbentuk Tinta karena banyak mahasiswa bingung menyalurkan minat bermusik. Akhirnya dibentuklah Tinta sebagai wadah menyalurkan minat. Kami bisa sejenak melupakan penat belajar,” kata Satrio, sang Ketua perkusi.

Bekas yang dipukul
Sobat Muda, perkusi sendiri istilah bagi getaran suara dan nada dari alat musik yang dipukul. Lazimnya, alat yang digunakan untuk perkusi adalah simbal, timfani, drum, dan alat musik pukul lainnya. Namun, Tinta perkusi menggunakan ember dan besi. “Kita pakai alat yang di sekitar kita saja, selama dapat menghasilkan bunyi yang bagus dan enak,” kata Satrio.

Barang bekas itu mereka dapatkan dari tempat rongsokan, dibersihkan lalu dicat dengan warna seragam agar terlihat menarik. Perawatannya dihindarkan dari hujan. Pasalnya, jika terkena air, suara yang dihasilkan tak lagi optimal. Perlakuan lainnya, tidak dipukul asal asalan serta harus sering dimainkan agar peranti musik itu lebih optimal menghasilkan suara.

Menyerupai drum
Satrio dan teman-temannya biasa berlatih di taman dekat kampus mereka yang terletak di Depok, Jawa Barat, setelah mata kuliah usai. Biasanya, sebelum memulai latihan, yang dilakukan tiga kali sepekan, mereka menyamakan pattern atau pukulan dan sticking bersama, agar terbangun nada yang padu, mereka mengistilahkannya chemistry. Dalam perkusi, terdapat beberapa jenis pukulan, yaitu single, double struck, diddle, para diddle, dan para diddle diddle.

Saat berlatih dan tampil, mereka akan membentuk formasi memanjang ke samping. Mereka meletakkan alat dengan berbagai variasi agar menarik. Ada yang menggunakan bambu sebagai penadah dan terkadang mereka ikat di pinggang.

Dipandu seorang komando, mereka mulai memukul ember dengan stik yang mereka genggam. Kedua tangan bergantian memukul ember dan besi, dan terciptalah bunyi yang enak didengar, menyerupai drum.

Pukulannya beraturan, membentuk nada. Meski terlihat mudah, ternyata memainkan alat musik ini butuh konsentrasi penuh. “Musik memang efektif melatih otak kanan dan kiri. Selain itu, kekompakan dibutuhkan agar musiknya enak didengar,” kata Satrio yang bersama timnya terbiasa menggunakan pakaian hitam sebagai penanda TINTA saat tampil.

Pembelajaran Youtube
Untuk instrumen, mereka menciptakannya sendiri. Tanpa pelatih, mereka mencari referensi lewat Youtube dan sesi berbagi bersama senior. Keterampilan bermusik didapat, kekompakan terasah.

Hasilnya, mereka eksis di berbagai acara mulai E-time, Greenday, dan PNJ Goes to School dengan honor Rp400 hingga Rp500 ribu . “Kami gunakan untuk konsumsi dan isi uang kas. Kami senang karena dapat menampilkan karya musik yang unik dan kreatif. Kami ingin menunjukkan alat atau barang yang terlihat tak bernilai bisa punya makna jika dimanfaatkan dengan serius,” ujar Satrio. (M-1)

Komentar