Weekend

Potensi Negeri di Tangan Peggy

Kamis, 1 December 2016 07:06 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

Dok. Pribadi

TAMPILAN segar, minimalis, tapi kuat dengan detail menjadi catatan tersendiri bagi gaya rancang desainer muda Indonesia Peggy Hartanto. Tak berlebih dengan ornamen, tapi tetap menciptakan busana yang terlihat elegan dan tidak biasa, salah satunya dengan teknik cut out dan garis potong yang bersih dengan pilihan warna berani. Kepiawaiannya dalam mengolah material kain menjadi busana siap pakai sudah menjadi perbincangan publik para pecinta fesyen. Sebut saja penyanyi Gwen Steffani, aktris Lindsay Lohan, Bella Thorne, dan Pixie Lott, lalu model Gigi Hadid, serta presenter Giuliana Rancic, juga Keltie Knight, merupakan selebritas dunia yang menyukai rancangan desainer asal Surabaya ini.

Pengakuan lain juga datang dari majalah Forbes yang menempatkan Peggy Hartanto pada daftar 30 Under 30 Asia untuk bidang seni pada Februari 2016 sebagai tokoh muda yang menginspirasi dan bisa bertindak sebagai agen perubahan. Desainer yang mulai membangun labelnya sejak November 2012 ini pun sudah memanen penghargaan lokal dan internasional lainnya, seperti Harper's Bazaar Asia New Generation Fashion Award in 2013 dan Australia-Indonesia Centre Young Designer Prize in 2014. Konsistensi Peggy di bidang seni khususnya fesyen memang tak pernah surut. Ia tidak pernah kehabisan ide untuk menyajikan sesuatu yang baru tanpa menghilangkan ciri khas yang sudah tertanam di benak para pemerhati fesyen.

Senang, tentu menjadi penggambaran rasa saat dirinya menerima penghargaan-penghargaan tersebut. Akan tetapi, ada hal lain yang ia terjemahkan; penghargaan menjadi dorongan untuk terus menghasilkan karya yang lebih memuaskan.

"Tetap belajar dari kesalahan dan juga pencapaian sehingga dapat terus berkembang baik dalam segi kreativitas, kerja sama tim, maupun bisnis," kata Peggy dalam pesan elektronik yang diterima Media Indonesia, Kamis (3/11).

Indonesia punya semua
Sejak SMA, tekad Peggy sudah bulat untuk berkarya sebagai seorang perancang busana. Karena itu, pilihan untuk jenjang pendidikannya jatuh pada Raffles College of Design and Commerce di Sydney, Australia. Pelajaran tidak hanya didapat di kelas, Peggy juga banyak mengamati mode dan gaya hidup di 'Negeri Kanguru' dengan beragam penduduk yang membawa budaya berpakaian masing-masing, mulai orang Eropa hingga Jepang. Pengamatan itu menjadi salah satu pembentuk kekhasan busana rancangannya yang memiliki kekuatan. Berbagai kompetisi fesyen pun kerap diikuti desainer kelahiran Surabaya itu hingga memiliki koneksi dan pengalaman di dunia fesyen yang tidak didapatkannya dari sekolah. Kesempatan belajar lainnya pun datang dari rumah mode ternama di Australia, Collette Dinnigan, selama 1,5 tahun di bidang produksi dan quality control.

Pelajaran-pelajaran tersebut membuat dirinya semakin yakin akan profesi yang dipilihnya. Peggy pun segera kembali ke Tanah Air pada 2011 guna mendirikan dan mengembangkan label Peggy Hartanto untuk busana siap pakai.

"Tidak ada keinginan untuk menetap di luar negeri. Indonesia memiliki semua sumber daya yang dapat membantu kebutuhan koleksi, dan saya tidak perlu mencarinya lagi ke luar negeri. Kami juga melakukan kerja sama dengan industri tekstil di Indonesia, dan produksi sepenuhnya dilakukan di Surabaya," ujar perempuan yang memiliki saudara kembar dan seorang kakak yang juga ikut berproses dalam labelnya.

Upaya lain untuk menjaga kecintaannya pada Tanah Air ialah dengan mencantumkan label 'Made in Indonesia' pada setiap busana yang diproduksi. Bagi Peggy, desainer Indonesia tidak kalah saing dengan desainer internasional karena memiiki kualitas desain dan produksi yang mumpuni.

Konsistensi menjadi poin utama yang harus dijaga baik dalam hal promosi, desain, juga kualitas untuk bisa menembus pasar internasional dalam waktu yang panjang.

Tidak ada yang mustahil, imbuhnya, dengan bukti adanya desainer senior yang lebih dulu mendapat pengakuan di pasar internasional.

Upaya perluas pasar
Seperti tujuannya memperluas pasar hingga internasional, ia rutin mengikuti pameran dagang pada ajang mode Paris Fashion Week. Keikutsertaannya dalam ajang mode dunia tersebut sudah dimulai sejak 2014 setelah di tahun sebelumnya Peggy memiliki stockist luar negeri pertama yang berasal dari Singapura.

Kerja kerasnya kini sudah menampakan hasil baik, salah satunya dengan dapat ditemukannya koleksi Peggy Hartanto di dalam maupun luar negeri, seperti Singapura, Jepang, Libanon, Kuwait, Arab Saudi, London, dan Mesir, juga akan segera hadir di New York.

Menurutnya, mengikuti pameran dagang itu bisa berinteraksi langsung dengan buyer. Hal itu lebih membantu dalam memahami pasar yang direpresentasikan pada toko-toko tersebut. "Namun, tidak menutup kemungkinan, apabila ada kesempatan dan waktu yang tepat, kami akan melakukan presentasi di luar negeri seperti yang sudah beberapa kali kami lakukan di Beijing dan Bangkok," pungkasnya.

Potongan dan jahitan rapi serta kesan seksi tapi tidak murahan menjadi daya tarik lain dari rancangan Peggy Hartanto. Tak mengherankan jika banyak aktris dan musisi luar negeri yang mengidolakan serta mengenakan karyanya. Cerita di balik karya juga sangat diperlukan untuk memperkuat desain dari sang perancang. Seperti pada pelantun lagu Don't Speak, Gwen Steffani, yakni berupa dres bertali dengan warna putih dan diberikan sisipan warna oranye pada bagian dada serta pinggang sehingga menyajikan kesan ceria.

Ornamen lain yang diberikan berupa lipitan mulai dada menyamping hingga pinggang, seperti sirip pada ikan. Koleksi tersebut memang terinspirasi dari hewan bawah laut.

Untuk menjaga pasokan dan persediaan di berbagai store dalam serta luar negeri, Peggy memberikan kualitas yang sama dan kuantitas sesuai permintaan. Perempuan yang sangat banyak terinspirasi dari ragam mode di Australia ini menerapkan production planning untuk membantu semua pesanan dapat dikirim tepat waktu, serta menerapkan 100% quality control untuk seluruh pesanan yang dikirim.

"Ada beberapa klien yang langsung datang dan memesan kepada kami apabila mereka menyukai rancangan kami," tukas anak kedua dari empat bersaudara ini. (M-2)

Komentar