PIGURA

Merawat Keberagaman

Ahad, 20 November 2016 08:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

MEMELIHARA perbedaan dalam satu keluarga besar (negara) memang tidak gampang.

Diperlukan berbagai prasyarat dan pengorbanan oleh semua anggota keluarga (anak bangsa).

Selama ini, katup pengaman familier untuk merajut tetap terjaganya kedamaian dalam perbedaan ialah dengan terus mengedepankan toleransi. Akan tetapi, toleransi, dari sisi makna, sebenarnya belum sepenuhnya bisa menjamin terciptanya kedamaian dalam perbedaaan yang langgeng.

Itu karena masih ada semacam 'garis demarkasi' sehingga masih berisiko bilamana batas-batas toleransi tersentuh atau terlangkahi.

Terkait dengan itu, sesungguhnya, ada sikap yang 'grade'-nya lebih ampuh daripada toleransi untuk mewujudkan kedamaian dalam perbedaan.

Apa itu?

Yakni, katresnan atau rasa kasih sayang, yang secara kodrati dimiliki setiap orang. Bila itu tulus diejawantahkan dalam napas kehidupan berbangsa, niscaya kedamaian akan terwujud kuat nan indah, betapa pun luas dan ekstremnya perbedaaan.

Fitrahnya, nafsu kasih sayang melampaui semua sekat sehingga mampu mengikat satu sama lain.

Inilah yang mesti kita tumbuh-suburkan di antara kita yang tercipta sebagai bangsa plural.

Keluarga Mandura

Dalam cerita wayang, memelihara perbedaan dengan fondasi kasih sayang sehingga tercipta kedamaian abadi, secara simbolis dapat kita lihat dalam kisah kehidupan keluarga besar Prabu Basudewa, raja Negara Mandura.

Yang sulung mengasihi adik-adiknya, yang kecil (adik) menyayangi sang kakak. Karenanya, selamanya keluarga trah Basudewa yang beragam itu rukun hingga akhir zaman.

Keberagaman yang mencolok pada mereka (empat anak Basudewa) ada pada watak dan penampilan fisik.

Bahkan, akibat saking tegasnya perbedaan itu, mereka (Kakrasana, Narayana, Bratajaya, dan Udawa) seperti bukan anak-anak dari orangtua (bapak) yang sama. Kakrasana, sebagai anak pertama, lahir dengan warna kulit bule (putih).

Ia berwatak jujur, apa adanya, blak-blakan, dan pemberani. Ketika mudanya, ia rajin bertani dan tekun berkebun. Ia patuh dan bakti terhadap orangtua angkatnya (Antagopa-Ken Sagopi).

Kakrasana juga sangat dekat keluarga dan rumahan, tidak pernah meninggalkan rumah dalam waktu lama. Selain itu, Kakrasana pelindung keluarga. Siapa pun yang mengganggu keluarganya, ia hadapi tanpa kompromi.

Sikap protektif terhadap orang-orang dekatnya tersebut ia pertahankan sampai tua. Sejak kecil hingga remaja, Kakrasana dan adik-adiknya hidup sebagai rakyat kecil di Dusun Widarakandang.

Basudewa menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada Demang Antagopa dan Ken Sagopi.

Seperti halnya anak dusun lainnya, mereka hidup dengan segala kesederhanaannya. Narayana lahir dengan warna kulit hitam cemani.

Narayana pandai bicara, supel, ramah, dan mudah bergaul sehingga banyak teman.

Watak lainnya, gemar bercanda dan berdiplomasi. Karena kesukaannya berguru ke banyak begawan, ia sering meninggalkan rumah hingga berbulan-bulan.

Kemudian Bratajaya, satu-satunya putri Basudewa, berkulit kuning langsat. Wataknya manja kepada keluarga.

Sehari-hari ia rajin membantu pekerjaan rumah, mulai memasak, mencuci, hingga bersih-bersih pekarangan. Kadangkala ia ikut berkebun di ladang di belakang rumah. Adapun Udawa, yang berkulit sawo matang, memiliki sifat pendiam, konsekuen, tapi rada dugal.

Ia akrab dan selalu mengikuti Narayana ke mana pun pergi. Hingga dewasa, Udawa tidak pernah pisah dengan Narayana. Meski keempat putra dan putri Basudewa itu beragam, mereka memiliki rasa saling mengasihi dan menyayangi.

Ini bukan berarti tidak pernah ada 'konflik' di antara mereka.

Berantam kadang terjadi, tapi mereka cepat kembali rukun sehingga tidak terjadi perpecahan. Motonya, rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, bersatu menjadikan kukuh, bertengkar mengakibatkan kehancuran.

Di masa dewasanya, Kakrasana nglungsur kawibawan (menggantikan) ayahnya sebagai Raja Mandura bergelar Prabu Baladewa.

Sedangkan Narayana, atas jasanya, mendapat anugerah dari dewa, yakni menjadi raja di Dwarawati bergelar Prabu Sri Bathara Kresna. Ia mengangkat Udawa sebagai patih.

Adapun Bratajaya dipinang Arjuna yang kelak menurunkan cucu yang menjadi raja di Yawastina.

Sikap saling menyayangi dan mengasihi terus terpupuk meski mereka terpisah karena mengemban kewajiban masing-masing. Meski telah menjadi raja, Baladewa ajek mengunjungi adik-adiknya. Ia tidak pernah menempatkan diri sebagai yang paling tua sehingga yang muda harus sowan kepadanya.

Baladewa tulus terus melangkahkan kaki untuk menyambangi para saudaranya.

Dalam keluarga Mandura, sebenarnya masih ada saudara lain yang bernama Kangsa. Namun, sesungguhnya Kangsa bukan anak kandung Basudewa.

Ia benih dari Gorawangsa dari Negara Gowabarong. Akan tetapi, karena lahir dari rahim Maerah, Basudewa terpaksa mengakuinya sebagai anaknya demi menjaga kewibawaan istana. Maerah merupakan salah satu istri Basudewa.

Kangsa disirnakan Kakrasana dan Narayana dari muka bumi karena perilakunya membahayakan keutuhan keluarga.

Kangsa pun memaksakan kehendak menguasai takhta Mandura. Ketika mencapai tujuan itu pun, ia berusaha membunuh para saudaranya.

Berani mengalah

Nilai dari cerita keluarga besar Mandura itu ialah kemampuan menjaga keharmonisan keluarga yang anggotanya beragam.

Itu terwujud berkat murahnya kasih sayang di antara mereka. Yang tua (besar), disimbolkan pada Baladewa, tidak pernah ingin menang sendiri, tidak memaksakan kehendak untuk menguasai. Ia justru mengemong dan mengayomi.

Baladewa tidak lelah pula menjalin silaturahim dengan mendatangi adik-adiknya. Baladewa jauh dari watak jemawa, justru ia selalu mengalah kepada yang muda (kecil) setiap ada masalah.

Dalam kearifan lokal, sikap Baladewa tersebut selaras dengan piwulang (ajaran) leluhur, Wani ngalah dhuwur wekasane. Maknanya, bersikap berani mengalah untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi atau kemenangan hakiki di kemudian hari.

Dalam konteks kebangsaan, sikap dan perilaku Baladewa itu bisa dijadikan renungan. Demi mewujudkan kedamaian dalam keberagaman dibutuhkan sikap bijak wani ngalah.

Ini bukan berarti kalah, melainkan demi kepentingan yang lebih besar (mulia), yaitu kerukunan dan keutuhan bangsa. Tentu, untuk bersikap luhur seperti itu, tidak akan bisa bila tidak memiliki rasa kasih dan sayang. (M-4)

Komentar