Inspirasi

Indonesia yang Lebih Maju lewat Kesehatan Jiwa

Kamis, 8 December 2016 00:15 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI/SUSANTO

DALAM balutan kemeja biru laut bercorak putih, Nova Riyanti Yusuf tampak gesit keluar masuk ruang Poli Mandiri, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat. Sepatu wedges tinggi merah menyala tak menghambat langkahnya.

Nova atau populer dengan panggilan Noriyu memang harus gesit menyambangi para pasiennya di rumah sakit tersebut.

Selepas menjabat anggota DPR pada 2014 dan menjalani program beasiswa riset di Harvard Medical School, Amerika Serikat, Nova menjalani hari-hari sebagai dokter di rumah sakit tersebut.

Rutinitas perempuan yang juga penulis ini telah dimulai sejak pagi dengan bertugas di Poli BPJS.

Selain itu, Nova menjadi dokter pembimbing bagi para mahasiswa ko-asisten (ko-as).

Seorang lelaki berinisial SL menjadi pasien terakhirnya pada Selasa (29/11) itu.

SL sudah cukup lama mengalami gangguan kejiwaan, tetapi selama ini hanya dibawa ke pengobatan alternatif oleh keluarganya.

Dengan sabar Nova membujuk sang pasien untuk masuk ke ruangan periksa, tempat para mahasiswa ko-as telah menunggu.

"Ini sama rempong-nya (repot) kayak di DPR nguplek saja di satu tempat, setiap jalan berapa langkah, dipanggil," aku Nova soal kesibukannya di rumah sakit itu.

Kerempongan pada hari itu ditutup manis dengan kue ulang tahun dari para mahasiswa setelah sesi pemeriksaan.

Dua hari sebelumnya, sang dokter cantik baru saja memasuki usia 39 tahun.

Nova memang pantas mendapat perayaan ulang tahun yang panjang karena segala prestasi yang terus diukirnya.

Kegigihan dalam memperjuangkan kesehatan jiwa kini juga mulai dikenal dunia.

Pada 22 Oktober lalu, koran The New York Times memuat profil dirinya.

Nova juga telah diundang menjadi pembicara di Women in the World Summit 2017 yang akan berlangsung di New York pada awal April.

Ajang itu merupakan salah satu ajang terbesar perempuan dunia dengan deretan nama besar yang telah menjadi partisipan, termasuk Hillary Clinton, Angelina Jolie, Ratu Rania Al Abdullah dari Yordania, Tom Hanks, Oprah Winfrey, hingga peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai.

Meski belum bisa berbagi tentang hal yang akan ia sampaikan di forum tersebut, Nova mengaku sangat senang atas permintaan yang telah disampaikan penyelenggara sejak jauh-jauh hari itu.

Perhatian dunia internasional itu dilihatnya juga sebagai jalan untuk menunjukkan prestasi Indonesia yang telah memiliki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Keberadaan UU itu dinilainya dapat menunjukkan langkah maju dan harga diri bangsa.

"Saya bangga karena adanya UU Kesehatan Jiwa itu bisa menyelamatkan harga diri Indonesia di mata dunia," cetus Nova dengan mata berbinar kepada Media Indonesia.

Nova memandang selama ini harga diri Indonesia dilemahkan akibat cap negara pelanggar hak asasi manusia (HAM) yang kerap disoroti Human Rights Watch.

Pelanggaran HAM yang disinggung salah satunya terkait dengan 57 ribu orang dengan disabilitas kondisi kesehatan mental yang mengalami pemasungan, belenggu, atau dikurung di ruang tertutup.

Dalam UU tersebut diatur bahwa penatalaksanaan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan cara lain di luar ilmu kedokteran hanya dapat dilakukan apabila manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak bertentangan dengan norma agama.

Dengan penatalaksanaan yang teratur tersebut, HAM para penderita gangguan jiwa dapat terjaga. "Indonesia sekarang selangkah lebih maju dengan adanya UU Kesehatan Jiwa ini," tambah Nova yakin.

