Gaya Urban

Cara Perempuan Aman Mendaki

Ahad, 27 November 2016 00:45 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. KURNIA

PULUHAN perempuan itu mengacungkan salam tiga jari ke udara. Meski salam itu identik dengan penggemar musik metal, kali ini maksudnya jauh berbeda. Bagi para perempuan yang akhir Oktober lalu berkumpul di Bumi Perkemahan (Buper) Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta itu, salam tiga jari melambangkan komunitas pendaki gunung yang mereka usung.
Wanita & Gunung, begitulah nama komunitas yang lambangnya menyerupai huruf W tapi dengan garis vertikal tengah lebih tinggi ketimbang yang lainnya.

Itu mengibaratkan juga tiga gunung dengan puncak tengah yang tertinggi. Acara kumpul di Buper Prambanan merupakan jambore dari komunitas yang terbentuk pada Juni 2015 ini. Selain jambore, Wanita & Gunung telah menggelar acara temu (meet up) di Depok, Bandung, Malang, dan Jakarta. Pendakian bersama sebenarnya baru dilakukan satu kali, yakni pada Agustus 2015. Kala itu, 25 anggota Wanita & Gunung berhasil mencapai puncak Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.

Jumlah kegiatan luar gunung yang jauh lebih banyak daripada pendakian jangan lantas dinilai sebagai ketidakberhasilan komunitas ini. Justru hal itu bisa dilihat sebagai keistimewaan yang belum dimiliki komunitas sejenis. Pasalnya, menurut Desi Melindawati, ada pesan lain yang ingin disampaikan komunitas ini. "Kita memang baru berdiri satu tahun lebih dan mendaki gunung bersama juga sekali. Namun, bukan soal mendaki gunung yang ingin kita sampaikan, melainkan bagaimana seorang pendaki gunung bisa melakukan safety first terlebih dahulu," tutur salah satu pendiri Wanita & Gunung ini kepada Media Indonesia, Senin (21/11).

Pesan dan pembelajaran keamanan dalam mendaki inilah yang mereka sebarkan dalam acara jambore dan temu kumpul. Pesan itu dirasakan makin penting sekarang ini karena makin populernya kegiatan mendaki di kalangan perempuan. Desi menjelaskan persiapan keamanan sebenarnya dimulai sejak tiga minggu sebelum mendaki. Persiapan yang dimaksud ialah olahraga yang dapat membantu menguatkan otot kaki dan melatih stamina, contohnya joging dan naik-turun tangga.

Namun, tiga hari sebelum mendaki, olahraga ini dihentikan agar badan tidak kelelahan saat pendakian. Tidak hanya soal persiapan fisik, Desi dan rekan-rekannya juga berbagi soal persiapan perlengkapan hingga pentingnya pendakian berkelompok dan sistem komunikasi. Seperti olahraga petualangan ataupun ekstrem lainnya, mendaki memang tidak dianjurkan dilakukan sendiri. Adanya teman mendaki sangat penting untuk menghindari berbagai bahaya dalam kegiatan ini.

Di sisi lain, Desi mengingatkan agar setiap pendaki melakukan persiapan dengan baik agar pendakian bersama atau berkelompok tidak justru hanya memberatkan dan membuat repot. "Kalau ada seorang yang persiapannya kurang tentu akan merugikan dan merepotkan teman seperjalanannya. Kita kan naik gunung mau menikmati keindahan alam, bukannya justru mengurusi teman kita itu," tambahnya.

Komunitas Wanita & Gunung juga membuat sebuah sistem yang diberi nama buddy system. Dalam sistem itu setiap rekan atau teman yang sudah tergabung dalam komunitas Wanita & Gunung akan diajarkan untuk memberi informasi detail ketika hendak mendaki gunung. Informasi itu termasuk siapa saja rekan seperjalanan dan juga tahapan-tahapan perjalanan yang dilalui. Sistem itu dilakukan menggunakan ponsel dan walkie talkie. Dengan begitu, anggota komunitas bisa saling memantau keberadaan teman yang sedang mendaki.

Bukan antipria
Meski basis gender tersurat dalam komunitas, nyatanya kegiatan-kegiatan Wanita & Gunung tidak antipria. Bahkan suami dan kekasih dari para pendiri komunitas menjadi tim pendukung yang setia. Desi dan rekan pendiri komunitas Rika Sri Masdawaty mengakui bahwa keikutsertaan pria tetap dibutuhkan karena ada hal-hal yang sulit dikerjakan hanya oleh perempuan, misalnya dalam pendirian tenda. Bagi Rika, dengan persiapan yang matang dan kerja sama maka gunung dapat dinikmati bersama, tanpa bias gender.

"Perempuan dan pria bisa naik gunung, yang penting persiapannya baik. Seorang pria bisa saja gagal dalam melakukan pendakian jika persiapannya kurang ataupun salah. Apalagi sebaliknya kalau perempuan yang minim persiapan, tentunya akan fatal," ujar Rika. Perempuan yang bekerja sebagai karyawati itu menekankan bahwa persiapan harus dilakukan setiap kali hendak mendaki, baik untuk pemula maupun pendaki berpengalaman.

Rika sendiri mengaku telah mendaki sejak SMA. Gunung pertama yang ia jelajahi ialah Gunung Sinabung di Sumatra Utara yang juga tak jauh dari tanah kelahirannya. Hingga saat ini, Rika sudah lupa ada berapa total gunung yang sudah didaki. Menurutnya, dengan persiapan yang baik, perempuan bisa menjadi pendaki seandal pria. Hal yang sama juga dirasakan Karunia Yulyana Dwi Putri.

Perempuan 23 tahun itu menilai persiapan detail bukan menjadi hal merepotkan, justru menambah kenikmatan dari kegiatan itu. Pada akhirnya dengan persiapan matang, para pendaki bisa menikmati keindahan alam dengan puas dan nyaman.
(M-3)

Komentar