Seni

Seniman, Percaya Dirilah

Jum'at, 18 November 2016 22:00 WIB Penulis: Irana Shalindra

MI/Irana

TIDAK ada panggung di ruang kelas berukuran kurang lebih 14x8 meter persegi itu. Tidak ada dekorasi apa pun selain karpet abu dan papan tulis putih. Sistem suara yang tersedia juga hanya ala kadarnya. Namun, performa para penari dari delegasi Pegiat Budaya 2016 tidak mengendur.

Disaksikan oleh mayoritas para peserta Pegiat Budaya lain, dan sedikit perwakilan dari Auckland University of Technology (AUT) serta mahasiswa Indonesia, lima penari Indonesia ‘mentas’ dengan mengusung tari topeng sebagai benang merah.

Wisnu AS Wicaksono dan Tri Anggoro menampilkan Klana Sambunglangu, Dedy Satya Amijaya dengan Bujang Ganong, Nuranani Maman Iman mengusung Topeng Klana Bandopati, dan Parrisca Indra Perdana dengan Topeng Getak.

Kendati sarana pendukung tidak optimal, seperti sound system yang tersendat beberapa kali ketika Wisnu dan Anggoro tampil, mereka seolah tidak menghiraukannya.

Pementasan yang solid terbukti mengundang kekaguman dari para audiens. Salah satunya adalah Elisabeth Vanefeld, Executive Director of The Big Idea Charitable Trust yang telah berkecimpung di sektor kreatif Selandia Baru lebih dari tiga dasawarsa.

“Bakat dan dedikasi para penari Indonesia ini amat mengejutkan saya. Skill, presisi, dan keterlibatan total terhadap apa yang mereka lakukan membuat saya tergerak," ujarnya kepada wartawan Media Indonesia Irana Shalindra, seusai pertunjukan sekaligus presentasi dari delegasi Pegiat Budaya 2016 di ruang WF303, Kompleks AUT, Auckland, Jumat (18/11).

Dalam kesempatan itu, 49 peserta program racikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut turut membawakan presentasi berdasarkan kelompok disiplin seni dan budaya. Kelompok teater misalnya, mengetengahkan perkembangan teater di Tanah Air yang dimulai sejak era kolonialisasi Belanda. Kelompok tari maupun kelompok musik menyampaikan perkembangan seni kontemporer dengan pengaruh kuat dari tradisi.

"Presentasi dan penampilan mereka memperluas wawasan saya mengenai perkembangan di Indonesia sejak era kolonialisme. Anda mungkin tidak tahu, tapi saya seorang Belanda," kata Vanefeld.

"Saya menikmati dapat melihat lebih banyak karya kontemporer. Keseluruhannya memperlihatkan bahwa tidak ada pemisahan antara masa lalu dan sekarang," imbuhnya.

Oleh karena itu, Vanefeld menilai, amat krusial bagi seorang seniman untuk menghormati tradisi, di samping kegigihan dan komitmen. Tradisi, menurutnya, menjadi fondasi untuk seniman melahirkan interpretasinya sendiri serta membantu masyarakat sekitarnya menjadi lebih memahami asal-usul dan budaya mereka.

"Itu adalah peran seniman. Maka itu, milikilah kepercayaan diri bahwa seniman punya peran penting dalam komunitas," pungkasnya.

Koordinator peserta Pegiat Budaya 2016, sekaligus koordinator kelompok museum-galeri, Daniel Haryono, ikut angkat jempol terhadap profesionalistas para penari yang tampil.

"Profesionalitas mereka solid meski penonton sedikit, sebagian besar internal, karena di kampus sedang ada libur semester musim panas,” jelasnya. (X-12)

Komentar