Antara penulis, aktivis, dan dokter

Meski kini lekat dengan dunia kesehatan jiwa, profesi dokter nyatanya bukan cita-cita Nova kecil.

Perempuan kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, ini lebih dulu tertarik menjadi penulis.

Namun, niatnya kuliah di bidang penulisan kreatif tidak didukung sang ibu, Marsiswaty Yusuf.

Kala itu masih rezim Orde Baru sehingga Marsiswaty meragukan soal kemapanan finansial di dunia penulisan.

"Kayaknya ibu saya berpikirnya sudah cukup maju bahwa perempuan harus bekerja yang menghasilkan untuk diri sendiri, bukan berpikir tidak apa-apa belajar 'creative writing' toh nanti yang cari duitnya suami juga," kenang Nova.

Nova lantas mengambil bidang kedokteran yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Saat menjalani ko-as di RSJ tempatnya bekerja sekarang pada 2001, Nova pun menemukan kecocokan dengan spesialisasi ilmu kedokteran jiwa.

"Saya merasa paling cocok menjalani ko-as jiwa jika dibandingkan dengan bidang-bidang lain. Sebagai mahasiswa kedokteran kan saya coba juga bidang yang lain sebelum menentukan pilihan," ujarnya.

Nova juga memahami peluang seseorang mengalami gangguan jiwa dari ringan sampai berat itu besar.

Peluangnya mencapai 1:4 orang sehingga bisa jadi dalam satu keluarga ada yang mengalami gangguan jiwa.

Kondisi itu pun dilihat Nova terjadi pada seseorang di keluarga besarnya.

Meski bukan menimpa keluarga inti, Nova tetap terpikir akan nasib yang terjadi pada keluarga yang tidak mampu, yang jauh dari fasilitas dan tidak memiliki akses ke perawat kejiwaan.

Lalu ketika mengambil pendidikan dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2004-2009), Nova menemukan banyak keluarga pasien gangguan jiwa yang tidak mampu membayar pengobatan.

Bahkan ada keluarga pasien yang memberi cincin untuk menutup biaya.

Tidak tega, Nova pun kerap memberi uang pada kelurga pasien.

"Cuma akhirnya saya berpikir enggak mungkin tiap ada pasien terus kita bayar, akhirnya saya pikir ini harus diselesaikan lewat sistem," paparnya soal dorongan terjun ke politik menjadi anggota DPR.

Dari situ ia gigih menjadi inisiator UU Kesehatan Jiwa.

Perjuangan beratnya pun dirayakan dengan menceburkan diri ke kolam di kompleks Gedung DPR RI begitu UU Kesehatan Jiwa disahkan.

Ketika ditanya soal rencana untuk kembali ke dunia politik, mantan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu menilai urgensinya sudah tidak ada lagi.

"Sekarang bolanya ada di pemerintah untuk melanjutkan aturan turunannya," pikirnya.

Nova merasa perannya lebih maksimal dalam supervisi melalui kegiatan di rumah sakit, jalur akademis, ataupun bekerja sama dengan tim kementerian.

Selain itu, ia pun teringat pada wejangan sang ibu soal saatnya menerapkan ilmu kedokteran yang sudah dipelajarinya 11 tahun. (M-3)

BIODATA

NAMA: Nova Riyanti Yusuf
TEMPAT, TANGGAL LAHIR: Palu, 27 November 1977
PEKERJAAN:
Dokter di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Heerdjan
Dosen Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia
Dosen mata kuliah Creative Writing, Public Speaking & Performing, dan Media Industri di Binus International University

JABATAN:
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia-DKI Jakarta
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI (2012-2014)

PENDIDIKAN:
Kandidat doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI)
Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran UI (2004 -2009)
Sarjana Kedokteran dan Dokter Umum, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (1995-2002)

FELLOWSHIP:
Program Visiting Scientist/Research Scholar dari Harvard
Medical School, Department of Global Health & Social Medicine, Boston, Amerika Serikat. (Januari-Juni 2015

Komentar