Jeda

Menembak Hati, bukan Badan

Ahad, 11 December 2016 07:32 WIB Penulis: Rio/BU/M-3

Grafis/Caksono

WAKAPOLRES Jakarta Timur yang baru saja menjabat Pemeriksa Utama RO Provos dan Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Mabes Polri, AKB Arif Rachman, memahami benar pentingnya pendekatan agamais dan psikologis dalam merangkul umat. Karena itu, ia mengembangkan dan sudah menerapkan metode tersebut sejak menjabat Kapolres Garut pada 2013, termasuk dalam penanganan aksi massa.

“Saya selalu bilang dan ajarkan kepada anak buah saya, kalau sedang mengamankan aksi demo itu tembak hatinya, bukan badannya. Karena yang demo itu adalah saudara kita juga, tidak perlu dilawan denan kekerasan,” kata Arif.

Arif menjelaskan metode yang digunakan ialah memadukan pendekatan accelerate culture transformation (ACT) dan asmaul husna. Pendekatan ACT juga memasukkan empat metode dari ilmu psikologi massa, yakni matching, mirroring, facing, dan leading.

“Matching itu menggunakan pakaian yang sama dengan peserta aksi. Mirroring yaitu melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Facing itu berhadapan dengan tampang yang selalu menebar senyum serta leading yakni membimbing peserta aksi supaya tidak mudah terkena provokasi,” runutnya.

Selain itu, Arif melatih para anggotanya untuk menghafalkan dan memahami 99 sifat Allah SWT. Asmaul husna tersebut dilantunkan dan diharapkan dapat menyejukkan hati pedemo.

Metode itu diterapkan saat penanganan aksi massa di Pemilihan Umum Bupati 2013, Pemilihan Legislatif 2014, dan Pemilihan Presiden 2014. Di berbagai momen itu, metode Arif dinilai cukup efektif.

ESQ dan mendatangkan ustaz
Di Brimob Polda Jawa Barat, yang membentuk pasukan asmaul husna sejak 2008, pelatihan kepada anggota Brimob diawali dengan pelatihan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ).

“Pada saat itu kita semua anggota (Brimob) di ESQ (emotional spiritual quotient) sehingga kita dizerokan (dikosongkan) semua pikiran kotor kita dan akhirnya hati nuranilah yang dipanggil untuk menghadapi situasi kita sehari-hari,” jelas Kepala Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Barat AKB Widodo.

Selain itu, berbagai kegiatan agama menjadi bagian rutinitas anggota, termasuk salat berjemaah, wiridan, dan pengajian. Dalam pengajian itu berbagai ulama dan ustaz diundang memberi tausiah, salah satunya Ustaz Kohar Nurjaman dari salah satu ormas Islam.

“Efek dari ini para anggota semakin dekat dengan Allah dan para anggota semakin tidak melakukan pelanggaran,” tambah Budi.
Meski sudah memiliki bekal agama, Widodo mengakui saat aksi tetap saja mental pasukan diuji, terutama pada aksi 2 Desember di saat kemarahan massa dirasakan cukup tinggi.

“Ketika kami datang ke lokasi pun kami disoraki. Namun, kami sampaikan kepada mereka bahwa kami ini sama umat muslim dan ingin berdoa, mengagung-agungkan asma Allah secara bersama-sama. Nah setelah kami sampaikan itu kemarahan dari para aksi sedikit mereda,” kenangnya. Dengan keberhasilan itu, pasukan asmaul husna pun makin mantab menjalani perannya. (Rio/BU/M-3)

Komentar