Investigasi

Mengapa Tega Membohongi Kami?

Senin, 5 December 2016 08:15 WIB Penulis:

SIANG itu sang surya bersinar terik.

Muhamad Rokhim yang tubuhnya dipenuhi peluh memutuskan beristirahat sejenak di pematang sawah.

Tak jauh dari tempatnya melepas lelah, belasan pria justru bekerja memasang tenda melawan sengatan sinar mentari.

Mereka sedang mendirikan tenda yang terbilang mewah bagi warga transmigran di sana.

Sembari mengamati aktivitas tersebut, Rokhmin menyulut sebatang rokok kretek dan menghirupnya dalam-dalam.

Bajunya yang tipis disingkapkan ke bahu kiri.

Dadanya yang bidang digeder untuk merasakan hembusan bayu.

Tenda itu, kata Rohkim, dipasang untuk sebuah acara yang terbilang penting di desanya.

Menurutnya, bukan acara adat yang akan digelar, melainkan peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Rokhim dan enam ratus kepala keluarga di Desa Nusantara, Jalur Tujuh, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan sudah diingatkan kepala desa setempat untuk menghadiri acara yang bakal dihadiri orang penting dari Ibu Kota.

Dia dan ribuan warga transmigran di sana tidak habis pikir.

Pasalnya, warga diajak untuk menyaksikan keberhasilan pembangunan yang sebenarnya tidak pernah ada.

"Saat itu, warga diminta datang untuk meramaikan peresmian gardu pembangkit listrik. Gardu itu tidak pernah berfungsi, tapi kami diminta datang seolah-olah gardu itu sudah beroperasi dan bermanfaat untuk kami," kata Rokhim mengisahkan peristiwa itu.

Pembangkit listrik yang dibangun tahun 2008 itu, nyatanya hingga kini tidak pernah berfungsi.

Ribuan masyarakat yang berharap bisa menikmati listrik harus gigit jari saat menerima kenyataan bahwa pembangunan pembangkit itu hanya untuk proyek semata.

"Dulu kami diberi tahu gardu yang ada kincirnya itu berfungsi untuk menerangi warga desa di sini. Tapi kenyataannya tidak pernah beroperasi. Acara peresmian itu hanya sandiwara. Sebenarnya yang dipakai genset, jadi seolah-olah gardu itu hidup. Saya tidak habis pikir, tega nian kami dibohongi," urainya.

Dari informasi yang beradar di masyarakat, Rokhim mengetahui biaya untuk membangun pembangkit itu sekitar Rp1,5 miliar.

Bagi warga desa seperti mereka, dana sebesar itu cukup untuk membantu kehidupan ratusan keluarga yang hidup seadanya.

Tapi yang terjadi sungguh ironis, warga desa hanya mendapatkan pembangkit yang kini menjadi rongsokan besi tua.

Dia berharap proyek rekayasa seperti itu tidak ada lagi.

"Lihat saja, bagian-bagian pembangkit itu sudah banyak yang hilang. Dinamonya sudah tidak tahu ke mana, besi-besinya juga begitu sudah hilang." (Sru/T-2)

Komentar