Jendela Buku

Pengobat Kangen Teater Koma

Ahad, 4 December 2016 05:01 WIB Penulis: Zuq/M-2

BAGI pencinta Teater Koma, mungkin buku ini bisa menjadi pengobat kangen kala bukan waktu pentas. Teater Koma dikenal dengan penonton setia yang selalu mendukung pementasan sejak teater itu didirikan N Riantiarno pada 1977.

Sebuah buku berjudul Republik Wayang karya N Riantiarno diterbitkan Grasindo. Ini adalah kumpulan naskah yang sudah dipentaskan Teater Koma sejak 1990.

Buku setebal 582 halaman ini di dalamnya terdapat beberapa naskah Republik yang dipentaskan Teater Koma, juga ditambah beberapa naskah yang punya sangkutan menarik ketika gelaran pementasan.

Naskah tentang republik adalah Republik Bagong (hlm 1), Republik Togog (hlm 109), Republik Petruk (hlm 216), dan Republik Cangik (hlm 315). Naskah itu bicara tentang kekuasaan.

Seperti dalam naskah Republik Bagong. Cerita itu diawali ketika Bagong ditunjuk sebagai tumbal Amarta. Konon, nyawa Bagong mampu mengusir musibah beruntun yang menimpa Amarta. Ketika ditumbalkan, Bagong malah dianugerahi Jimat Kalimasada oleh Kresna. Berdasarkan ramalan Kresna, Bagong bakal jadi raja Amarta menggantikan Yudhistira.

Betul saja, tak beberapa lama Amarta pun jatuh ke tangan Lesmono yang dibantu Sengkuni dan para sekutunya.

Partai baru bermunculan. Di antaranya Partai Srikandi, yang kemudian berhasil memenangi pemilu. Bagong lalu diangkat jadi raja Amarta oleh kekuatan gabungan. Bagong lalu mengubah Amarta menjadi republik; Republik Bagong. Di sinilah mula berbagai kekacauan menghantam Amarta. Selain itu, masih ada beberapa naskah dengan cerita yang cukup lekat dengan para pencinta Teater Koma.

Seperti naskah Koglomerat Buriswara (hlm 501). Dulu, hampir saja naskah itu tidak bisa dipentaskan karena sang sutradara ditelepon yang berwajib. Katanya, naskah itu jangan sampai dipentaskan, bisa berbahaya. Setelah debat cukup panjang, untunglah akhirnya naskah itu bisa juga dipentaskan. Sang sutradara menyebutnya sebagai sebuah adegan goro-goro dalam lakon wayang. Sebuah pertunjukan yang penuh gelak dan tidak menyakiti.

Naskah Semar Gugat (hlm 390) dipentaskan pada 1995. Naskah itu dimainkan hampir semuanya oleh lelaki. Pada 2016, naskah itu kemudian dimainkan lagi. Semar Gugat 1995 dimainkan hampir semuanya oleh lelaki. Para aktor lelaki memainkan tokoh perempuan seperti Betari Permoni, Kalika, Srikandi, Larasati, Sumbadra, dan Sutiragen. Ingat pada konsep Ludruk, perempuan dimainkan lelaki. Pada 2016, naskah itu kemudian dimainkan lagi. Naskah 2016 tidak lagi ada pada konsep ludruk. Yang perempuan, kecuali Srikandi, tetap dimainkan para aktris.

Adapun naskah Kala (hlm 466) dipentaskan pada 1997. Naskah itu dipentaskan di 12 kota di Jawa dengan set ada di atas sebuah truk pada 2001. Truk itu kemudian menjadi set bagi Kala. Sekitar 17 orang dari Teater Koma berangkat mengelilingi 12 kota selama satu bulan dengan membawa peralatan sound system dan juga pencahayaan.

Kekhasan naskah Teater Koma ialah cerita yang dibawakan selalu relevan kapan pun. Seolah naskah itu abadi dan melintasi ruang-waktu.

Komentar