Eksekutif

Membawa Cita Rasa Lokal untuk Bir Tanah Air

Senin, 28 November 2016 03:41 WIB Penulis: Retno Hemawati

MI/RETNO HEMAWATI

BONA Budhisurya, Presiden Direktur PT Lovina Beach Brewery, memang sudah lama jatuh cinta dengan bisnis minuman beralkohol.

Bagi Bona, kepiawaian membuat bir bukanlah warisan, melainkan sebuah ilmu yang dipelajari melalui pengalaman, pengamatan, dan perisetan.

Bona mulai mengenal bir sejak masih bersekolah di Indonesia.

Seusai menamatkan pendidikan SMA-nya, dia mulai menimba ilmu di luar negeri.

Dari kehidupannya di mancanegara dan kesukaannya melakukan traveling ke berbagai belahan dunia, dari sana dia menemukan bahwa bir di setiap negara itu memiliki keunikan masing-masing.

Dari sanalah dia memulai ide untuk mulai menggeluti bisnis minuman keras tersebut.

Kebetulan saat itu bir berbahan baku alami yang dibuat secara tradisional, tetapi berkualitas tinggi (craft beer) tengah menjadi tren di luar negeri.

Bahkan bir jenis ini menjadi identitas suatu kota atau daerah.

Mengingat Indonesia juga kaya dengan tipe minuman berakohol jenis ini, dia pun tertarik untuk menekuni bir jenis ini.

"Craft beer di Amerika, Eropa, dan Australia itu sangat booming, saat itulah saya pikir bir ini sangat spesial. Jadi, saya belajar, di Indonesia enggak ada dan mesti bikin," ujarnya membuka perbincangan dengan Media Indonesia di Jakarta, Rabu (2/11).

Dia mengaku, sejak awal 2010, dia telah memulai bisnis ini dengan cara mencoba segala jenis bir, mencoba membuat, terkendala, berimprovisasi, dan akhirnya menemukan formula yang pas.

"Kami improvisasi terus karena iklim tropis di Indonesia membuat kualitas berubah. Akhirnya kami berhasil mendapatkan yang paling baik."

Menurutnya, membuat memproduksi craft beer di Indinesia sudah sangat mendesak karena bir yang impor sudah terlalu banyak beredar dengan harga yang relatif mahal.

"Karena bir luar negeri sudah mulai masuk seperti Erdinger, Hoegaarden, dan berbagai merek lain. Bir impor sudah mulai masuk, sedangkan harganya mahal sekali. Kita mesti membuat yang lokal dengan kualitas impor yang bisa kita banggakan. Kalau enggak, barang impor akan menguasai pasar," ucapnya optimistis.

Berbicara tentang pasar, dia mengungkapkan ada tantangan saat menjual craft beer, yaitu menaklukkan daerah yang terbiasa dengan bir komersial.

Untuk itu dia perlu melakukan edukasi.

Untuk kota-kota besar yang open minded, menurutnya, tidak terlalu sulit karena kebanyakan penduduknya mudah menerima hal yang baru.

Kini Stark Beer, merek craft beer yang diproduksi perusahaannya telah banyak diterima di Bali, Jakarta, Balikpapan, Bandung, dan Surabaya.

Selebihnya masih dalam tahap finalisasi untuk memasarkan Stark Beer di Papua, Batam, Samarinda, dan Medan.

Bona bercerita saat ini ada fenomena unik, yakni perusahaan craft beer di berbagai negara sedang menjadi incaran industri bir yang lebih besar.

"Banyak pelanggan bir komersial pindah ke craft beer. Perusahaan besar sedang ketakutan dan mulai membeli perusahaan bir kecil, tapi kualitasnya bagus."

Dia masih memegang keyakinan para penggemar bir lambat laun akan paham kualitas dan harga murah tidak menjadi penting lagi.

"Jadi mereka minum sambil menikmati, dunia berimprovisasi," tutup penyuka olahraga motor sport itu.

Bali

Untuk memperluas pasar, Stark Beer kini memiliki sejumlah varian rasa.

Saat ini sudah ada enam varian baru craft beer yang diproduksinya, yaitu wheat, dark wheat, Indonesian pale ale (IPA), low carbohydrate lager, lychee ale, dan mango ale.

Ditambahkan, secara volume produksi, craft beer ini berbeda dengan bir komersial karena dibuat sangat terbatas atau dalam kata lain dibuat dalam skala kecil.

Dia beralasan membatasi jumlah pembuatan karena ingin menjaga keunikan bir yang diproduksinya.

"Kalau kami membuat craft beer dengan volume yang banyak, kita tidak akan punya banyak varian. Sementara menawarkan craft beer itu sebenarnya ialah tantangan tersendiri karena sangat unik, tergantung suasana dan lidah masing-masing, kalau bikin bir

komersial semua orang masih bisa terima," jelas dia.

Bona juga mengungkapkan mengapa dirinya membuat craft beer dan bukan bir komersial yang harganya relatif lebih murah.

