Tifa

Buah Tangan dari Aotearoa

Ahad, 11 December 2016 08:24 WIB Penulis: Irana Shalindra

Musikus Jerome Kavanagh tengah memberikan workshop mengenai instrumen musik tradisional Maori, suku asli Selandia Baru, kepada peserta Pegiat Budaya 2016---MI/Irana Shalindra

“LIHAT!” Basith Ibrahim menyorongkan ponselnya kepada saya sambil berseri-seri. Saya melirik ponsel salah satu peserta program Pegiat Budaya 2016 dari kelompok seni visual itu. Ada pesan WA yang tertera.

“Ini balasan dari Christian Pearce, Senior Creature Designer Weta Workshop,” terangnya.

Saya membaca isinya yang kurang lebih mengatakan Pearce telah memperlihatkan portofolio Basith ke atasannya, Richard Taylor, Creative Director dan ­Co-founder Weta Workshop. Taylor rupanya terkesan dan berpesan agar Basith mengirimkan aplikasi­nya di masa mendatang.

Siang itu, Selasa (22/11), rombongan Pegiat Budaya baru saja bertandang ke Weta Cave di ­Wellington, Selandia Baru. Melihat secuplik kreativitas dari studio yang mendunia lantaran kiprahnya di trilogi film Lord of the Rings dan The Hobbit.

Jauh-jauh hari, rupanya Basith sudah mempersiapkan diri. ­Beruntung Pearce menyambut ramah kedatangan dan buah ­karyanya. “Belum tahu prospeknya bagaimana, tapi ini mau menyusun portofolio lagi, mau lebih spesifik desain karakter biar tepat sasaran,” tutur Basith bersemangat.

Ia bukan satu-satunya Pegiat Budaya yang berburu kesempatan. Selama tiga pekan di Selandia Baru, para pelaku seni budaya dari Tanah Air tidak sekadar disibukkan oleh materi program yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama Auckland University of Technology (AUT) itu. Mereka pun giat membangun jejaring. Menggedor pintu peluang di Aotearoa, nama Maori untuk Selandia Baru.

Terbitkan jurnal
Benny Arnas, sastrawan dan penulis naskah dari Sumatra ­Selatan, sudah ancang-ancang menerbitkan jurnal perjalanannya selama di Negeri Kiwi. Naskah yang menurutnya tengah swa­sunting itu akan ia persiapkan untuk terbit dalam bahasa Inggris agar bisa beredar dulu di Selandia Baru.

“Pihak AUT bersedia memfasilitasi penerjemahannya. Mereka sudah membaca salah satu karya saya The Old’s Man Flower Garden dan tertarik untuk dialog budaya, pembacaan cerita dan sebagainya. Itu bisa ditindaklanjuti nanti,” bebernya.

Ia menargetkan naskah tersebut untuk final pada bulan ini. Harapannya, buku mengenai pandangan personalnya tentang sisi-sisi kehidupan selama tiga pekan di Selandia Baru itu bisa dirilis pada saat Festival Indonesia Auckland di Auckland, April 2017.

Tahun depan pun, Selandia Baru akan kembali menyambut Parrisca Indra Perdana. Penari dari Pasuruan itu membuat kesengsem New Zealand Dance Company saat membawakan Remo ketika mentoring di studio tari itu.

“Tarian itu banyak teknik kaki, tangan, dan mata. Mereka berpikir kok beda ya, makanya mereka ingin kerja sama untuk Festival Tempo, Oktober tahun depan,” kata dia.

Bukan hanya seniman Indonesia yang ingin berkolaborasi dengan datang kembali ke Selandia Baru. Sebaliknya pun terjadi. Musikus tradisional Maori, Jerome Kavanagh, siap datang ke Indonesia untuk berkolaborasi dengan para Pegiat Budaya.

“Kita akan melakukan kolaborasi, workshop dan jika memungkinkan, rekaman bersama,” terang Markus Rumbino dari kelompok musik. (Sha/M-2)

Komentar