Jendela Buku

Ekspos Keindahan Pulau Lembata

Ahad, 4 December 2016 04:46 WIB Penulis: Sari Narulita

TEMA cinta tak pernah usang untuk dibahas. Tergantung keromantisan dan roso dari sang pengarangnya untuk mengaduk-aduk emosi pembaca. Mungkin hanya cukup sampai membuat dada sesak atau perlu berlembar-lembar tisu untuk menghapus linangan air mata.

Pemain film era 1960-1970-an Sari Narulita melalui buku karyanya, Cintaku di Lembata, tidak hanya menyajikan kisah cinta pria-wanita, tetapi juga cerita perjalanan, keindahan alam, dan budaya di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang belum banyak terekspos.

Dalam novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini, Sari menceritakan tokoh Kayla dengan lelaki asli Kupang yang kemudian dipanggil Gringgo. Pertemuan pertama terjadi puluhan tahun lalu kala Kayla masih sendiri. Pada pertemuan kedua, Kayla masih terikat dalam perkawinan yang tak sempurna. Namun, ternyata masih ada cinta di antara kedua insan itu.

Cinta yang tak pernah mati, lalu kembali menggelora saat mereka dipertemukan kembali di bumi Lembata. Bak remaja yang tak mendapat izin dari orangtua, mereka mencuri waktu untuk bertemu agar bisa memadu kasih di Bukit Cinta.

Namun, novel ini tak melulu bercerita tentang kisah asmara, Ada tempat-tempat wisata yang diceritakan, antara lain Adonara, kampung adat Lewohala, dan museum ikan paus. Kekayaan kuliner juga dibahas sehingga pembaca bisa membayangkan rasa daging se'i dan jagung bose. Selain itu, menceritakan sedikit sejarah, yakni asal nama Kupang.

Akan tetapi dijamin, tak akan bosan menikmati novel ini hingga akhir kendati ada sisipan sejarahnya. Pasalnya angan pembaca akan diajak membayangkan pantai yang bersih, langit yang biru, dan air laut yang jernih yang mengirimkan lembutnya angin senja.

Lalu, bagaimana nasib Kayla dan Gringgo? Bersatu? Tidak? Bersatu? Tidak? Jawabannya ada di halaman terakhir novel ini.

Judul : Cintaku di Lembata

Penulis : Sari Narulita

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Komentar