Inspirasi

Aksi Sang Petani di COP

Kamis, 17 November 2016 01:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/ARYA MANGGALA

BELASAN tahun menjadi petani, Suryono sama sekali tak pernah terpikir untuk bisa menjadi seorang pembicara di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB di Marrakesh, Maroko, yang dihelat 7-18 November 2016.

Selama tujuh menit, Suryono menjadi satu-satunya petani yang berbicara tentang pengalaman dan berbagai ilmu pengetahuannya di hadapan peserta COP Ke-22.

"Bisa ke Maroko itu jelas tidak pernah terbayangkan sama sekali. Berbicara di mimbar selama tujuh menit itu tentu sebuah pengalaman yang luar biasa berkesan untuk saya," kenangnya.

Di hadapan peserta dari 75 negara itu, pria berusia 41 tahun tersebut mengungkapkan pengalamannya beralih dari petani sawit menjadi petani hortikultura, serta bagaimana ia menyosialisasikan peralihan itu kepada petani lain.

Ya, Suryono sempat menjadi petani sawit. Sejak awal 2000-an, ia bertani sawit karena komoditas sawit menjadi andalan Dusun Sukajaya, Kampung Pinang Sebatang Barat, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Sementara, menanam tanaman hortikultura dianggap membuang waktu dan tidak menguntungkan.

Hortikultura merupakan pembudidayaan tanaman di kebun. Biasanya yang dibudidayakan ialah tanaman buah, sayuran, tanaman hias, dan tanaman herbal.

"Awalnya itu saya disebut gila sama masyarakat sekitar kampung saya. Kenapa? Karena saya justru lebih memilih menanam sayur ketimbang memperluas lahan untuk sawit," ujar Suryono ketika berbincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Kamis (10/10).

"Mereka itu berpikir jika menanam sawit adalah yang terbaik, padahal justru menanam sayur jauh lebih baik dan menguntungkan," imbuh Suryono.

Saat berpindah jalur mata pencaharian, Suryono mengikuti pelatihan cara menanam sayur.

Pelatihan pada awal 2006 menjadi titik baliknya menjadi petani hortikultura.

Apalagi, dia berpikir jika hanya menanam kelapa sawit, ia hanya bisa mendapatkan uang saat masa panen.

Masa panen itu pun hanya berlangsung empat tahun sekali.

"Saat itu saya selalu berpikir untuk bagaimana memaksimalkan lahan saya seluas 2 hektare untuk bisa menghasilkan uang lebih cepat. Karena kalau tanam sawit itu harus menunggu tiga sampai empat tahun, sedangkan tanam sayur hanya butuh tiga bulan untuk bisa menghasilkan uang," sambung pria yang menjadi mitra binaan PT Arara Abadi yang merupakan anak perusahaan PT Sinar Mas.

Di samping itu, Suryono juga meninggalkan metode praktik membuka lahan dengan membakar lahan.

Pasalnya, bercocok tanam hortikultura lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Karena petani hortikultura itu bisa menggarap lahan yang sama secara berulang-ulang hingga panen tanpa perlu harus membuka lahan baru dengan cara membakar," tegasnya.

Peningkatan Penghasilan
Peralihan dari petani sawit menjadi petani hortikultura menjadi berkah bagi Suryono.

Selain bisa melestarikan dan menjaga alam sekitar, dirinya juga berhasil meningkatkan perekonomian keluarga yang sangat jauh berbeda ketika dirinya masih berurusan dengan sawit.

Beberapa jenis tanaman hortikultura yang menjadi andalan Suryono di antaranya ialah bayam, kangkung, jambu, pepaya, kacang panjang, jagung, cabai, terong, wortel, melon, semangka, dan masih banyak lagi.

Dengan berbagai tanaman tersebut, Suryono benar-benar bisa memanfaatkan secara maksimal lahan seluas 2 hektare miliknya.

Ia mengaku tidak fokus di satu atau beberapa jenis tanaman hortikultura.

Pasalnya, tanaman itu bersifat musiman. Dengan begitu, ia bisa terus menanam puluhan jenis tanaman selama satu tahun penuh.

"Enaknya tanam jenis hortikultura itu cepat panennya sehingga satu tahun bisa tanam banyak jenis," kata Suryono.

Penghasilannya pun lebih banyak jika dibandingkan dengan sawit. Dari bercocok tanam sayur dan buah di lahan setengah hektare, Suryono mendapatkan keuntungan Rp15 juta per bulan.

"Jadi memang jauh lebih menguntungkan setelah menanam hortikultura. Yang enaknya lagi juga permintaan sayur dan buah di daerah saya itu sangat besar, jadi jualnya gampang," tuturnya.

Kesuksesannya membuat para petani yang sempat mencibirnya akhirnya diam.

Bahkan, mereka mengikuti jejak Suryono menjadi petani hortikultura. Suryono pun tidak pelit ilmu, tanpa ragu ia berbagi informasi dan membantu petani sawit yang mau beralih.

"Jadi sekarang mereka baru sadar dan mau bertanya ke saya untuk bagaimana bisa menjadi petani hortikultura. Saya sangat senang karena dengan semakin banyak petani sawit yang beralih ke hortikultura, maka bencana kebakaran yang kerap terjadi bisa berkurang dan tentunya perekonomian juga meningkat," jelas Suryono. (M-4)

BIODATA:
Nama: Suryono
Usia: 41 tahun
Profesi: Petani hortikultura mitra PT Arara Abadi

Komentar