Wirausaha

Karakter Jepang, Keluaran Bekasi

Ahad, 27 November 2016 01:05 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI/BARRY FATAHILLAH

KETERTARIKAN Maria ­Angelica Sheryne, 22, pada cosplay telah tumbuh sejak 2008 silam. Kala itu dia masih SMP dan menggandrungi kebudayaan Jepang. Dia pun penasar­an bagaimana rasanya menghidupkan karakter yang ada dalam komik ataupun anime Jepang. Beruntung, hobinya didukung keluarga. Karena pada akhirnya, hobi itu yang mengantarkannya sukses menjadi pengusaha. “­Keluarga mendukung hobi aku, apa pun asal positif dan mereka melihat bahwa cosplay tidak negatif. Aku ­beruntung karena banyak teman lain tidak didukung keluarga,” ujar Angelica yang ditemui Kamis (3/11). Angelica mengoperasikan bisnisnya dari rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Diakui olehnya, hobi itu tidaklah murah. Dulu dia biasa memesan kostumnya di pembuat kostum khusus, dengan kisaran Rp2 juta-Rp3 juta. “Terus daripada mahal, kita bikin sendiri, dijahit ke penjahit yang kita percaya,” kisahnya soal awal merintis usaha pembuatan kostum yang kini bernama Angel Rose Design. Menariknya, bisnis itu dimulainya sekitar 6 tahun silam ketika ia masih SMA. Sejak SMP, dia memang memilih homeschooling jadi pembagian waktu luangnya lebih leluasa.

Dimulai saat SMA
Lantas bagaimana seorang anak SMA bisa memodali usahanya? Selain menyisihkan uang saku, Angelica juga dibantu orangtuanya dengan modal awal Rp1 juta. Dengan uang itu, dia membuat tiga baju bergaya harajuku. Karena semua dipelajari secara autodidak berbekal buku dan tutorial di internet, kemampuannya pun meningkat secara bertahap. Kostum-kostum awalnya sederhana saja, seperti seifuku, yakni seragam sekolah Jepang dengan gaya pelaut. Pemasarannya secara daring lewat media sosial. “Dulu customer yang pertama-pertama didapat dari Facebook, kita ketemuan untuk COD (cash on delivery) karena baru,” ungkap Angelica memaklumi kepercayaan belanja online masih susah pada masa itu.

“Aku juga dulu sempat mikir, anak SMA bisnis begini, orang akan percaya atau enggak, belanja online pula. Nyatanya banyak memang yang cari,” ujar perempuan yang tergolong detail dan perfeksionis itu. Saat ini saking banyaknya pesanan, Angelica memiliki daftar tunggu pelanggan sampai 6 bulan lamanya lantaran ada puluhan pesanan yang masuk, sedangkan penjahitnya hanya ada satu atau dua orang. Dulu malah, pernah sampai pelanggan harus tunggu nyaris setahun, sebelum kostumnya mulai diproses.

Menyamai karakter
Berbeda dengan desainer pakaian lain yang bisa bebas berkreasi, pembuat kostum cosplay tidaklah demikian karena pada dasarnya mereka membuat sesuai dengan karakter yang ada dalam komik atau anime. Tantangannya ialah bagaimana membuat kostum semirip mungkin dengan karakternya. Karenanya perburuan bahan ­adalah proses yang sangat memengaruhi kualitas. Menurut Angelica, saat ini kebanyakan bahannya didapat di Indonesia. Hanya apabila ada kebutuhan khusus, bahan didatangkan dari Jepang. “Dulu kita cuma bisa janjikan mirip 90%, kalau sekarang kita mulai printing bahan sendiri jadi bisa persis,” imbuh Angelica soal perkembangan bisnisnya.

Sejak kecil, dia memang hobi menggambar. Demi mendukung bisnisnya, kemudian dia sempat kuliah ESMOD, sayang tidak sempat menyelesaikan ujian lantaran kala itu sering sakit. Kini demi menambah ilmu, Angelica yang juga mulai merambah desain baju gaun dan pengantin, sedang studi di Abineri Ang. Kostum yang dibuatnya memiliki harga yang variatif tergantung bahan dan detail karena selain baju, dia juga bisa menyiapkan aksesori pelengkapnya seperti rambut palsu hingga sepatu. Untuk kostum seragam sekolah Jepang, harganya di kisaran Rp600 ribu. Kalau berbahan kulit, biasanya di atas Rp2 juta. Sejauh ini, kostum paling mahal yang dikerjakannya mencapai Rp4 jutaan. Selain dari berbagai pelosok nusantara, pesanan datang dari Australia dan Singapura.

“Kostum kaya gini gak semua orang bisa bikin,” kata Angelica yang meyakini peluang bisnisnya masih besar. Dalam sebulan ketika sedang ramai pesanan, dia bisa mendapat keuntungan sampai Rp10 juta lebih. Pemesanan paling banyak, menurutnya didapat dari pemasaran lewat media sosial. Namun begitu, dia juga rutin memamerkan Angel Rose Design di ajang-ajang seperti Indonesia Comic Con. Lewat ajang seperti itu, dia bisa bertemu klien dari korporat, bukan hanya sesama pecinta cosplay.

Butik cosplay
Terus belajar dan mengembangkan teknik untuk mendapatkan hasil presisi menyerupai karakter anime aslinya, menjadi hal yang dikejar Angelica. Di sisi lain, dia juga berharap bisa menjadi yang pertama di Indonesia untuk membuat butik cosplay. Selama ini, dia masih mengerjakan segala sesuatunya sendiri, mulai perburuan bahan, membuat pola, hingga tahap finishing. Bahkan untuk pemesanan di berbagai media, jangan kaget bila pelanggan disapa langsung olehnya, karena memang dipegang sendiri.

Hanya untuk proses penjahitan dia serahkan ke penjahit kepercayaannya. “Saya lihat kalau di tempat lain ada yang pemesanan pakai jasa admin terus sampai di screenshot sama customer, itu bisa membuat karir hancur. Makanya saya pegang sendiri, semua harus fast response,” ungkapnya. Di sisi lain, gagal bukanlah istilah asing baginya. Kadang karena pecinta cosplay rata-rata detil dan perfeksionis, dia pun menemukan pelanggan yang kurang puas dengan hasilnya. Demi kepuasan pelanggan, dia pun memungkinkan revisi agar sesuai dengan permintaan pelanggan. (M-1)

Komentar