"Craft beer pada umumnya mengutamakan rasanya terlebih dahulu, kualitasnya kita dapatkan baru menentukan harga. Kalau bir komersial memikirkan daya jangkau beli masyarakat dahulu atau menentukan harga, baru kemudian produksi, jadi metodenya terbalik," terang dia.

Saat ini dari semua varian bir Stark yang merupakan satu-satunya craft beer di Indonesia dibanderol seharga Rp27.500 sudah termasuk PPN 10%.

Bir yang dibuat di Singaraja, Bali, itu juga mendukung kebijakan pemerintah agar anak-anak di bawah umur tidak mengonsumsi minuman beralkohol jenis bir.

"Tapi sayangnya pejabat kita salah langkah, yang dilarang berjualan ialah minimarket. Itu seperti salah angle, tidak tepat. Kalau memang tujuannya yang minum alkohol mesti ada batasan umur kemudian ketahuan kalau menjual untuk anak di bawah umur, ya tinggal izinnya dicabut. Kenapa mesti tidak boleh di semua?" tanya dia.

Pendapat itu asalnya dari dirinya yang mengetahui kebijakan di luar negeri, yakni pembeli minuman beralhokol harus menunjukkan identitas.

Dia juga mengungkapkan alasan mengapa PT Lovina Beach Brewery yang dipimpinnya membuat pabrik di Bali.

Menurutnya, membuat industri alkohol di Pulau Jawa masih sensitif.

Dirinya juga sempat terpikir untuk membangun pabrik di sebuah kota di Jawa Barat, yakni sumber air bersih yang juga menjadi bahan baku utama pembuat bir selain gandum tersedia.

"Tapi penduduknya mungkin enggak bisa terima jika kita membuat pabrik bir, mereka lebih bisa menerima jika ada pabrik minuman mineral kemasan."

Dia menambahkan, di Bali, kultur dan masyarakatnya sangat mendukung, selebihnya air bersih juga tersedia melimpah.

"Bali itu sangat welcome, penduduknya sangat open minded. Kita juga merekrut penduduk lokal untuk berkerja dengan kami. Selain itu pasar bir juga tersedia di Bali, jadi ada timbal balik juga di sana," katanya.

Terkait dengan penduduk lokal, dia bercerita selama ini menganggap para pegawainya yang berjumlah 60 orang dengan semangat kekeluargaan selain memberikan gaji yang melebihi upah minimum provinsi.

Tidak hanya itu, menurutnya, jika ada karyawan yang membutuhkan bantuan karena sakit atau masalah internal keluarga, akan dibantu.

"Ya, mereka kan keluarga kami juga. Gaji mereka juga bagus karena kita membuatkan orang yang berkualitas. Rupanya hal itu juga yang membuat mereka loyal. Kami juga butuh mereka apalagi saat harus lembur karena banyak permintaan. Itu hal yang tidak mungkin jika di luar negeri karena sepenuhnya profesional," katanya.

Bir baru

Tahun ini pihaknya telah mempersiapkan diri untuk memunculkan craft beer baru di tahun mendatang.

Ada dua craft beer baru: coffee porter dan golden ale.

"Yang pertama itu semacam kopi dingin tapi bir, aroma dan creamy-nya dapat, sementara yang kedua adalah bir yang populer di Inggris. Dua itu sudah di-approve oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan."

Selebihnya dia ingin membuat bir segar seperti Corona yang asyik dinikmati di tengah teriknya matahari dan dinikmati di pinggir pantai seperti Corona.

Dia kemudian melanjutkan ada kemungkinan memilih buah buah yang eksotis seperti mangga atau nangka yang 'lebih Indonesia'.

"Bisa aja kita buat untuk edisi khusus yang dibuat terbatas. Namun, kalau permintaan tinggi karena karakternya sangat kuat, kita produksi lebih banyak. Kemungkinan itu sangat terbuka," jelas dia.

(E-4)

____________________________________________

BIODATA

Nama :Bona Budhisurya

May 1996 Bachelors degree in Mechanical Enginering from Franklin

University, Columbus, OHIO, USA.

Sept 1996-1998 working in PT Aisin International, subsidery of PT

Astra International, Manufacture Car Parts for Toyota.

Position:

Engineering Supervisor in Quantum Leap program.

1997-2003 together with his mother as fashion designer, open ethnic

furniture shop in Kemang called PERNIQUE.

Then in 1999 open WARNA by Pernique gallery & restaurant together with his brother Reeza.

2001 open the first wine bar in Jakarta called Manna by Dionysus.

2002 open supper Club called Embassy

2003 open live band and restaurant concept called SCORE!

Jan 2003 also form an entertaiment group called OPCO Indonesia.

Then follow by many F&B outlets and concept that can be seen in OPCO Indonesia company profile.

2010 STARK Beer was born And after that you can get the detail di web site www.stark-beer.co.id.

Komentar