Jendela Buku

Bineka dalam Wastra

Ahad, 4 December 2016 05:16 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZZUKI

Kekayaan budaya Indonesia melahirkan beragam jenis wastra yang berbeda-beda dan unik di tiap daerah.

BUKAN rahasia lagi, semboyan bangsa Indonesia ialah Bhinneka Tunggal Ika. Tak diragukan lagi, meski terkadang semboyan itu harus selalu dan terus dimantapkan, dalam hal apa pun, Indonesia memang sangat bineka, termasuk di jagat wastra.

Wastra berasal dari bahasa Sanskerta (kata serapan) yang berarti sehelai kain yang dibuat secara tradisional. Inilah yang hendak digambarkan buku Nusawastra Silang Budaya karya Quoriena Ginting. Wastra Nusantara dapat dikatakan sebagai kain tradisional Indonesia dengan motif yang sarat makna.

Tidak seperti buku tentang wastra Indonesia lainnya yang pernah terbit, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, buku setebal 459 halaman ini tidak hanya fokus membicarakan salah satu jenis wastra daerah tertentu, tetapi menampilkan keindahan wastra Indonesia sejak dari Aceh hingga ke ujung Nusa Tenggara.

Buku ini akan memperlihatkan betapa Indonesia sangat kaya dengan khazanah kekainan. Sebagai contoh Sumatra ternyata kaya dengan variasi songket, seperti songket palembang, minangkabau, dan jambi. Pulau Jawa kaya akan ragam batik. Ada batik keratonan atau pedalaman (solo dan yogyakarta serta banyumas) dan ada batik pesisiran (pekalongan, indramayu, garut, tasikmalaya, kudus, lasem), serta ada batik saudagaran. Ada pula batik kompeni, tapi ada pula batik djawa hokokai dan djawa baroe.

Selain itu, ada batik yang tercipta khas karena prosesnya, yakni batik tiga negeri, batik kopi tutung, dan batik gentongan. Tentu hal itu mengecualikan batik printing. Dalam buku ini, printing sama sekali bukan termasuk batik.

Lahir dari tradisi

Buku ini juga menampilkan batik yang sungguh lahir dari tradisi. Batik tuban, misalnya, seluruh prosesnya berasal dari tradisi Majapahit, sejak pembuatan benang, penenunan, hingga pemotifan, dan pembatikan. Wastra batik tuban, sidoarjo, dan pacitan.

Selain itu, masih ada kain gringsing dari Tenganan, Bali. Kain itu merupakan kain 'ikat ganda' yang selain Indonesia, hanya Jepang dan India yang memilikinya.

Begitu pula dengan wastra yang terdapat di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan. Masing-masing punya akar sejarah dan tradisi yang sangat kuat. Tenun ikat sumba, flores, sawu, rote, dan sebagainya, dengan variasi kekhasan yang sangat beragam.

Seperti dalam bagian berjudul Wastra Nusa Tenggara Timur; dari Kuda Sumba hingga Malaikat Eropa (hlm 427). Bagian tersebut bercerita tentang tenun ikat dan songke tersebar di NTT. Seperti Pulau Flores, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio, dan Sikka; juga di Pulau Alor, Timor, Rote, Ndao, Sawu, dan Sumba.

Semua memiliki ciri masing-masing. Ngada, misalnya, terkenal dengan motif kuda (jara) dan gajah (nggaja) dengan warna motif cenderung terang. Nagekeo punya kekhasan motif wajik dan matahari berwarna merah dan kuning menyala di atas dasar hitam atau biru Legam. Motif itu diciptakan dengan teknik tenun ikat (dawo nangge) dan sulaman (duka wo'i).

Ende terkenal dengan ragam hias bergaya Eropa dengan tetap menampilkan abstraksi cecak, kupu-kupu, serta abstraksi gajah yang merupakan kendaraan para dewa; dan kuda sebagai kendaraan manusia menuju alam baka.

Motif hewan

Di Sumba, terdapat tenun ikat bermotif hewan, seperti kuda, rusa, ayam, ular, cumi-cumi, udang, kuda laut, burung, ataupun kupu-kupu. Wastra timor mengombinasikan tenun ikat dan sulaman demi terciptanya beragam motif geometri yang khas. Wastra rote ndau yang menciptakan lave rambik dengan meramu motif geometri, kulit buaya, bunga, serta mengombinasikannya dengan pola patola dari India.

Dalam buku ini, juga digambarkan kain tenun ikat dari sebuah wastra tua yang dibuat pada 1829, panjangnya 9,75 meter dan lebar 1 meter. Pembuatannya memakan waktu 4 tahun, antara lain 8 bulan merendam dalam lumpur untuk mendapatkan warna abu-abu. Kain itu disebut dugo raga ini berasal dari Kerajaan Gak, Kampung Dobo, Kabupaten Maditara, Maumere Timur, NTT. Fungsinya menutup jenazah keturunan raja sehingga bisa awet selama 120 hari.

Itu hanya sekelumit cerita dari satu daerah. Padahal, Indonesia punya banyak daerah lain. Dalam bagian lain buku misalnya, batik indramayu dijelaskan secara runtut dalam bagian Wastra Batik Indramayu, Lukisan Keseharian Alam Kelautan (hlm 189). Wastra Batik Kudus, Tinggal Gema yang Bersayap (hlm 197). Wastra Batik Lasem, Merah Getih Pitik dari Tiongkok-Cilik (hlm 217). Itu masih sekelumit kisah dari wastra yang ditulis dalam buku ini.

Hal penting lainnya buku Nusawastra Silang Budaya ini tidak hanya menampilkan wastra-wastra tradisi yang silam, tradisi yang mati, tetapi juga wastra tradisi yang terus dilanjutkan ke masa kini oleh para empu atau seniman wastra, antara lain karya Bapak Batik Indonesia Panembahan Harjonagoro Go Tik Swan, Oey Soe Tjoen, Setyowijaya, Iwan Tirta, dan Simon 'Lenan' Setijoko, yang semuanya telah tiada.

Selain itu, buku ini membeberkan karya para empu dan seniman wastra yang hingga kini masih aktif berkarya, seperti Dudung Alie Sjahbana dari Pekalongan, Siti Maimona dari Madura, Tatik Sri Harta dari Solo, dan Hennie Adli dari Padang Minangkabau.

Buku ini memang diterbitkan dan diedarkan secara terbatas. Namun, buku itu mengundang sejuta kagum atas kekayaan wastra Indonesia. (M-2)

Komentar