Pesona

Keindahan Eksentrik Timur dan Barat

Ahad, 4 December 2016 00:30 WIB Penulis: Suryani Wandariputri

MI/ROMMY PUJIANTO

Di koleksi Sebastian Gunawan Couture terbaru, pertemuan budaya Timur dan Barat dihadirkan lewat paduan brokat, bulu, dan renda yang dikemas vintage serta glamor.

GAUN-GAUN malam dengan rok lebar, bahan brokat serta aksen bulu adalah kemewahan yang lekat dengan fesyen Barat. Meski begitu tampilan yang terlihat juga sarat eksotika Timur, terutama karena motif-motif abstrak dalam ukuran besar dan warna-warni cerah.

Itulah yang disajikan pasangan desainer Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese untuk koleksi terbaru lini utama mereka, Sebastian Gunawan Couture. Paduan timur dan barat sengaja ditampilkan untuk merepresentasikan sosok yang menjadi inspirasi koleksi itu, Luisa Casati.

Casati merupakan seorang marchesa atau bangsawan berkebangsaan Italia yang selama tiga dekade di awal abad ke-20 dianggap sebagai perempuan paling artistik setelah Bunda Maria dan Cleopatra. Gaya busananya kerap dianggap mendahalui zamannya.

Gaya ini sejurus juga dengan perkataannya yang terkenal, "Saya ingin menjadi sebuah karya seni yang hidup,".
Casati terkenal senang bergaya eksentrik, misalnya dengan melingkarkan ular Boa di leher, layaknya scarf. Kekuatan karakter inilah yang membuatnya banyak jadi inspirasi penulis, pelukis, desainer, dan fotografer.

"Saya dan Cristina menghidupkan elemen mode yang datang dari Luisa Casati sebagai inspirasi utama, yakni perpaduan unsur budaya Timur seperi Turki, Jepang, dan Tiongkok dengan Barat, seperti Eropa menjadi karya yang penuh intrik, detail, multiwarna dan kaya bentuk serta menjadi inspirasi mode mendatang," kata desainer yang akrab disapa Seba itu soal koleksi bertajuk La Divina Marchesa yang diperagakan di ballroom Hotel Mulia Senayan, Selasa (29/11).

Sebelum ditampilkan di Jakarta, 20 busana dakam koleksi ini sudah ditampilkan di Paris Haute Couture Fashion Week 2016, pada Juli lalu. Keikutsertaan tersebut merupakan kebanggaan bagi Indonesia karena sangat segelintir desainer Tanah Air yang bisa ambil bagian di ajang adibusana paling bergengsi di dunia ini.

Untuk di Jakarta, Seba dan Cristina membuat lebih banyak busana, total 88 gaun, baik malam maupun koktail. Seba dan istrinya juga selalu menemukan cara untuk mengembangkan segala teknik busana. Misalnya saja pada beberapa busananya kali ini, mereka mengolah bahan tipis dan rapuh seperti brokat menjadi tekstur baru dan bersalin rupa menjadi sebuah busana berkonstruksi kokoh.

Meskipun begitu, potongan dan siluetnya tetap mempertahankan kharisma khas Seba. Misalnya dengan bentuk jam pasir yang ramping, jumpsuit, jubah panjang, hingga gaun bervolume gigantis yang spektakuler dengan detail payet, renda, dan bulu. (M-3)

Komentar