PIGURA

Kangsaisme

Ahad, 4 December 2016 02:15 WIB Penulis: Ono Sarwono

DALAM perspektif jagat wayang, nuansa situasi dan kondisi sosial-politik nasional saat ini tajam beraroma kangsaisme. Indikasinya antara lain maraknya watak intimidatif, anarkistis, konfrontatif, memaksakan kehendak, mau menang sendiri, dan inkonstitusional.

Paham tidak beradab seperti itu jelas tidak trep (pantas hidup) di negeri ini yang menganut sistem demokrasi. Lebih ekstrem, itu bertolak belakang dengan jati diri bangsa ini yang berbudaya. Bangsa yang bermoral, beretika, cinta kerukunan, dan taat aturan.
Pertanyaannya, siapa Kangsa itu? Ia tokoh sentral dalam fase kelabu sejarah Negara Mandura. Ia otak sekaligus eksekutor pendongkelan kekuasaan sah Prabu Basudewa dengan skenario tontonan adu jago.

Akhir kisahnya, upaya tengik tersebut gagal total. Ia bersama mentor politiknya, Suratimantra, disirnakan dua putra Basudewa yang didukung penuh rakyat. Mandura pun kembali aman dan tenteram.

Nafsu mendikte
Secara administratif, Kangsa, yang juga bernama Kangsadewa alias Basuwara Kangsa, merupakan putra Prabu Basudewa. Namun, sesungguhnya, ia bukan anak biologis Basudewa. Hanya karena lahir dari rahim Dewi Maerah--salah satu istri Basudewa, Kangsa (terpaksa) diakui sebagai anak guna menjaga kehormatan keluarga istana.

Kangsa muncul ke marcapada benih Gorawangsa dari Negara Gowabarong. Kisahnya pada suatu ketika Gorawangsa menggauli Maerah dengan cara memba (memalsukan diri) sebagai Basudewa yang saat itu berburu ke hutan selama berhari-hari. Kala itu, Maerah tidak sadar bila yang saresmi (melakukan hubungan suami-istri) dengan dirinya ialah Gorawangsa, yang aslinya berujud yaksa.
Basudewa palsu (Gorawangsa) akhirnya ketahuan belangnya dan kemudian dibinasakan Harya Prabu, adik Basudewa. Sebelumnya, Harya Prabu mendapat firasat ada keganjilan di istana. Ia lalu minta izin kepada sang raja untuk mendahului kembali ke istana dari keikutsertannya berburu. Benar, ia menemukan maling yang menyamar sebagai Basudewa.

Sial bagi Maerah. Selain menjadi korban nafsu gombal, ia masih harus dikucilkan ke wana hingga bayi dalam kandungannya lahir. Orok yang lalu diberi nama Kangsa itu diopeni Suratimantra, adik Gorawangsa. Kangsa diajari ilmu gada-gitik (berkelahi) dan digeladi ilmu kanuragan (kesaktian fisik).

Sayangnya, ada yang terlewatkan dalam pendidikan Kangsa, tidak adanya asupan budi pekerti. Itulah yang menyebabkannya berangasan, ugal-ugalan, dan tidak mengerti unggah ungguh, sopan santun, dan koppig. Apa yang diinginkan mesti terpenuhi pada saat itu pula. Ia juga tak segan main kepruk untuk memuaskan nafsunya.

Pada suatu hari, Kangsa bertanya kepada Suratimantra, tentang siapa bapaknya. Didapat keterangan bahwa ayahnya ialah Raja Mandura Prabu Basudewa. Dengan berbekal info itu, ia sowan ke Basudewa dan meminta hak sebagai putra mahkota. Saat itu Basudewa memenuhinya dan bahkan memberikan wilayah kesatrian bernama Sengkapura.

Kemurahan Basudewa sejatinya hanyalah strategi agar Kangsa tidak terus-terusan menebar teror. Berdasarkan laporan intelijen, secara sistematis Kangsa menghasut rakyat supaya membenci sang raja. Di sana-sini ia membuat onar dan menyebar fitnah tentang kebusukan Basudewa.

