Pesona

Untuk Jiwa Bebas Muslimah

Ahad, 20 November 2016 04:00 WIB Penulis: Hera Khaerani

AFP/ADK BERRY

Gaya busana muslim kini makin beragam, termasuk memasukkan unsur maskulin dan menantang para biker, seperti yang terlihat pada koleksi Norma Hauri. APA jadinya jika seorang muslimah ingin bergaya ala pengendara motor (biker)? Di tangan Norma Moi, keinginan itu sah-sah saja dan terwujud elegan, santun tapi juga tanpa kehilangan kesan tangguh dan bahkan garang.

Begitulah yang terlihat dari koleksi terbaru sang desainer yang diperagakan di Jakarta Fashion Week 2017. Koleksi dalam label Norma Hauri itu mengangkat berbagai ciri khas gaya bikers, tapi dikemas tetap dalam garis busana yang islami. Contohnya ialah jumpsuit berwarna merah dengan aksen cape berekor. Garis islami terwujud dalam busana yang menutupi seluruh tubuh dan menyamarkan bentuk dengan potongan yang longgar. Sementara kesan tangguh hadir lewat garis lengan yang tegas dan kancing besar di ujung lengan.

Lalu ada pula celana berpinggang tinggi yang dipadankan dengan atasan dengan lapisan luar bahan lipit berwarna hitam. Aura maskulin makin kuat dengan aksesori ikat dua ikat pinggang double buckle dan sarung tangan setengah telapak. Tidak ketinggalan, Norma juga membuat penutup kepala yang mengingatkan pada head cover para pemotor. Norma yang berkolaborasi dengan Rinaldy A Yunardi mengungkapkan bahwa ia terinspirasi dari gaya komunitas perempuan biker di era 50-an.

"Jiwa bebas wanita biker yang bertemu dengan gaya menantang menunjukkan pemberdayaan perempuan dan kemandirian yang kuat untuk mencapai tujuan hidup juga kebahagiaan," ujar Norma. Norma masih bermain dengan teknik lipat dan lipit di koleksi musim ini. Di sisi lain, dia juga mengeksplorasi teknik finishing bahan dari UTIC Co Ltd, yakni perusahaan finishing dan pewarnaan tekstil asal Jepang. Termasuk di antaranya teknik emboss, teknologi batch weight reduction, lipit, (dyeing), juga shibori yang merupakan teknik kuno khas Jepang dari Arimatsu, Nagoya.

Sebagai catatan, UTIC menjadi pemasok paling besar untuk bahan yang diekspor ke Timur Tengah dari Jepang. Itu berkat kemampuan menghasilkan bahan dengan warna hitam paling pekat, tapi berbahan ringan dan teduh, sesuai kebutuhan muslimah di Timur Tengah. Nah, melalui keunggulan itu Norma manfaatkan dengan membuat gaun-gaun bervolume besar yang dijamin tetap ringan berkat teknologi pemrosesan bahan dari UTIC. Di antara gaunnya, ada yang dibuat tahan air (water resistant), ada juga ball gown yang 'wind proof'. "Ini bisa cocok buat yang mau prewed di Iceland, sekarang kan lagi tren begitu, bahannya juga ringan," sebutnya santai.

Beragam gaya
Eksplorasi gaya dalam busana muslimah juga terlihat di banyak label lain yang tampil di JFW 2017. Lewat Jenahara Black Label, Jenahara mengambil tema Ignis fatuus, yakni cahaya yang kerap muncul di malam hari. Ignis fatuus juga memiliki makna lain, yakni harapan. "Di koleksi kali ini saya berharap konsumen mempunyai pilihan lain untuk busana malam tanpa harus terlihat berlebihan, tapi tetap memberikan kesan elegan," ujarnya.

Koleksinya didominasi warna hitam, putih, abu-abu, dan navy. Potongan desain yang dipilihnya terbilang tegas dan minimalis. Meski begitu, kemewahan tampak lewat permaian detail kristal Swarovski. Ada juga yang mengaplikasikan detail payet di bagian bahu.

Sementara itu, Rani Hatta masih lekat dengan karakter sporty minimalis, tapi dengan sentuhan quirky ala Jepang. Busananya antara lain terdiri atas blus sweter berkerah tinggi yang dipadankan dengan rok lipit dan sepatu bot.

Untuk muslimah yang menyukai gaya feminin dan romantis, Ria Miranda dan Poppy Theodorin mengeluarkan koleksi dengan warna-warna lembut dan dengan aksen flora. Bahan-bahan yang ringan melayang dikemas dengan teknik lipit ataupun tumpuk. (M-3)

Komentar