Maritim

Tembok yang Mendatangkan Air di Gede Pangrango

Sabtu, 10 December 2016 06:21 WIB Penulis: Big/M-1

MI/BINTANG KRISANTI

BUHARI dan Eman Suleman bersemangat memimpin jalan menuju sebuah lokasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Lokasi itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari perbatasan TN dengan Desa Cihanjawar, Sukabumi, Jawa Barat.

"Ini tempatnya yang dulu bekas kebun dia (Buhari). Subur soalnya dulu dikasih pupuknya banyak. Pupuk kandang," tutur Eman, Rabu (23/11).

Jika diperhatikan benar, pepohonan di area yang ditunjuk Eman memang tampak lebih rimbun jika dibandingkan dengan area lainnya meski jenis pepohonan yang tumbuh tidak berbeda, di antaranya janitri, rasamala, manglid, dan suren.

Buhari mengaku memang hampir satu dekade lalu bertanam kacang di lokasi itu.

Mata pencaharian itu terpaksa dihentikan sejak lokasi tersebut masuk tahapan area perluasan TNGGP yang dimulai pada 2003, yang totalnya mencapai sekitar 7.000 hektare di bekas kawasan Perhutani.

Dengan itu, luas total TNGGP menjadi 24.278,85 hektare.

Eman merupakan Pasukan Pengamanan Masyarakat (Pam) Swakarsa yang mengimbau para perambah, termasuk Buhari, agar tidak lagi berkebun di kawasan TNGGP.

Selain ilegal, kegiatan berkebun itu tidak mendukung langkah perbaikan ekosistem TNGGP.

"Ya ada juga yang marah, katanya memang saya mau ngurusin urusan dapur mereka. Akan tetapi, lama-lama pada ngerti kalau hutan rusak, anak cucu kita nanti bagaimana?" tutur Eman soal sikap para perambah yang kebanyakan juga tetangganya sendiri.

Buhari tidak hanya berhenti merambah, tetapi kemudian menjadi Ketua Kelompok 18 di Program Green Wall.

Kelompok ini bekerja merestorasi ekosistem bekas lahan Perhutani itu dengan cara menanam pohon.

Program kerja sama Balai Besar TNGGP dengan Conservation International (CI) Indonesia itu dimulai pada 2008.

Sekarang ini telah tertanam sekitar 120 ribu pohon hutan di area seluas 300 hektare.

Jumlah warga desa yang merambah di TNGGP pun terus berkurang dari semula 800 orang menjadi tinggal 238 orang.

Para mantan perambah yang bergabung ke kelompok Green Wall mendapat upah dari setiap pohon yang mereka tanam.

Selain itu, per kelompok, mereka mendapatkan pinjaman induk kambing bergilir dan bantuan benih ikan nila serta bawal air tawar.

Bantuan usaha ternak dan perikanan inilah yang sebenarnya paling diharapkan Buhari.

Menurutnya, tidak banyak mantan perambah yang punya kebun di luar taman nasional.

"Anggota saya 16 orang, yang punya kebun di tempat lain hanya 5. Jadi yang lain ya kerja serabutan. Makanya pengin dapet induk kambing, tapi ini belum dapet giliran," tutur pria 45 tahun itu.

Mata air baru

Meski bantuan induk kambing masih dinanti, sesungguhnya ada manfaat lain Program Green Wall yang telah dirasakan, bahkan oleh warga yang lebih luas. Dampak itu ialah munculnya mata air baru.

"Sejak tutupan hutan diperbaiki, sudah muncul dua mata air baru," ujar Anton Ario, Gedepahala Program Manajer-CI Indonesia.

Dengan itu pula CI, TNGGP, dan didukung Daikin membangun jaringan distribusi air bersih sejak 2012.

Di Kampung Panyusuhan, Desa Cihanjawar, misalnya, terdapat stasiun air bersih yang terdiri dari 3 torn dengan masing berkapasitas 1.100 liter.

"Mata airnya sekitar 7 km dari sini. Kita bikin pemipaan dari sana. Dulu warga kalau mau mengambil air harus jalan kiloan meter," tutur Anton. Ia menyebutkan debit air dari sumber TNGGP itu mencapai 3,5 liter per detik.

Pengoperasian distribusi air sendiri diserahkan kepada warga. Hari itu pun kami menjumpai Syarif yang bertugas sebagai pengelola stasiun air.

Di pundaknya terletak nasib ketersediaan air untuk 300 kepala keluarga.

"Pertama pagi-pagi saya salurin untuk 15 KK yang di atas sini. Habis itu baru yang di bawah," ujar pria 56 tahun itu seraya menunjukkan cara pemasangan pipa sumber air ke pipa-pipa yang mengarah ke rumah warga.

"Alhamdulillah, sekarang pun pas musim kering air tetap bagus," tukasnya.

Untuk penyediaan air itu, tiap keluarga membayar Rp5.000 per bulan yang kemudian digunakan untuk perawatan stasiun air dan jaringannya.

Stasiun air serupa juga terdapat di Kampung Lamping dan Kampung Pasir Buntu.

Anton mengatakan kemudahan akses air bersih itu diharapkan menjadi penyadaran nyata pada masyarakat akan pentingnya menjaga hutan.

"Jadi mereka merasakan benar manfaat dari hutan yang bagus. Dari situ diharapkan dengan sendirinya mereka mau ikut menjaga hutan."

Manfaat nyata itu pula yang diapresiasi Kelapa Desa Cihanjawar Dodi Rahmat.

Menurutnya, 50% dari 6.335 jiwa yang hidup di desa itu memang tergolong miskin.

Sebab itu mereka sangat berharap perluasan TNGGP bisa membantu kehidupan sehari-hari, bukan malah membuat mereka semakin sulit.

Ia pun menantikan lebih banyak lagi program dibuat untuk kesejahteraan warga.

Dengan begitu, ia yakin warganya akan semakin senang mendukung terjaganya TNGGP.

Komentar