BIDASAN BAHASA

Branwir

Ahad, 4 December 2016 04:01 WIB Penulis: Dony Tjiptonugroho

ANTARA/Widodo S. Jusuf

AWAL November, tepatnya pada Rabu (9/11) kebakaran terjadi di Gedung Neo Soho Taman Anggrek, Jakarta Barat, sekitar pukul 20.57 WIB. Beberapa televisi memberitakan peristiwa itu. Lebih dari sekadar memberitakan, mereka menyiarkan secara langsung. Saya menyaksikan dari layar televisi petugas pema dam kebakaran sempat mengalami kesulitan untuk tiba karena terhambat oleh padatnya lalu lintas pada malam itu.

Akhirnya api yang berkobar di Gedung Neo Soho dapat dipadamkan sekitar pukul 23.30. Kebakaran itu memang tergolong besar jika dilihat dari jumlah armada pe madam yang dikerahkan. Menurut pemberitaan stasiunstasiun televisi, jumlahnya puluhan. Jumlah tepatnya itulah yang menarik perhatian saya. Stasiun televisi yang satu me nampilkan tulisan, 21 kendaraan damkar dikerahkan. Stasiun televisi yang lainnya menyatakan 27 pemadam dikerahkan.

Ada lagi stasiun televisi yang menyatakan lebih dari 20 damkar dikerahkan. Jumlahnya setali tiga uang di angka 20-an. Namun, satuan yang digunakan berbeda. Ada yang menggunakan kendaraan damkar, ada yang menuliskan pemadam, dan ada lagi yang menampilkan akronim damkar. Akronim damkar merupakan pemendekan dari pemadam kebakaran. Kesannya serupa, tetapi tak sama. Kesamaan dari kata-kata yang digunakan untuk memberitakan penanganan kebakaran itu ialah kata dasar padam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat disebutkan, padam adalah kata adjektiva dengan makna 'mati (tentang api); tidak menyala atau tidak berkobar lagi' dengan kalimat contoh Api kebakaran itu sudah padam; 'reda (tentang kemarahan); tenang kembali (tentang hawa nafsu)' misalnya Seketika itu juga padamlah murka baginda; 'aman kembali (tentang huru-hara)' dengan contoh Pergolakan di negara itu belum juga padam; dan 'menjadi lemah' seperti Semangat juang mereka tidak pernah padam. Dari kata dasar itu, diturunkan kata pemadam. Kata pemadam adalah nomina dengan makna 'alat untuk memadamkan (api dan sebagainya)' dengan contoh pemadam api dan 'orang (pasukan) yang bertugas memadamkan (kebakaran dan sebagainya)', misalnya pemadam kebakaran.

Berikutnya ada pemadam api untuk makna 'alat untuk memadam kan api' dan 'orang yang memadamkan api' dan pemadam kebakaran untuk 'pasukan yang bertugas memadamkan kebakaran'. Dengan mengetahui makna-makna tersebut, dapat ditarik perbedaan dari pilihan kata yang dipakai stasiun televisi dalam memberitakan kebakaran itu.

Penulisan 21 kendaraan damkar dikerahkan jelas menyatakan jumlah kendaraan pemadam kebakaran yang diope rasikan. Namun, penulisan 27 pemadam dikerahkan bisa merujuk ke dua hal, alat dan orang. Jadi, masih dapat didebat, yang dike rahkan ialah 27 alat untuk memadamkan api atau 27 petugas. Padahal, jangan-jangan yang dimaksud ialah 27 kendaraan pemadam kebakaran.

Penulisan lebih dari 20 damkar (pemadam kebakaran) dikerahkan sewajah dengan 27 pemadam dikerahkan. Tidak hanya satu makna yang dimunculkannya. Untuk pastinya, penonton televisi harus menyimak laporan reporter dan pembawa acara yang memarafrasakan informasi itu. Pemilihan kata yang taksa itu disebabkan per bendaharaan kata penutur bahasa yang kurang memadai.

Andai si penutur tahu bahwa kendaraan pemadam kebakaran (tiga kata) dapat diganti dengan branwir (satu kata) yang bermakna 'mobil pemadam kebakaran', ketaksaan tidak terjadi. Jelas makna lebih dari 20 branwir dikerahkan atau 27 branwir dikerahkan. Sayang, branwir terlupakan.

Komentar