Podium

Giliran Melayu Presiden Singapura

Kamis, 17 November 2016 05:40 WIB Penulis: Saur Hutabarat

AP

SEDIKITNYA lima nama tokoh Melayu telah dimunculkan ke permukaan digadang-gadang bakal menjadi presiden Singapura.

Semua itu buah pemikiran besar PM Lee Hsien Loong untuk mengubah konstitusi, bahwa kedudukan presiden Singapura mencerminkan masyarakat inklusif, masyarakat multiras.

Konstitusi diubah untuk menjamin minoritas menjadi presiden terpilih.

Dalam perdebatan di parlemen pekan lalu, PM Lee tegas mencanangkan sekarang kursi presiden Singapura untuk orang Melayu.

Sejak itu, lima nama tokoh Melayu bakal calon presiden muncul ke permukaan.

Mereka ialah Halimah Yacob, 62, Abdullah Tarmugi, 72, Yaacob Ibrahim, 61, Masagos Zulkifli, 53, serta Zainul Abidin Rasheed, 68.

Semua tokoh itu pernah atau sedang menjadi pejabat publik, anggota parlemen, atau menteri.

Akan tetapi, dua nama yang disebut pertama.

Jika Halimah yang terpilih, itu berarti seorang minoritas ganda Melayu muslim dan perempuan pertama menjadi presiden Singapura.

Singapura berpenduduk 5,6 juta.

Negara itu merupakan negara multiras, dengan komposisi mayoritas rakyat orang Tionghoa (74,1%), Melayu (13,4%), India (9,2%), lainnya (3,3%).

PM Lee berpandangan jauh ke depan demi persatuan dan kesatuan negaranya.

Pertama, ia tak akan lagi menjadi perdana menteri.

Baginya, terpilih pada Pemilu 2015, merupakan terakhir dirinya menjadi PM.

Kedua, PM Lee menegaskan konstitusi haruslah diubah agar kedudukan presiden Singapura sebagai kepala negara terjamin mewakili Singapura sebagai negara multiras dan inklusif.

Konstitusi pun diubah.

Isinya, bila dalam lima kali pemilihan presiden berturut-turut ada ras yang tidak terwakili menjadi presiden terpilih, dalam pilpres berikutnya, jabatan presiden khusus dikompetisikan untuk ras tersebut.

Pilpres tahun depan jabatan presiden itu untuk ras Melayu.

Kenapa?

Lima kali pilpres berturut-turut dihitung mulai 1991, mulai diselenggarakannya pilpres secara langsung.

Yang terpilih menjadi presiden ialah Wee Kim Wee.

Pilpres berikutnya terpilih Ong Teng Cheong sebagai presiden (1993-1999).

Pilpres berikutnya lagi terpilih Sellapan Ramanathan, lebih dikenal sebagai SR Nathan, bahkan menjadi presiden Singapura dua periode (1999-2011).

Sekarang Presiden Tony Tan Keng Yam (2011-2017).

Empat presiden ras Tionghoa dan seorang ras India. Tak seorang pun Melayu.

Karena itu, sesuai dengan amendemen konstitusi, pilpres tahun depan untuk ras Melayu.

"Singapura akan punya presiden Melayu lagi, setelah lebih 46 tahun, sejak Presiden Pertama Encik Yusof Ishak," kata PM Lee di Parlemen, Selasa (8/11).

Keputusan besar konstitusional bagi rakyat minoritas itu mengecewakan Tan Cheng Bock, 76, yang telah mempersiapkan diri untuk maju kembali dalam pilpres tahun depan.

Pada pilpres 2011, ia kalah tipis 7.382 suara atau hanya 0,35% dari presiden sekarang, Tony Tan.

PM Lee Hsien Loong membuat sejarah besar bagi negaranya. Ayahnya, Lee Kuan Yew, pendiri negara.

Ia generasi penerus yang juga mewarisi legacy besar, membuat negaranya yang multiras bukan hanya sejahtera untuk ukuran dunia, melainkan juga bakal utuh bersatu, karena ras apa pun dipastikan suatu masa menjadi kepala negara.

Dalam usia 64, lebih muda daripada SBY, 67, dan Megawati, 69, Lee telah menjadikan dirinya negarawan.

Ia pun menjadi bapak bangsa Singapura, pada zamannya.

Komentar