MI Muda

Timun Mas Eksis di Eropa

Ahad, 11 December 2016 01:30 WIB Penulis: Patrick Vicenzo Universitas Bina Nusantara

Dok. Pribadi

SUDAH menonton film pendek Timun Mas belum? Biar sah jadi anak gaul yang mengapresiasi karya sineas animasi muda lokal, tonton dong!
Muda menjumpai sang penciptanya, Fritz Malindo Wijaya, jebolan Desain Komunikasi Visual peminatan Animasi Universitas Multimedia Nusantara untuk mengungkap berbagai perjuangannya menembus aneka festival. Pencapaian terakhirnya ialah Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016. Simak, ya!

Lagi sibuk apa sekarang Fritz?
Sekarang lagi bikin film lagi dan sedang membuat studio sendiri. Di samping menggeluti dunia film, saya juga freelance 3D modeling untuk gim, 3D printing dan film juga sih.

Sejak kapan jadi filmmaker?
Sejak kuliah semester 5-an, itu yang mulai serius. Namun, mulai belajar bikin film sudah dari SMA, awalnya sih ya mungkin hampir sama dengan orang-orang lain kali ya, karena senang menonton film, terutama animasi. Lalu terus kepikiran gimana sih buatnya? Akhirnya cari di Youtube dan internet, terus coba-coba sendiri. Ternyata senang dan menikmati! Dari situlah jadi filmmaker.

Motivasi jadi filmmaker?
Ingin melestarikan sekaligus memperkenalkan kultur Indonesia ke ranah luar. Saya lihat kultur Indonesia sebenarnya banyak disukai sama orang luar terutama, batik dan wayang, tapi tidak ada yang mencoba menginovasikan.
Wayang, misalnya, sejak dulu hingga kini tampilannya tak pernah berubah. Kalau kita lihat di Jepang, Amerika, bahkan Tiongkok, mereka selalu menciptakan inovasi agar regenerasi itu berjalan. Jadi itu tujuan utama saya.
Saya akan fokus ke batik, patung, dan makhluk halus ala Indonesia.

Apa genre film kamu?
Genre yang biasa saya garap itu biasanya fantasi. Yang sering sekali saya buat itu fantasi drama, bisa dinikmati semua umur.

Proses kerja yang kamu tempuh?
Pertama cari inspirasi apa yang mau dibuat, riset. Misalnya dongeng Timun Mas, saya pilih yang terbaik ceritanya, dirombak hingga sesuai versinya.
Berikutnya, menulis naskah lalu dibagi ke tiga divisi praproduksi, yaitu visual, detailing cerita, dan musik. Setelah itu, masuk ke produksi, pembuatan aset, animasi, sampai akhirnya rendering. Lalu baru lanjut compositing.
Gambar yang terpisah digabungkan lalu dilakukan color balancing agar warnanya lebih bagus. Lalu, kita masuk ke sound mixing yaitu memasukkan suara dan musik ke film. Terakhir, final editing, gambar, dan suara yang tidak perlu, kita buang dan yang harus diperpanjang kita tambah.

Penghargaan apa sih yang pernah kamu raih?
Baru satu sih, dan itu kategori umum. Namun, kalau untuk festival sendiri, sudah diputar di 12 film festival. Yang pertama itu di Republik Ceko, di salah satu festival film tertua di dunia, lalu di Spanyol, Italia, Amerika Serikat, dan Brussels, terus di Tiongkok juga film saya pernah diputar.

Gimana ceritanya film kamu bisa ikut festival?
Pas masih mahasiswa itu masih polos. Jadi ikut saja registrasi, registrasi dan registrasi gitu. Pertamanya ditolak 150 film festival.
Pokoknya sudah galau habis. Eh tiba tiba, masuklah akhirnya setelah registrasi ke salah satu festival.
Nah pas di cek ternyata itu salah satu festival film tertua di Eropa, umurnya sudah sekitar 47 tahun. Dari situlah langsung merembet deh ke mana-mana.

Ceritakan dong prosedur ikut festival film?
Setiap festival beda aturan, tapi kesamaannya, harus mengirim film kita lewat internet atau CD dan biodata. Untuk penjuriannya, ada juri yang menyeleksi ribuan film hingga menghasilkan shortlist nominasi. Ada juga festival yang didasarkan voting.

Karya yang paling berkesan?
Untuk saat ini masih Timun Mas. Karena buatnya juga agak repot. Ini awalnya untuk tugas akhir. Timun Mas ini banyak permasalahan, namnaya juga tugas akhir.
Running time-nya 7 menit 28 detik. Tekniknya 3D shell shading, membuat 3D menjadi mirip 2D. Ini sering dipakai orang yang menyukai style 3D agar lebih artistik supaya 3D-nya benar-benar terlihat seperti digambar dengan tangan.
Ceritakan dong tentang Timun Mas?
Temanya jelas folklore karena itu kan cerita anak-anak, dari Jawa Tengah. Akan tetapi, saya masukkan juga tema visualnya, yaitu wayang. Namun, wayangnya bukan wayang yang biasa kita lihat, saya re-invent lagi biar anak-anak jadi lebih suka. Mungkin ini agak kontradiksi karena waktu itu saya sempat bermasalah kenapa harus wayang visualnya, tapi ternyata di Eropa sana, mereka amat suka.

Gimana proses pembuatannya?
Prosesnya itu sekitar 4 sampai 5 bulan karena ini juga buat tugas akhir. Kalau ditanya buatnya di mana, itu di rumah dan sendirian. Jadi orang luar juga cukup kaget karena seluruh produksi yang buat saya semua.
Jadi kalau nanti Anda menonton itu, kreditnya agak lebay karena namanya saya semua ha ha ha. Biayanya kisaran Rp2 juta tapi worth it sekali karena hasilnya kan bisa keliling Eropa. Dalam sekitar 10 bulan, sudah masuk 12 film festival, menurut saya itu cukup baik.

Keuntungan yang didapat dari Timun Mas?
Keuntungan sepuluh kali lipat dari modal, tapi utamanya bukan uang, melainkan lebih kepada kesempatan yang terbuka. Orang lebih terbuka dengan film-film saya dan jadi punya kesempatan untuk membuat yang berikutnya.

Target berikutnya?
Film layar panjang animasi tentu jadi agenda jangka panjang. Namun, untuk film pendek berikutnya saya membuat Orok, menceritakan dunia berbeda, fantasi, di saat semua yang hidup di sana adalah spirit atau makhluk halus.
Dunia animasi Indonesia masih naik turun, kita harus sangat terbuka karena ini seni yang akan selalu berubah atau bertumbuh, mesti open pada software atau cara pembuatan yang baru.
Saya juga ingin buat studio yang menghasilkan cerita Indonesia agar anak-anak negeri ini tahu. Saya lihat animasi di luar pun mencoba membuat karakter atau cerita lebih beragam. Salah satunya, film Disney yaitu Moana tentang putri dari Polynesia.
Kita tidak perlu mengincar style jepang atau superhero, bisa menemukan style sendiri. Menurut saya, sudah saatnya secara internasional orang mengenal Indonesia.

Pandangan kamu tentang animator Indonesia?
Indonesia sudah bagus karena ada beberapa orang Indonesia yang membantu mengerjakan film-film luar, seperti Moana dan Shrek, itu ada animator kita yang terlibat.

miweekend@mediaindonesia.com

Komentar