Berdasar insting politiknya, Basudewa memperhitungkan ke depan bakal ada ontran-ontran (kehebohan) di Mandura. Menurutnya, saat itu memang tidak ada senapati, apalagi prajurit, Mandura yang kuasa menandingi Kangsa. Karena itu, ia mengungsikan putra-putri kandungnya (Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng) ke Dusun Widarakandang. Di sana mereka diasuh Demang Antagopa dan Ken Sagopi.

Benar adanya. Kebaikan hati Basudewa tidak membuat Kangsa berpuas. Ia justru meminta lebih. Ibaratnya, diwenehi ati ngrogoh rempela. Kangsa mendesak Basudewa agar memberikan izin untuk menggelar adu jago di alun-alun. Jago yang dimaksud bukan ayam, melainkan manusia, yakni antara jago kasepuhan (Mandura) melawan jago Sengkapura.

Dalam pakta yang terpaksa diteken Basudewa itu memuat klausul bahwa bila jago Sengkapura kalah dalam pertarungan, Kangsa minggat selamanya. Sebaliknya, jika jago kasepuhan keok, Basudewa harus meninggalkan istana (kekuasaan) Mandura.
Masih ada poin lain, yaitu semua rakyat Mandura harus menonton. Bila ada yang tidak menyaksikan, wajib dihukum berat. Itu sebenarnya merupakan taktik Kangsa menemukan tiga anak Basudewa yang diungsikan. Mereka akan dijadikan sasaran pembunuhan. Kalkulasinya, jika Kakrasana dan Narayana tidak dilenyapkan, mustahil ambisinya berhasil.

Sesuai dengan hari yang telah ditentukan, adu jago digelar. Jago Sengkapura ialah Suratimantra. Jago kasepuhan ialah Bratasena. Singkat cerita, Suratimantra mati. Bersamaan dengan itu, Kangsa berhasil meringkus Kakrasana dan Narayana di pinggir gelanggang. Baginya, 'kedua saudaranya' itu ibarat mentimun yang akan remuk dalam sekali pukul. Takhta Mandura pun telah terbayang di depan mata. Namun, Kangsa tidak tahu. Kakrasana dan Narayana, yang memang dipersiapkan Basudewa untuk menggantikannya kelak bukan lagi anak ingusan. Berkat kegenturannya melakoni laku prihatin, mereka memiliki senjata yang keampuhannya menggiriskan.

Hanya dalam hitungan detik sebelum ajal tiba, Kakrasana dengan cepat menghunjamkan senjata nenggala di dada Kangsa. Dengan disusul hantaman pusaka cakra oleh Narayana, Kangsa hancur jadi abu. Dengan sirnanya Kangsa dan Suratimantra, ketenteraman Mandura kembali pulih.

Kodratnya lebur
Cerita singkat itu menggambarkan sepak terjang Kangsa yang menjangkarkan garis politiknya pada kekerasan. Sikapnya itu didasari pada kejemawaannya bahwa tidak ada yang mampu menandingi kesaktiannya.

Kebrutalan berpolitiknya sampai tidak mengindahkan harga diri orangtua. Dalam tataran lahir, ia seperti memosisikan diri sebagai anak dengan slogan anak polah bapa kepradah--bila anak menginginkan, bapaknya harus memenuhinya. Namun, dalam hatinya, Kangsa sesungguhnya mengepal Basudewa. Apabila apa yang dituju tidak dipenuhi, ia akan membumihanguskan Mandura seisinya.
Namun, kodratnya Kangsa lebur. Ini persis ungkapan dalam kearifan lokal, Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti. Maknanya kurang lebih segala keangkaramurkaan akan lebur dengan kesabaran, kelembutan, dan kebaikan. Dalam konteks sosial-politik kini, siapa yang melakukan dengan cara-cara mencederai, ia akan menemui kehancuran. (M-4)

Komentar