Cerpen

Lungset ing Sampiran

Ahad, 13 November 2016 13:04 WIB Penulis: Ono Sarwono

PERILAKU primitif yang hingga saat ini masih sering mengharu dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di negeri ini adalah kekerasan. Itu bukan hanya domain di ranah rakyat kecil, melainkan subur pula di kalangan elite.

Tindakan destruktif semacam itu sepertinya ajek menjadi pilihan prioritas untuk, misalnya, berunjuk rasa atau menyampaikan aspirasi di segala medan. Bahkan, celakanya, itu kerap pula dijadikan sebagai kendaraan berpolitik.

Tentu itu berimplikasi buruk pada demokrasi dan wajah bangsa ini. Padahal, jati diri bangsa ini berbudaya. Kita kian ke sini kian banyak yang, mungkin tidak disengaja, telah mengabaikan budayanya sendiri. Budaya kian terpinggirkan dari kehidupan sehari-hari. Akankah itu sinyal bangsa ini akan tercerabut dari akar budayanya sendiri?

Budaya yang dimaksud di sini ialah hasil cipta karsa dan akal budi manusia yang berupa peradaban mulia. Tercakup di dalamnya segala macam produk budaya yang ada dalam masyarakat.

Seyogianya, bangsa ini kembali berbasis pada budaya dalam segala aktivitasnya, termasuk, dalam urusan menyampaikan aspirasi itu. Dengan demikian, tidak ada lagi kekerasan-kekerasan yang mewarnainya.

Eman-eman
Ada contoh begitu nikmatnya unjuk rasa bila dikemas lewat budaya, dalam hal ini pergelaran wayang. Berkat kreativitas sang dalang, perkeliran bisa digunakan sebagai medium menyampaikan aspirasi dan mengkriktik tanpa implikasi anarkistis. Cara demonstrasi itu dipastikan aman dan bahkan terasa nyaman meski pesan-pesannya pedas.

Berunjuk rasa lewat wayang juga dipastikan tidak akan menimbulkan pihak-pihak yang terlukai. Yang menjadi target sasaran kritik pun bisa terkekeh-kekeh atau setidaknya tersenyum simpul karenanya.

Salah satu dalang wayang kulit kondang yang kerap berunjuk rasa lewat perkeliran ialah Ki Manteb Soedharsono. Tidak seperti demonstrasi jalanan yang sering menggiriskan, unjuk rasa dalang asal Surakarta itu malah sering dinanti dan ditunggu. Inilah eloknya budaya (seni).

Dalam aksinya, Ki Manteb, yang juga dikenal sebagai dalang kaya sanggit, tidak berteriak sora (keras) sambil mengepalkan tangan ke atas. Ia melakukannya dengan mendendangkan tembang-tembang satire gubahannya sendiri. Biasanya aksi itu dalam sesi jeda seperti Limbukan dan atau Gara-Gara.

Satu di antara sejumlah karyanya yang sering diunjukrasakan ialah tembang berjudul Eman-Eman. Arti harfiah kata berbahasa Jawa itu ialah ‘sayang sekali’, sedangkan isi keseluruhan tembang itu tentang keprihatinan akan orang-orang pintar yang tidak memiliki iman.

Lengkapnya syair tembang Eman-Eman tersebut sebagai berikut, Eman-eman wong pinter ra duwe iman/Waton sulaya, geger, padu, dreg-udregan, eman/Rumangsane ben ketok kaya pahlawan/Tudhang-tudhing nggebrak meja jelalatan/Pamrihe ketok tenanan/Jebul mung dadi guyonan/Paman, paman, paman Patih Harya Suman/Rakyat bosen weruh wong padha gegeran, eman/Pungkase wong pinter mlebu ukuman. (Sayang sekali orang pintar tidak memiliki iman/Asal beda, suka ribut, adu mulut, gemar bertengkar sayang sekali/Perasaannya biar kelihatan seperti pahlawan/Menuding ke sana ke mari menggebrak meja dengan mata jelalatan/Maksudnya agar kelihatan serius/Ternyata hanya jadi tertawaan/Paman, paman, paman Patih Harya Suman/Rakyat bosan melihat orang bertengkar, sayang sekali/Pada akhirnya orang pintar masuk penjara).

