Gaya Urban

Bugar ala Kamp Militer

Ahad, 4 December 2016 01:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. BODY METCON

SABAN Selasa, Jumat, dan Sabtu pagi, jika hari tidak hujan, sekelompok orang akan berkumpul di area parkir timur Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Saat matahari masih bersinar malu-malu itu, alat-alat juga telah rapi dipersiapkan. Di antaranya sejumlah kettlebel (bola beban dengan pegangan di bagian atas), sandbag (kantong pasir), dan battling rope (tali besar).

Sejurus kemudian orang-orang itu akan terbagi dalam tim-tim dan melakukan serangkaian olah tubuh dalam tempo cepat, baik menggunakan alat maupun tidak. Meskipun kegiatan yang dilakukan dalam satu tim bisa berbeda-beda, mereka akan berusaha menyelesaikan bersamaan. Misalnya, salah satu orang melakukan push-up, sementara kedua temannya melakukan squat. Mereka saling memberi semangat agar bisa menyelesaikan sesuai hitungan.

Selesai itu, mereka beralih mengangkat kettlebel atau sandbag berulang-ulang. Ada pula yang berlatih mengayun-ayunkan battling rope. Peluh mengucur deras di tubuh mereka saat melakukan gerakan-gerakan yang menguras tenaga itu dengan cepat.
Itulah kegiatan olahraga yang digelar pusat kebugaran Body Metcon. Latihan sengaja dilakukan di tempat umum untuk mendapatkan pengalaman yang unik.

Menilik namanya, latihan di Body Metcon memang sesuai dengan konsep metabolism conditioning (metcon) yang berupa latihan untuk melatih kardiovaskular. Latihan umumnya dengan gerakan-gerakan yang dilakukan dengan cepat. Body Metcon kemudian menggabungkan dengan konsep bootcamp yang memiliki gerakan-gerakan seperti latihan militer. Konsep olahraga bootcamp memang tren beberapa tahun ini karena menyuguhkan konsep olahraga yang seru.

"Konsep utamanya ialah kerja sama antaranggota. Dalam bootcamp yang banyak diterapkan pada latihan militer, kerja sama memang hal yang utama," tutur Fajar, kepala pelatih Body Metcon, kepada Media Indonesia, Rabu (30/12).

Fajar menjelaskan ketidakkompakan peserta akan berarti kegagalan latihan. Dengan begitu, peserta harus mengulangi lagi gerakan. Fajar pun mencontohkan sebuah tim yang gagal menyelesaikan hitungan gerakan. Dalam sesi body metcon memang peserta dibagi ke dalam tim yang rata-rata berisi tiga orang. Tiap tim melakukan sesi latihan yang disebut sirquit running yang terdiri atas serangkaian gerakan, yakni mengayunkan battiling rope, kettlebel swing, sand bag squat, dan lainnya.

Tiap orang bisa memulai dengan gerakan yang berbeda, tapi memiliki hitungan yang sama. Misalnya 30 kali push up, sementara yang lain melakukan 30 kali squat. Umumnya setiap gerakan harus diselesaikan dalam 30 detik untuk kemudian bisa melanjutkan ke gerakan berikutnya. Jika tidak dapat menyelesaikan bersama, mereka harus mengulangi.

"Jadi selama satu orang itu melakukan push up 30 kali, dua orang rekannya itu tidak boleh berhenti melakukan squat. Apabila gagal, satu tim harus mengulangnya," ujar Fajar mencontohkan esensi kerja sama tim dalam body metcon.

Gaya hidup ikut berubah
Konsep olahraga bootcamp ini nyatanya memikat cukup banyak orang. Bahkan ada yang rela datang dari luar kota.

Salah satunya Priska Lumbantobing yang rela berangkat pukul 04.30 WIB dari Bekasi, Jawa Barat. Priska yang setelah berlatih di Body Metcon akan menuju tempat kerjanya mengaku terpikat karena bentuk latihan yang terkonsep baik dan didampingi pelatih serta dilakukan dengan kekompakan.

"Nah kalau di Body Metcon ini kan memang sudah ada pelatihnya, dan yang lebih enak itu adalah teman-temannya yang sangat mendukung dan memberi support kalau kita sudah tidak sanggup lagi," ujarnya.

Peserta lain, Darwin Setiawan, merasakan dampak berlatih mampu ikut mengubah gaya hidup ke arah yang lebih baik. "Jadi memang saya mau mengubah pola hidup saya. Kebetulan waktu saya cek ke dokter juga dibilang harus rajin olahraga yang high impact agar pembakaran kalori bisa maksimal," tutur Darwin.

Sebelum mengikuti aktivitas itu, Darwin sudah pernah mengikuti beberapa olahraga lain seperti fitnes, muaythai, dan olahraga lainnya. Peralihan tersebut karena dirinya merasa bosan sebab dalam dua olahraga yang ditekuni sebelumnya itu tidak ada interaksi sosial. Kini, ia melakoni olahraga layaknya bertualang seru bersama kawan-kawan. (M-3)

Komentar