Khazanah

Fondasi Kukuh Mengikis Pertikaian

Ahad, 4 December 2016 00:00 WIB Penulis: Arnoldus Dhae

MENYAMA braya ialah solusi memecahkan setiap permasalahan ataupun pertikaian yang terjadi. Sebagai konsep keharmonisan, kearifan lokal masyarakat Bali itu sejak dahulu telah ada dan berkembang di Bali. Menyama braya merupakan simpul-simpul persatuan yang didalamnya berisi ikatan-ikatan kebersamaan dengan dilandasi rasa saling memiliki serta dengan semangat kekeluargaan peturu nak Bali.

Sudat pandang menyama braya orang Bali tidak hanya sempit pada tatanan keluarga besar pada sebuah garis keturunan semata, tetapi merupakan bagian dari proses persahabatan secara luas. Bahkan persamaan daerah juga dapat menjadikan jalinan braya bagi masyarakat Bali, mulai tingkat terbawah yakni banjar sampai dengan tingkatan provinsi. Seperti muncul istilah nyama Karangasem, nyama Buleleng, nyama Tabanan, dan seterusnya hingga nyama Bali.

Jalinan itu harus dijaga dengan baik demi eksistensi keberlangsungan penyamabrayaan yang akan mempererat persatuan masyarakat Bali. Ketika setiap karma Bali kembali memunculkan semangat menyama braya ini, itu akan menjadi fondasi kuat mencegah adanya pertikaian antarorang Bali. Hal itu disebabkan rasa menyama braya ialah kekuatan pengikat yang didalamnya ada unsur saling asah, asih, dan asuh.

Secara mendalam, konsep menyama braya juga mengandung unsur nilai agama yang dilandasi ajaran tattwam asi (aku adalah kamu). Prinsip persamaan di antara setiap orang yang sesungguhnya berasal dari satu sumber dan hanya dibedakan karma baik (subhakarma) maupun karma buruk (asubhakarma) masing-masing. Kemudian, ajaran vasudewam kuthumbakam yang mendasari persamaan kedudukan di saat setiap orang adalah saudara.

Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara mengatakan Bali sesungguhnya sudah memiliki kearifan lokal dalam menangani berbagai konflik sosial horizontal yang ada. Bahkan bukan karakter orang Bali untuk menciptakan konflik sosial seperti yang ada di daerah lain di Indonesia.

"Kita sesungguhnya sudah punya kearifan lokal, filosofi 'menyama braya' yang sampai saat ini masih melekat erat dalam pola pikir masyarakat Bali. Jadi kearifan lokal ini bisa menjadi senjata ampuh untuk menangani konflik sosial yang ada," ujarnya di Denpasar, Senin (28/11).

Beberapa waktu lalu, pemkot sudah menggelar beberapa pertemuan resmi untuk menangani konflik sosial. Salah satunya dengan menggelar seminar ilmiah, mengundang beberapa tokoh dari semua kalangan. Pemerintah Kota Denpasar melalui tim koordinasi dan singkronisasi pelaksanaan pembangunan Kota Denpasar juga pernah mengadakan sarasehan dengan tema Penanganan konflik sosial dengan kearifatn lokal di Kota Denpasar. Kegiatan itu menghadirkan beberapa narasumber dari kepolisian, TNI, kejari, DPRD, serta akademisi dan pihak terkait lainnya.

Simbol kebersamaan
Sebenarnya, Bali itu tidak perlu ada konflik. Menyama braya sebagai simbol kehidupan bersama sebagai satu kesatuan keluarga, membangun solidaritas sosial, kepedulian sosial, dan interaksi sosial yang intens. Untuk itu, yang harus dilakukan ialah menghindari tumbuhnya sikap individualistis dan esklusivisme di kalangan kelompok-kelompok sosial.

"Kita mencoba antisipasi lebih lanjut jangan sampai konflik sosial itu ada di Kota Denpasar. Selama ini kita pantau tidak ada yang perlu dirisaukan tentang konflik sosial karena peran serta masyarakat Kota Denpasar yakni masyarakat adat, tokoh masyarakat, maupun forum kemasyarakatan terus mengupayakan hal-hal yang sangat kondusif dengan itu. Kita tidak menemukan konflik sosial yang berkepanjangan," ujarnya.

Ia menambahkan orang Bali jangan mau mudah dihasut pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. "Untuk itu kita selalu waspada, jangan sampai mudah dihasut, disulut karena konflik itu terjadi karena salah kita menerima opini," ujarnya.

Itulah sebabnya seluruh potensi lokal, kearifan lokal, agar terus digali, diinternalisasi, sehingga tidak mudah dihasut. Potensi kearifan lokal perlu terus digali. "Kita kan punya kearifan lokal dari keluarga, banjar, pasemetonan, desa adat, dengan ini kita inventarisasi serta identifikasi sehingga penangan dalam konflik bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya, yakni penanganan lebih awal dari keluarga, masyarakat, baru ke tahapan hukum," ujar Rai Iswara.

Kota Denpasar memiliki keanekaragaman suku, budaya, etnik masyarakat yakni heterogenitas. Jangan sampai masalah heterogenitas dijadikan suatu permasalahan yang besar bagi proses pembangunan. (M-2)

Komentar