Maritim

Refugia Ikan di Laut China Selatan

Sabtu, 10 December 2016 06:31 WIB Penulis: Bintang Krisanti

AFP/INDONESIAN NAVY

BERBAGAI lokasi di perairan Laut China Selatan (LCS) telah menjadi saksi konflik berulang antara nelayan dan angkatan laut dari negara-negara yang mengelilingi perairan itu.

Di perairan sekitar Karang Scarborough, nelayan Filipina berulang kali bertegang dengan angkatan laut Tiongkok.

Sementara itu, di titik lain, nelayan Tiongkok berlayar hingga memasuki kawasan perairan Indonesia. Konflik pun tidak terhindarkan.

Perairan LCS dan sekitarnya memang menjadi daerah 'panas' karena memiliki berbagai sumber daya alam.

Perairan dengan luas sekitar 3 juta kilometer persegi dan dikelilingi 10 negara itu menyumbang 10% kebutuhan ikan global.

Namun, belakangan ini aroma konflik mulai sedikit berganti.

Negara-negara LCS nyatanya dapat pula menjalin kerja sama untuk menjaga sumber daya ikan di sana.

Kerja sama itu terbentuk melalui inisiatif pembentukan sistem regional refugia ikan di Laut China Selatan dan perairan Teluk Thailand.

Seperti dilansir situs Pusat Pengembangan Perikanan Asia Tenggara (Seafdec), pada bulan lalu, inisiatif itu dibuat untuk melindungi perairan seluas sekitar dua juta hektare yang ada di LCS dan perairan Teluk Thailand (TT).

Wilayah-wilayah perairan yang masuk program merupakan wilayah yang dianggap penting dalam siklus sumber daya perikanan.

Inisiatif itu diikuti Indonesia, Kamboja, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Sementara itu, pendanaan datang dari Global Environment Facility (GEF) (US$3 juta) yang diimplementasikan Program Lingkungan PBB (UNEP).

"Menyelamatkan habitat yang penting tidak hanya akan meningkatkan dan menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga membangun ketahanan mereka yang menggantungkan hidup dari laut," tutur Isabelle van der Beck dari UNEP.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Seafdec, Kom Silapajarn, menjelaskan inisiatif tersebut melengkapi inisiatif lebih luas yang dijalankan lembaga tersebut, yakni pengelolaan kapasitas perikanan dan efisiensi energi di operasional kegiatan perikanan.

Seafdec juga memiliki program untuk pembuatan lisensi alat tangkap dan sistem registrasi, mendorong pendekatan berbasis HAM dalam manajemen perikanan, dan menjalankan rantai suplai perikanan yang lestari.

Tiga Lokasi di Indonesia

Keikutsertaan Indonesia dalam inisiatif refugia ikan di LCS-TT dinyatakan pula oleh Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Achmad Poernomo.

Kepada Media Indonesia, Kamis (1/12), Achmad mengatakan ada tiga lokasi perairan Indonesia yang disepakati masuk di inisiatif itu.

"Dari rencana 4, disepakati menjadi 3, yaitu Kepulauan Riau di Tambelan-Bintan, Bangka-Belintung (Babel), dan Bengkayang-Kalimantan Barat," jelasnya.

Pada tiap-tiap daerah itu terdapat target sumber daya perikanan yang dilindungi.

Di wilayah Tambelan-Bintan serta Babel, program akan berfokus pada ikan pelagis kecil.

Sementara itu, di perairan Bengkayang, jenis sumber daya ikan yang dilindungi ialah udang penaeid.

Saat ditanyakan apakah program tersebut dijalankan dengan pembuatan musim tangkap atau kuota penangkapan, Achmad menampiknya.

"Bukan seperti itu. Tepatnya melindungi satu kawasan perairan yang sumber daya ikannya kritis karena eksploitasi berlebih, sampai pulih kembali," tambahnya.

Namun, Achmad belum menjelaskan kapan tepatnya inisiatif tersebut akan dijalankan.

Saat ini program yang dijadwalkan berlangsung selama 2016-2020 tersebut berada masih dalam tahap persiapan.

Negara-negara lain juga masih ada dalam tahapan penentuan lokasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Langkah serupa juga dilakukan pemerintah Kamboja.

Kepada situs Seafdec, Ouk Vibol dari Badan Pengelola Perikanan Kamboja berpendapat inisiatif tersebut menunjukkan komitmen kuat dari negara-negara LCS untuk menanggapi permasalahan stok ikan dan keanekaragaman biologi.

Karena melihat komitmen negara-negara LCS, Sekretariat GEF pun memberikan pujian.

"Pemerintah negara-negara Asia Tenggara dan Seafdec harus diberi pujian untuk keseriusan mereka dalam mengembangkan dan menerapkan pendekatan yang inovatif untuk pengelolaan stok ikan," tutur Christian Severin, Kepala Bidang Perairan Internasional di Sekretariat GEF.

Severin percaya keberhasilan inisiatif tersebut akan berdampak signifikan pada lingkungan global, baik dalam kelestarian sumber daya perikanan maupun keanekaragaman hayati.

(M-1)

Komentar