Weekend

Keluarga Terakhir Kota Lama

Ahad, 11 December 2016 01:45 WIB Penulis: Ramadani

MI/Ramdani

DI ruang keluarga yang sekaligus ruang tamu, Yogi Chan, 57, duduk santai menonton televisi bersama istri dan anaknya. Sekilas itu seperti gambaran keluarga lain yang harus berhemat ruang di rumah mungil. Namun, kondisinya jadi mengherankan karena rumah itu sama sekali tidak kecil. Luas mencapai 800 meter persegi.

Sayangnya, banyak bagian rumah yang tidak dapat digunakan, seperti lantai dua yang kosong berlapis debu tebal.

Di sana-sini pun terlihat tembok yang mengelupas, talang air kero pos, jendela dengan kaca pecah, bahkan genangan air yang warnanya sudah kehijauan. Rumah keluarga Chan memang terletak di kawasan Kota Lama, Semarang, yang langganan disapa rob.

Yogi mewarisi rumah berarsitektur gaya abad ke-17 itu dari ayahnya, Chan Dyoen Hwa, yang seorang perantauan dari Tiongkok. Selain sebagai tempat tinggal, Chan Dyoen menggunakan rumahnya untuk gudang penyimpanan rotan.

Keluarga Yogi kini satu-satunya keluarga yang tersisa di kawasan yang didirikan di abad ke-19 tersebut. Bangunan lainnya sudah berubah jadi perkantoran, kafe, atau bahkan dibiarkan kosong. Rumah Yogi kerap dijadikan objek foto oleh teman-teman dua anaknya. Namun, kebanggaan akan arsitektur bangunan tetap tidak mampu menutupi kenyataan beratnya biaya perawatan bangunan.

"Kalau ada yang mau dan harga cocok, maunya sih dijual, pindah ke tempat lain meskipun banyak kenangan di rumah ini," aku Yogi sambil menunjukkan potongan koran berisi pemberitahuan ketika ibunya, Tan Mi Kiauw Neo, 90, meninggal pada 2014.

Beban Yogi sesungguhnya juga gambaran akan beratnya sebuah kawasan bersejarah untuk ber tahan. Tanpa bantuan pihak lain, bukan saja penghuni yang akan 'tersapu' oleh rob, melainkan juga kawasan yang sering di sebut Outstadt atau Little Netherland itu. (M-3)

Komentar