PIGURA

Ujaran Welas Asih

Ahad, 11 December 2016 08:20 WIB Penulis: Ono Sarwono

Grafis/MI

UJARAN kebencian (hate speech) di segala medan akhir-akhir ini sungguh saru dan kelewat batas. Nyaris tiada jeda, selama 24 jam dalam sehari, orang saling melepaskan syahwat kebencian. Kian dekatnya pilkada, intensitas dan muatan kebenciannya pun semakin menggidikkan.

Pertanyaannya, kenapa di antara kita kok gemar menyebar kebencian. Apakah mesti dengan ini untuk mengeksekusi ambisi?

Apa pun argumentasi mereka, secara moral mereka yang nyandu menghamburkan kebencian ialah pribadi-pribadi sakit. Lalu, dalam perspektif kebangsaan, perilaku peyoratif ini mengancam kerukunan dan persatuan.

Jadi, apa iya, karena kepentingan pragmatis sesaat (politik) kita mengubangkan diri untuk saling membenci sesama anak bangsa? Apakah tiada cara lain yang beradab? Bukankah untuk kemenangan sesungguhnya bisa digenggam dengan ujaran dan perilaku welas asih (kasih sayang)?

Hidup berdarma
Dalam kisah wayang, produk budaya kita yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, ada contoh klir tentang kemenangan hidup yang diraih dengan ujaran dan perilaku welas asih. Selamanya, sang pemenang ini memang tidak pernah prei dari paham adem-ayem tersebut.

Tokoh eksklusif itu bernama Puntadewa alias Yudistira. Berbasis garis perjuangannya yang tidak kaprah itu, Puntadewa njayeng bawana, terkenal di seluruh jagat. Bahkan, berkat kebersihan jiwanya, ia diceritakan naik ke nirwana tanpa melewati proses kematian.

Puntadewa ialah sulung keluarga Pandawa, lima putra pasangan Pandudewanata-Kunti/Madrim. Raja Negara Amarta ini kondang sebagai titah antikekerasan, baik verbal maupun nonverbal. Karena itu, ia tidak memiliki musuh sehingga mendapat tambahan nama Anjatasatru.

Dalam kesehariannya, Puntadewa bersahaja dan tidak pernah berlagak-lagu sebagai seorang yang berkuasa. Kepada siapa pun, ia bersikap rendah hati, murah hati, ramah, sopan, dan santun. Tidak sekali pun ia mempertontonkan kebesarannya. Ia sangat dekat dengan rakyat.

Ceritanya, sejak kecil hingga remaja, saat masih bertempat tinggal di Istana Astina, Puntadewa tekun belajar, terutama membaca kitab suci dan buku-buku spiritual. Kebiasaannya ini berbeda dengan saudaranya, seperti Bratasena dan Arjuna, yang lebih suka menggeladi fisik.

Maka, tidak aneh bila sejak belia Puntadewa sudah paham akan makna kehidupan. Ia menemukan keyakinannya bahwa hidup sesungguhnya untuk beribadah, lakunya berdarma. Dan untuk berbuat kebajikan itu, lambarannya ialah rasa welas asih. Karena itu, jangankan membenci, untuk bersikap tidak suka saja, Puntadewa tidak kuasa. Keluhuran budinya ini bukan hanya menyasar sesama manusia, melainkan terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Tapa bratanya ini sudah teruji dalam sepanjang perjalanan hidupnya. Mulai yang berkadar biasa hingga yang mengancam jiwa-raganya, adik-adiknya, serta ibunya yang sangat ia bekteni (hormati), Kunti Talibrata. Puntadewa tidak pernah mundur dari welas asihnya. Inilah yang kemudian publik menjulukinya sebagai kesatria berdarah putih.

