Weekend

Memerangi Berita Palsu

Ahad, 13 November 2016 06:40 WIB Penulis: Zuq

THINKSTOCK

MENJELANG dan sesudah demonstrasi 4 November 2016, lalu lintas berita bohong atau hoax memenuhi jagat pengguna Facebook, Twitter, ataupun ke aplikasi percakapan Whatsapp.

Ada berita hohong bertajuk 'Hina Ahok, Amien Rais Diperiksa Polisi'. Di media sosial, muncul berita berisi instruksi Kapolri untuk menangkap dan memeriksa mantan Ketua Umum PAN itu. Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara dengan tegas dan bernas, "Tidak ada perintah saya (periksa Amien Rais), terutama terkait dengan masalah Gubernur Ahok.

"Bukan hanya itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga sempat diterpa kabar hoax. Pesan tentang pengambilan informasi melalui sistem Big Data Cyber Security (BDCS) Indonesia beredar viral pada masyarakat. Padahal, isu tersebut hanya hoax (27/10).

Keprihatinan atas banyaknya berita hoax itu pun direspons banyak pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.

Di Indonesia, muncul berbagai komunitas yang fokus pada berita hoax. Sementara itu, pemerintah melalui Polri juga telah membuat divisi khusus yang menangani kejahatan dunia maya.

Dalam kancah internasional, Interpol juga menaruh perhatian terhadap kejahatan dalam dunia maya. Selain itu, muncul jaringan bernama First Draft Coalition. Jaringan yang dibentuk pada Juni 2015 itu mempunyai misi menciptakan kode etik independen dan mempromosikan literasi berita kepada pengguna media sosial dengan dukungan dari perusahaan induk Google, Alphabet Inc.

Dua media sosial terbesar, Facebook dan Twitter, juga bergabung dengan jaringan anti-hoax yang beranggotakan 30 perusahaan media dan teknologi untuk memerangi berita palsu dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial. (Zuq/M-2)

Komentar