Travelista

Surga Tropis Tapal Batas

Ahad, 11 December 2016 09:12 WIB Penulis: Sumaryanto Bronto

MI/Sumaryanto Bronto

LANTUNAN lagu Broery Marantika berduet dengan Dewi Yull melepas kepergian saya dari dermaga Sri Bintan Pura-Tanjung Pinang, akhir Juni lalu. Perjalanan selama 10 jam mengarui laut China Selatan terbayar dengan pemandangan yang memukau pembuka perjalanan saya di surga barat Indonesia.

Hamparan pepohonan di antara rumah di perbukitan dan beningnya laut serta laguna-laguna yang memisahkan pulau-pulaunya terpampang nyata dari kapal cepat yang saya tumpangi saat bersandar di semenanjung pelabuhan Tarempa, Kepulauan Anambas.

Kepulauan Anambas ialah kepulauan tropis di Provinsi Kepulauan Riau, berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Terdiri dari 255 pulau seluas total 634,37 km2. Sebelumnya pulau ini lebih dikenal sebagai tempat pengeboran minyak dan eksplorasi gas alam di laut lepasnya.

Pada 2013 keelokan Kepulauan Anam­bas menjadikan salah satu pulau menerima Asia’s Top Five Tropical Island Paradises dari CNN. Empat pulau lain ada di Similan (Thailand), Halong Bay (Vietnam), Langkawi (Malaysia), dan Koh Chang (Thailand).

Anambas merupakan kunjungan pertama kali bagi saya. Hari pertama saya habiskan dengan berkeliling di Kota Tarempa. Saya berjalan di antara deretan bangunan tua yang terbuat dari kayu dan terlihat kusam. Itu membawa saya serasa berada di sebuah kota zaman 80-an.

Suasana tenang menyatu dengan harmoni saya rasakan di antara bangunan-bangunan yang berdiri di atas air tersebut, pernah dengar kota bernama Venice di Italia? Kebanyakan jalan di Kota Venice berupa jembatan dan bangunan-bangunan yang berdiri di atas air. Kota Tarempa tampak sekilas dengan Venice meskipun tampak lebih tradisional.

Air Terjun Temburun
Tak jauh dari pusat kota di Tarempa, saya mengunjungi Air Terjun Temburun yang bertingkat tujuh, dari tingkatan air terjun paling atas, di antara angin yang sepoi dan gemericik air yang mengalir terhampar pemandangan laut biru dan pulau-pulau. Seolah melihat lukisan alam di atas kanvas raksasa yang amat memesona itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan pemandangan indahnya bukit yang dialiri air terjun ini.

Tidak jauh dari air terjun saya menyambangi perkebunan cengkih yang merupakan komoditas selain ikan. Pulau Siantan dikenal sebagai penghasil cengkih, karet, dan kelapa. Hasil perkebunan itu menjadi komoditas utama yang menguntungkan masyarakat di sana. Di Tarempa, kaum pendatang juga diberi keleluasaan atas tanah yang ditinggali. Mereka memanfaatkannya dengan menanam sayur, padi huma, dan juga mencari hasil hutan lainnya.

Kedai kopi
Di pengujung hari, di saat bulan mulai merangkak naik dari balik bukit di antara memedarnya cahaya matahari, duduk sambil meneguk segelas kopi memberi kesan tersendiri, terlebih ada penganan khas, mi tarempa.

Sajian ini berupa campuran mi ku­ning, telur, kecambah, serta potongan ikan laut yang digoreng dengan bumbu cabai serta kecap. Selain mi tarempa ada pula nasi dagang, yaitu nasi lemak yang dibungkus daun pisang. Masalah rasa jangan di­ttanya. Saya hampir melahap lima bungkus nasi dagang.

Kedai kopi ialah tempat yang tak pernah sepi pengunjung. Berbagai kedai kopi dapat kita temui. Sebelum terhidang dalam gelas, biji kopi selalu disangrai terlebih dahulu untuk mengeluarkan aroma wangi yang kuat sebelum kemudian digiling dan diseduh. Kedai kopi yang paling terkenal di Tarempa ialah Kedai Kopi Murai di Jalan Hang Tuah. Tak sulit menemukannya karena berada persis di sisi jalan besar. (M-1)

Komentar