Di antara rentetan ujian itu ketika ia bersama saudaranya (Pandawa) terusir dari Istana Astina, tempat ia lahir dan merupakan warisan orangtuanya. Ini akibat langkah politik Kurawa yang menguasai takhta Astina dengan paksa. Namun, Puntadewa tawakal. Ia tidak melawan untuk mempertahankan haknya. Ia menyilakan Kurawa (Duryudana) berkuasa.

Ujian yang lebih mengerikan saat bersama saudara dan ibunya menjadi target pembasmian hidup-hidup. Lagi-lagi, pelakunya Kurawa yang diarsiteki pamannya, Sengkuni. Dalam keadaan tidur, tempat tinggal mereka dibakar hingga ludes jadi abu. Kodratnya, dewa masih melindungi Pandawa sehingga selamat tidak kurang satu apa pun.

Berangkah Puntadewa? Tidak. Ia hadapi biasa saja, tanpa rasa benci atau dendam. Malah, dengan welas asihnya juga ia menetralkan emosi Bratasena yang berniat membalas perbuatan jahat Kurawa.
Lalu, setelah sekian lama, ujian kembali datang. Puntadewa diundang Kurawa bermain dadu. Ketika itu, Pandawa telah memiliki negara dan istana Amarta. Main dadu ialah kesukaan Puntadewa saat masih kecil.

Bratasena membujuk kakaknya agar menolak ajakan itu. Ia meyakinkan Puntadewa bahwa itu hanyalah taktik tengik Kurawa untuk menistakan Pandawa. Namun, Puntadewa tidak mengindahkannya. Ia malah menasihati adiknya untuk tidak bersikap suuzan kepada siapa pun.

Namun, kenyataannya, Kurawa benar-benar liar, melakukan tipu muslihat dalam permainan dadu. Tidak tahukah Puntadewa bahwa dirinya menjadi objek permainan Kurawa? Tahu, Puntadewa paham. Namun, ia tidak memprotes dan terus meladeni hingga titik akhir, yakni lepasnya Istana Amarta sebagai taruhannya. Malah, ia juga merelakan istrinya, Drupadi, dijadikan objek pelecehan habis-habisan oleh Kurawa.

Atas semua peristiwa pahit yang menimpanya, Puntadewa lahir batin ora apa-apa (rapapa). Tidak sedikit pun menunjukkan kesusahan atau penyesalan. Semuanya itu ia balas dengan senyum dan welas asih. Ia tetap menghormati Kurawa sebagai kakak.

Dalam lelakon pilu itu, Puntadewa membisiki adik-adiknya--Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa--agar tidak membenci Kurawa dan Sengkuni. Ia mewejang, tidak ada dasarnya tidak welas asih kepada siapa pun meskipun mereka menjahati. Sepahit dan sekejam apa pun perbuatan orang pada dirinya, mesti tetap direspons dengan welas asih.

Pendirian ‘aneh’ ini telah menjangkar dalam jiwanya. Apa pun yang terjadi, bahkan kehancuran sekalipun, bila itu merupakan konsekuensi dari laku welas asihnya, ia legawa. Watak model ini memang sulit dimengerti titah sawantah (orang kebanyakan). Ini hanya bisa dipahami kaum sufi.

Sifat noninsani
Pada akhir kisahnya, Puntadewa tetap menjadi pemenang, raja Amarta. Bahkan Pandawa unggul atas Kurawa dalam perang Baratayuda sehingga mereka bisa kembali ke tanah kelahirannya, Astina.

Itulah sekelumit kisah simbolik tentang manusia yang menjalani kehidupannya dengan welas asih. Fitrahnya, semua manusia memiliki watak welas asih. Namun, mengejewantahkannya memang tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan, yakni ‘pengorbanan-pengorbanan’ yang berkelindan dengan keluhurannya.

Kemuliaan manusia hanya bisa dibangun dengan nilai-nilai budi manusianya sendiri. Jangan karena ambisi-ambisi kefanaan (kekuasaan), lalu alpa segalanya-galanya sehingga pada akhirnya sifat-sifat noninsani yang menguasai. (M-4)

Komentar