BIDASAN BAHASA

Ketek Palembang

Ahad, 13 November 2016 08:00 WIB Penulis: Henry Bachtiar

THINKSTOCK

SEBAGIAN besar dari pembaca pasti mengira judul di atas berkaitan dengan ketiak. Itu tidak salah. Namun, lebih dari itu, penulis menemukan terdapat empat lema ketek pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Lema ketek yang pertama berupa nomina. Dalam KBBI, ia diberi label Jw, diserap dari bahasa Jawa, yang mempunyai arti 'monyet; kera'. Cara ejanya ialah huruf e yang pertama dieja seperti ketika mengeja e pada kata kera dan huruf e yang kedua dieja seperti ketika mengeja e pada kata bebek. Selanjutnya, lema ketek yang kedua juga berupa nomina. Ia mewakili dialek Melayu Jakarta (Jk) untuk kata ketiak. Cara mengeja lema itu ialah kedua huruf e sama-sama dieja seperti ketika mengeja kata bebek. Lema ketek yang ketiga diserap dari bahasa Minangkabau (Mk). Lema itu berupa adjektiva yang mempunyai pengertian 'kecil; sedikit'.

Cara mengejanya sama dengan cara mengeja lema yang kedua, yakni kedua huruf e sama-sama dieja seperti ketika mengeja kata bebek. Lema ketek yang keempat berupa nomina. Dalam KBBI, lema itu diartikan 'perahu bermotor'. Cara mengejanya seperti lema kedua dan ketiga. Namun, tidak seperti ketiga lema sebelumnya, KBBI tidak menyediakan asal usul lema ketek yang keempat itu. Hanya ada pemaparan arti dan tidak ada penjelasan atau pelabelan mengenai asal mula lema itu diserap. Dalam bahasa Jawa memang ada kata getek. Namun, kecil kemungkinan kosakata itu diserap menjadi ketek (perahu bermotor).

Selain perubahan bentuk yang terlalu jauh, kosakata getek memiliki arti rakit yang terbuat dari kayu ataupun bambu dan sama sekali tidak menggunakan motor atau mesin dalam pengo perasiannya. Ketika penulis mencari kata itu dalam KBBI, ternyata getek memang diartikan 'rakit'. Ia berupa nomina dan merupakan dialek Melayu Jakarta (Jk). Kata rakit dalam KBBI diartikan 'kendaraan apung dibuat dari beberapa buluh (kayu) yang diikat berjajar dipakai untuk mengangkut barang atau orang di air; getek'.

Dengan demikian, lema ketek yang keempat mempunyai arti berbeda dengan getek dan rakit. Lantas, dari mana lema itu diserap? Dengan didorong rasa penasaran mencari asal mula lema itu, penulis menemukannya dari bahasa Palembang. Di laman Wikipedia. org, lema ketek itu juga diartikan 'pera hu'. Demi memastikan asal mula lema itu, penulis mencoba mencari-cari kamus bahasa Palembang. Namun, ternyata begitu sulit untuk mendapat kannya.

Penulis pun mencoba mencari tahu dari seorang kawan yang asli Palembang. Benar saja, ketek memang diartikan perahu kecil bermotor. Ia merupakan bahasa Melayu Palembang. Untuk selanjutnya, dalam KBBI, lema ketek yang keempat bisa saja dilabeli Plb (Palembang) yang menunjukkan lema itu berasal dari daerah tersebut. Dengan demikian, lengkap sudah bahwa keempat lema ketek dalam KBBI berakar dari bahasa daerah. Bahasa Indonesia ialah bahasa yang kaya. Satu kata ketek bisa punya empat makna. Kalau tidak mengetahui konteks dan memahami semuanya, bisa jadi salah kira. (Henry Bachtiar)

Komentar