Tifa

Ilusi dari Suara-Suara Mati

Ahad, 4 December 2016 01:45 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

MI/ABDILLAH M MARZUQI

RUANG gelap itu hanya menyisakan sedikit pandang. Tak banyak, hanya beberapa kelebat sosok yang setengah membungkuk. Barulah nyata ketika lampu menyala. Mereka sedang menyapu sampah hasil remasan-remasan koran. Lampu dipadamkan.

Itu sekelumit adegan pembuka dari pentas teater berjudul Suara-Suara Mati di Black Box Theater Komunitas Salihara pada 1 dan 2 Desember 2016. Lakon itu dipentaskan Teater Populer.

Kelompok teater legendaris itu bentukan almarhum Teguh Karya.

Lakon Suara-Suara Mati ialah rangkaian benturan konflik antara kebenaran dan pembenaran dari pribadi-pribadi yang mempertahankan keyakinan mereka. Lakon yang disadur dari Dode Klanken karya Manuel van Loggem itu menampilkan tragedi cinta antara suami istri yang terperangkap oleh rasa curiga; semua itu bersumber dari cemburu dan melahirkan khayalan liar tentang kematian.

Mengapa lakon suami istri itu dipilih untuk dipentaskan sutradara Slamet Rahardjo? "Hari ini saya selalu terkurung oleh ilusi-ilusi. Ini bener apa enggak sih? Ini bener apa enggak sih? Suasana hari ini seperti itu. Ilusif sekali. Cinta, tapi enggak cinta. Bersahabat, tapi berkhianat. Saling sandera. Itu menarik bagi saya untuk membuat ini karena memiliki relevansi sosial. Tokohnya memang cuma suami dan istri, tapi ini bisa diproyeksikan menjadi problem kita bersama," terang Slamet Rahardjo.

Selama 70 menit durasi pementasan, banyak dialog tajam dan bermakna yang terlontar antarpemain. Kalimat yang keluar meneror perasan dan pemikiran. Tiap lakon berteguh pada kebenaran. Mereka akhirnya membenturkan keyakinan masing-masing dengan keyakinan lain.

Konflik dalam lingkungan kehidupan rumah tangga menjadi refleksi kecil dari konflik lainnya yang kerap terjadi di lingkungan sekitar. Dihantui rasa curiga, cemburu, hingga akal sehat membuat orang tak lagi dapat mencerna apa arti cinta dan benci.

Sebatas ilusi
Sang istri kerap ketakutan dengan suara-suara yang mengganggu pikirannya. Suami yang usianya terpaut jauh tenggelam dalam kecurigaan dan khayalannya sendiri. Hubungan rumah tangganya tak lagi mesra seperti masa pacaran. Kehidupan rumah tangga yang kemudian dijalani hanya mengacu pada kewajiban-kewajiban tugas suami dan istri. Ideal pernikahan dan rumah tangga pun menjadi sebatas ilusi.

Puncaknya, seorang sahabat masuk lingkaran rumah tangga mereka. Sahabat diharap membawa keceriaan dan suka duka. Namun, ternyata, itu pun hanya ilusi. Sahabatnya justru punya rasa pada sang istri.

Itu sebuah cerita yang menggambarkan benturan konflik antara kebenaran dan pembenaran dari pribadi-pribadi yang mempertahankan keyakinan mereka. Sebuah pesan tentang ilusi dari setiap yang kasatmata. Bukan hanya itu. Bahkan ilusi yang ada sejak dalam pikiran.

Komentar