PIGURA

Menjelma Wanara

Ahad, 27 November 2016 08:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

DRAMA media sosial (medsos) menggiriskan di negeri ini belum akan berujung. Entah hingga kapan dan akan sampai di mana, pengeksploitasian perangkat modern itu sebagai medan menumpahkan segala kemiringan dan keganjilan. Yang pasti, akibatnya, kini, martabat kita sebagai manusia beradab terancam terjerembap.

Dengan merenungkan sikon yang bergidik itu, lagi-lagi mengingatkan pada kisah keluarga Resi Gotama-Dewi Indradi di Pertapaan Grastina dalam cerita wayang. Akibat ketidakhati-hatian mengelola medsos cupumanik astagina, keluarga mereka kualat. Ketiga anak mereka secara dramatis 'turun' derajat sekelas primata.

Anak sulung, Anjani, yang semula berparas cantik jelita, berubah wajah menjadi kera dengan mulut penuh deretan gigi yang runcing. Dua adik laki-lakinya, Guwarsa dan Guwarsi, menjelma menjadi wanara berbulu kemerahan lengkap dengan ekor yang menjulang.

Petaka yang menimpa keluarga Gotama-Indradi itu sesungguhnya akibat mereka belum siap menguasai cupumanik. Galibnya, pusaka itu milik dewa dan hanya titah sederajat yang dapat memanfaatkannya dengan tepat. Bila yang mengaplikasikan masih berkelas 'rendahan', pusaka itu akan menjadi bumerang.

Perselingkuhan

Syahdan, Bathara Surya memberikan kado istimewa berupa cupumanik astagina kepada Indradi, bidadari Kahyangan, di hari pernikahannnya dengan Gotama. Tiada yang tahu apa alasan Bathara Surya menghadiahkan 'barang elite' Mayapada tersebut. Akan tetapi, bila diulik pada satu sisi track record-nya, tidak sulit menemukan jawaban penghuni Kahyangan Ekacakra tersebut begitu bermurah hati kepada Indradi.

Dari sikap dan perilakunya, Bathara Surya dikenal sebagai dewa thukmis (bathuk klimis). Itu istilah untuk mengecap lelaki yang gampang tergiur oleh perempuan aduhai. Dengan meminjam bahasa 'orang sono', lelaki thukmis itu sama saja seorang playboy.

Pesan Bathara Surya yang tertulis di dalam bungkus kado, bila Indradi merasa ingin bertemu (kangen) dengan dirinya atau sebaliknya, pusaka itulah mediumnya. Maka, Indradi selamanya diminta untuk tidak jauh-jauh dari cupumanik tersebut.

Pesan 'provokatif' itu begitu menancap di lubuk hatinya. Begitu pula dengan ketampanan sang 'Don Juan' tersebut. Namun, karena rumah tangganya harmonis, pusaka itu (untuk sementara) menganggur. Indradi menyimpannya rapat-rapat.

Seiring dengan berjalannya waktu, setelah lahir tiga anak (Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi), kehangatan Gotama-Indradi lambat tapi pasti menguap. Selain akibat (mungkin) faktor usia sang resi, Gotama menghabiskan hari-harinya untuk bersemedi di sanggar pamujan.

Kekeringan dalam kebersamaan itulah yang mengakibatkan Indradi sering nglangut (menerawang). Padahal, libidonya masih tinggi. Nah, pada saat-saat tuntutan hasrat syahwatnya menyapa, pada momen-momen itulah Indradi lalu ingat kepada Bathara Surya.

Tidak tercatat jelas intensitas dan lamanya perselingkuhan Indradi dengan Bathara Surya. Yang pasti, akibat gelora hubungan gelapnya meluap, Indradi alpa mendidik anak-anaknya yang juga masih membutuhkan kasih sayang. Setiap hari Indradi menuntaskan waktunya di dalam kamar dengan berasyik-masyuk bersama simpanannya lewat cupumanik.

Pada suatu hari, Indradi tidak sadar belum mengunci kamarnya ketika sedang memainkan cupumanik. Tiba-tiba Anjani menyelonong dan mendapati ibunya berbinar memainkan telunjuknya pada cupumanik. Seketika itu pula, Anjani tertarik dan memintanya.

Awalnya, Indradi menolak dan melarang putrinya itu. Karena Anjani terus merengek dan mengancam akan mengadu kepada bapaknya, akhirnya Indradi meluluskan permintaannya. Namun, ia mewanti-wanti agar tidak memberitahukan kepada siapa pun, termasuk kepada kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi, serta bapaknya, Resi Gotama.

Mungkin sudah kodratnya, konspirasi antara ibu dan putrinya itu terkuak. Yakni, ketika Anjani tepergok kedua adiknya saat dolanan cupumanik di kamarnya. Dua lelaki muda itu lalu berlomba merebutnya. Akan tetapi, Anjani mempertahankan sekuat tenaga.

Akibatnya, suasana rumah menjadi gaduh. Gotama pun terganggu dari semedinya. Ia lalu keluar dari sanggar dan bergegas menemui anak-anaknya yang bergulat memperebutkan barang tersebut. Gotama lalu merampasnya dan saat itu pula ia tahu siapa pemilik aslinya.

Lalu ia panggil istrinya. Gotama, berpura-pura tidak tahu, bertanya siapa yang memberikan cupumanik. Berulang kali pertanyaan yang sama disampaikan, tapi tidak ada jawaban. Lalu, dengan suara bergetar Gotama mengatakan, diam seperti batu. Saat itu pula Indradi menjadi arca dan kemudian dibuang hingga jatuh ke wilayah Alengka.

Cupumanik yang berada dalam gengamannya itu pun lalu dilempar jauh-jauh hingga jatuh ke tengah hutan dan berubah menjadi Telaga Sumala. Gotama menasihati anak-anaknya untuk melupakan barang laknat tersebut. Namun, Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi tidak menggubris. Seperti telah kecanduan, mereka dengan penuh nafsu berburu cupumanik.

Guwarsa dan Guwarsi yang lebih dulu sampai di telaga langsung menceburkan diri dan mengubek, sedangkan Anjani yang tiba belakangan membasuh mukanya karena merasa kelelahan. Tanpa disadari, wajah Anjani berubah menjadi kera. Lalu, Guwarsa dan Guwarsi pun berubah ujud menjadi wanara setelah mereka mentas dari telaga.

Kekanak-kanakan

Sambil menangis mereka pulang menemui sang bapak. Gotama menjelaskan bahwa apa yang terjadi merupakan karma. Ia menasihati mereka bahwa pusaka wingit tersebut tidak boleh untuk main-main.

Guna kembali ke wujud semula, ketiga anaknya diperintahkan menjalani laku prihatin. Anjani bertapa nyanthaka (seperti katak) di Telaga Nirmala. Guwarsa ngidang (berperilaku layaknya kidang) dan Guwarsi ngalong (ala kalong) di Hutan Sunyapringga.

Moral cerita kisah ini ialah bahwa Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi belum berhak menggunakan cupumanik astagina. Terlalu berbahaya bila belum dewasa telah bermain-main dengan pusaka tersebut.

Kejadian ini juga akibat keteledoran kedua orangtua yang kurang memberikan perhatian dan pendidikan kepada putra-putri mereka. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing sehingga anak-anak mereka bersikap liar.

Dalam konteks kekinian, wajah medsos kita ialah potret perilaku Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi alias kekanak-kanakan. Medsos yang sejatinya perangkat tingkat peradaban justru menjungkalkan martabat penggunanya akibat sepak terjang yang uneducated. (M-4)

Komentar