Wirausaha

Ibu dan Anak Kompak dan Keren

Ahad, 27 November 2016 01:25 WIB Penulis: (Her/M-1)

Nurheidi Aditian

DALAM balutan gaun berwarna biru berpadu putih, Hasnadiaz terlihat menawan laksana putri-putri Eropa. Balita yang baru akan menginjak usia 3 tahun itu, tampak nyaman kendati mengenakan gaun yang mengembang di bagian bawahnya. Menariknya, Jumat (16/9) itu ketika kami berjumpa Diaz di rumahnya yang terletak di Greenland Bogor, ibunya Nurheidi Aditiani, 33, pun mengenakan gaun dengan model yang sama. Gaun itu tidak mereka beli dari desainer pakaian, tetapi dibuat sendiri.

Meski tidak pernah memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang desain fesyen, Heidi yang dulu berkuliah di Hortikultira Institut Pertanian Bogor, mengaku memiliki hobi di bidang tersebut sejak lama. Hobi lama ini baru dia bangkitkan kembali ketika mulai memutuskan menjadi ibu rumah tangga demi bisa fokus mengurus anak dan suami.
Keputusan berhenti kerja adalah pilihannya sendiri setelah akhirnya kehadiran buah hati yang lama dinanti. Namun dengan jujur, Heidi yang dulu sempat bekerja menjadi Finance And Project Management Officer ASEAN Social Forestry, sempat mengalami gegar akibat perubahan itu. “Pas berhenti kerja, ketemu teman itu malu banget,” akunya.

Institut Ibu Profesional
Dalam upaya mengatasi berbagai tantangan yang dihadapinya sebagai ibu muda dan ibu rumah tangga, Heidi berkenalan dengan Institut Ibu Profesional. Tak hanya mengembalikan kepercayaan diri lewat perubahan sudut pandang terkait dengan tanggung jawab sebagai ibu, Heidi pun mempelajari pentingnya IRT memiliki kemandirian finansial. Dia pun memilih menggeluti hobi lamanya, mendesain pakaian.

Gaun pesta anak dan ibu secara spesifik dipilihnya karena masih jarang yang bermain di pasar itu. “Saya pakai ilmu manajemen, sebelumnya riset pasar dulu,” ujar perempuan yang sempat mengambil S-2 double degree business management dan social science di Glasgow University, Inggris, tersebut. Sebagai bonus, dia pun jadi memiliki kesempatan untuk memiliki momen seru mengenakan gaun kembaran bersama putrinya, Diaz. “Saat Diaz ulang tahun ke-2, saya buat baju pesta sendiri jadi kembaran,” kisahnya.

Usaha yang belum berusia setahun itu memiliki omzet perbulan mencapai Rp10 juta-Rp20 juta. Padahal, dia terbilang tidak ‘ngoyo’ dalam berbisnis. Suaminya, Aswad, 32, ialah seorang pelaut. Di pekan ketika suaminya libur, Heidi berkomitmen untuk libur dari urusan D’Aira Fashion. Baginya, IRT adalah pekerjaan utama dan wirausaha tersebut adalah usaha sampingannya.

Pameran di Inacraft
Usahanya makin berkembang, menurut Heidi, tidak terlepas dari kesempatan mewakili UKM dari Bogor dalam ajang Inacraft 2016. “Dari seribuan UKM Bogor yang ikut seleksi, terpilih empat, kita salah satunya.” Untuk baju anak, rentang harga yang ditawarkan Rp250 ribu-Rp500 ribu. Sementara itu, untuk baju ibu dengan model yang sama, harganya Rp750 ribu-Rp2,5 juta. Meski mulanya hanya menjual pakaian ibu dan anak perempuan, ada kalanya dia menerima pesanan baju sarimbit untuk sekeluarga. Kebanyakan baju hanya dibuat sesuai dengan pesanan, tapi ada juga yang disiapkan ‘ready stock’. Ada pula yang memesan dengan desain khusus. Pemasaran paling banyak ialah lewat akun Facebook Baju Pesta Ibu dan Anak Muslimah Modern.

Terus belajar
Ketika kami temui, Heidi masih mengurusi semuanya sendiri, mulai pemesanan, promosi, membuat pola, ­belanja bahan, hingga ­bahkan menjahitnya pun sendiri. Hal itu dilakukannya dengan membatasi waktu kerja karena keluarga tetap prioritas utama. “Paling lama saya hanya 4 jam ke luar rumah,” ungkapnya. Makanya dia ­sering menolak tawaran ­seminar dan acara di luar kota.

Di sisi lain, Heidi yang ketika kuliah dulu kerap ambil kursus singkat di ESMOD, kini juga rutin mempelajari teknik baru ke seorang desainer. Sepaket kursus demikian diakuinya mahal, tetapi dia tak ragu untuk sesekali membuka pelatihan untuk ­membagi ilmu yang didapat, kepada ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. ­Baginya bisnis bukan sekadar cari keuntungan, tapi juga ­menebar manfaat kepada ­orang ­sekitar. (Her/M-1)

Komentar