Pesan yang terkandung dalam tembang sederhana itu ialah sindiran kepada orang pintar (elite) di negeri ini yang suka membuat kegaduhan, mengumbar kemarahan, sok pahlawan, tapi pada akhirnya memetik kesengsaraan akibat perbuatannya sendiri. Para elite itu tidak menggunakan kepintaran mereka untuk memayu hayuning (membuat maju) bangsa dan negara, tetapi demi memenuhi kepentingan sendiri.

Dalam tembang itu pun ada kata-kata menggelitik, yakni paman, paman, paman patih Harya Suman. Dalam cerita wayang, Suman ialah politikus licik, culas, suka berkonflik, dan selalu memaksakan kehendak. Ia dikenal pula sebagai seorang machiavellis, penganut mazhab politik menghalalkan segala cara. Jabatannya sebagai orang kedua (patih) dalam struktur pemerintahan negara Astina pada rezim Prabu Duyurdana. Nama lain Suman yang sangat populer ialah Sengkuni.

Tampaknya, Ki Manteb memilih Suman dalam tembang tersebut sengaja untuk menyindir banyaknya politikus di negeri ini yang memang memper tokoh tersebut. Pintar, otaknya encer, tapi tidak memiliki landasan moral dan nurani. Jalan perjuangan politiknya semau gue, demen menerabas dan ‘main kayu’.

Lalu yang menarik lagi pada syair berikutnya, Rakyat bosen weruh wong padha gegeran, eman. Pesannya, rakyat benar-benar sudah bosan, muak, melihat para elitenya berantem terus. Apa pun jadi sumber pertengkaran. Rakyat sungguh berharap ‘orang di atas’ segera siuman dan kemudian bersatu bahu-membahu membangun bangsa dan negara.

Tembang itu lalu diakhiri dengan syair Pungkasane wong pinter mlebu ukuman. Ini seperti mengingatkan adanya orang pintar yang masuk penjara akibat perilakunya sendiri karena melanggar hukum.

Indahnya budaya
Tembang Eman-Eman itu sekadar contoh bagaimana unjuk rasa disampaikan dengan cara berbudaya. Bila dirasa-rasa, sesungguhnya pesan dalam tembang itu sangat tajam. Itu mengena dalam situasi saat ini. Namun, karena lewat seni, itu tidak menimbulkan kekacauan dan tidak ada pula yang tersinggung. Inilah kekuatan sekaligus indahnya budaya.

Bila kita pahami lebih jauh, wayang sejatinya memiliki kekuatan untuk membangun bangsa. Misalnya, kisah-kisahnya bisa dijadikan medium untuk merevolusi mental. Pergelaran wayang juga bisa dijadikan sebagai sarana sosialisasi program atau kebijakan negara.

Dari perspektif itu, sikon kebangsaan saat ini tampaknya sudah tidak memberikan tempat bagi budaya. Semakin banyak di antara kita, terutama kaum elite, yang semau-maunya sendiri dalam beraktivitas. Budaya ditelantarkan, dionggokkan. Padahal, budaya merupakan aset yang tak terhingga nilainya.

Kondisi seperti itu selaras dengan ungkapan peribahasa Jawa, Wrasta lungset ing sampiran (kain kusut di gantungan). Maknanya, sesuatu yang sangat berharga tapi akhirnya kehilangan nilainya akibat terlalu lama tidak digunakan atau tidak dimanfaatkan.

Budayalah yang membedakan martabat manusia dengan makhluk lain. Karenanya, dalam konteks kebangsaan, kita perlu untuk senantiasa ingat moto arif ini, Kuncara lan arume bangsa dumunung ana luhure budaya. Arti bebasnya, mulianya sebuah bangsa terletak pada keluhuran budayanya. (M-4)

sarwono@mediaindonesia.com

Komentar