Inspirasi

Persenjatai Diri dan Lingkungan dengan Pendidikan

Kamis, 10 November 2016 00:45 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/PERMANA

HIDUP dan bekerja di negara orang menjadi cambuk bagi Heni Sri Sundani, 29, untuk bisa pulang ke Tanah Air membawa kemewahan bagi diri dan lingkungan. Bukan perkara materi, melainkan justru ilmu pengetahuan yang menjadi modal untuk bisa membantu kaum papa dan menggerakkan semangat kaum filantropis. Enam tahun menjadi pilihan waktu bagi Heni untuk mencari nafkah sebagai buruh migran di Hong Kong. Setelah itu, ia kembali ke kampung halamannya, dan betapa terkejut saat mendapati kondisi kampung masih sama dengan sebelum ditinggalkannya.

Berbekal ilmu dan 3.000 buku yang dimilikinya, Heni mendirikan perpustakaan dan mengajak anak-anak untuk belajar bersama di rumahnya. Semakin lama, peminatnya semakin bertambah. Hal tersebut membuat orangtuanya bangga mengingat cita-cita sang putri ingin menjadi guru. "Setiap gajian, aku hanya menyisakan sekitar HK$500 untuk keperluan membeli buku dan kuliah, selebihnya kirim ke emak untuk memperbaiki rumah. Menjadi buruh migran memang loncatanku untuk bisa berbahasa Mandarin dan kuliah," ungkap Heni dengan senyum mengembang, Rabu (2/11). Meskipun hanya menikmati sedikit dari penghasilannya, Heni justru bercerita dengan senyum yang tak pernah lepas dan mata yang antusias.

Gerakan Anak Petani Cerdas
Ia senang bisa bermanfaat bagi masyarakat, apalagi kini upaya menggerakkan semangat menjadi cerdas merambah ke desa-desa lain. Total siswa yang belajar di Komunitas Agroedu Jampang dengan nama Gerakan Anak Petani Cerdas mencapai 1.500 anak, tersebar di 10 kampung wilayah Kabupaten Bogor. Mulanya Heni tersadar akibat cerita asisten rumah tangganya mengenai kehidupan yang tidak layak di beberapa kampung dekat rumah Heni. Benar saja, ketika ia berkunjung, memang banyak anak yang tidak bersekolah, MCK pun tidak ada dan hanya memanfaatkan selokan dengan berbagi bersama bebek serta kerbau.

Pada 2012, ia bersama suaminya mendekati salah satu orang berpengaruh di Kampung Sasak, lalu diutarakan niatnya untuk menyediakan tempat belajar dan peralatan membaca bagi anak-anak di kampung tersebut. Niat baiknya bersambut hangat. Semakin hari, jumlah anak yang datang bertambah. Heni pun senang melihat antusiasme mereka belajar.
Tak ingin berhenti, ia dan suami lantas mendirikan gerakan serupa di kampung lain yang juga dekat dengan rumahnya, Kampung Jampang. Dengan memanfaatkan saung petani, setiap pekan Heni dan suami bersama sekitar 50 anak petani berkumpul untuk belajar.

"Pendidikan itu menjadi alat untuk memutus mata rantai kemiskinan. Itu yang saya terapkan kepada anak-anak. Kini bukan hanya anak petani, melainkan juga ada anak tukang ojek, anak ART, hingga anak buruh migran. Bukan lagi hanya menjadi gerakan saya, melainkan juga gerakan bersama teman-temanku di lima benua," tukasnya. Fokus pendidikan ada pada tiga hal, kemampuan lingustik (berbahasa asing, yaitu bahasa Inggris), kemampuan literasi (baca, tulis, dan diskusi), serta kemampuan logika (matematika, IPA, dan bisnis). Akan tetapi, Heni tetap menyelipkan kemampuan lain, seperti pengoperasian komputer, pertanian, perkebunan, perikanan, juga bahasa daerah. Harapannya supaya anak-anak menjadi penjaga kearifan lokal dan budaya daerahnya.

Kini Heni sudah memiliki tempat untuk anak-anak berkegiatan di Desa Cimande, Kabupaten Bogor. Relawan pengajar pun sudah banyak dimiliki, termasuk relawan profesional yang satu kali dalam sebulan didatangkan seperti dokter dan psikolog. Mengubah kebiasaan, imbuh Heni, tidak hanya dari anak-anak tetapi juga lingkungan. Karena itu, ia beberapa kali menyelenggarakan kelas parenting untuk kedua orangtua. Buah dari pejuangannya, sudah ada 350 anak yang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mulai jenjang SMP hingga perguruan tinggi.

"Relawan tak hanya memberi materi, tetapi juga kemampuan. Seperti teman yang saya baru kenal dari pertemuan 30 Under 30 Asia oleh majalah Forbes. Ada yang berkenan datang ke sini dengan biaya sendiri untuk melatih kemampuan dan keberanian berbahasa anak-anak. Pun dengan teman-teman saya di lima benua, ada yang ingin berlibur sembari main di sawah dengan kewajiban memberi ilmu kepada anak-anak," pungkas perempuan yang masuk daftar anak muda agen perubahan dan menginspirasi pada kategori social entrepreneur oleh majalah Forbes.

Berbagai ilmu
Pencapaiannya kini yang mendulang banyak undangan untuk wawancara juga menggerakkan semangat kaum filantropis. Dia terus berbagi agar masyarakat di pelosok desa bisa hidup layak, berkah dari kesabarannya selama merantau di negeri orang. Heni berharap akan muncul penggerak di desa-desa lain sehingga persoalan kemiskinan bisa diselesaikan secara bersama. Karena itu, sejak masih menjadi buruh migran pun, ia kerap berbagi ilmu, baik dari buku yang dimilikinya maupun mengajari teman buruh migran lainnya mengoperasikan komputer tablet miliknya.

Saat libur bekerja sebagai pengasuh, ia manfaatkan waktu untuk pergi ke perpustakaan dan kuliah. Tidur selama 2 jam sudah cukup baginya karena ia pun harus mengerjakan tugas dan membaca secara sembunyi-sembunyi ketika hari sudah larut. Pernah suatu hari, ia ketahuan sedang membaca di siang hari. Tiba-tiba sang majikan pulang lantas mengatakan pembantu itu tidak guna membaca yang penting bisa mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Hal tersebut semakin mengobarkan semangatnya untuk bisa berhasil menjadi sarjana.

Melakukan reportase dan menuangkannya dalam tulisan untuk koran berbahasa Indonesia di Hong Kong menjadi salah satu pekerjaan sampingan untuk mendapat biaya kuliah dan membeli buku. Pun dengan menulis untuk dikirim ke Indonesia dan meresensi buku sehingga ia kerap mendapat kiriman buku dari para penerbit di Indonesia. Rasa iri untuk ikut menikmati kota dan hiburan di Hong Kong sempat terlintas, tetapi cita-cita lebih kuat daripada sekadar pelesiran ke tempat-tempat tertentu.

"Majikan yang kedua justru menjadi penyemangat, ia mendukungku untuk bisa menyelesaikan kuliah. Ya sempat teman-teman mengatakan hidupku ngoyo banget karena aku tidak suka bermain hanya bekerja dan belajar. Toh aku juga sering bepergian karena menulis laporan untuk koran he he he. Kalau libur, terkadang aku suka membawa koper berisi buku dan duduk-duduk di Victoria Park supaya teman-teman lain bisa ikut membaca dan punya keinginan sama denganku," tukas perempuan yang menjadi orang pertama buruh migran Indonesia bergelar sarjana di Hong Kong. (M-2)

Komentar