DESAIN

Cerita Teras

Ahad, 6 November 2016 03:45 WIB Penulis: FARIO UNTUNG TANU

DOK YODI JULIARDI

SAAT duduk di teras rumah itu, kesejukan seperti menyelimuti dari berbagai sisi. Dari bawah, kaki terasa sejuk begitu menyentuh lantai semen acian. Sementara itu, dari sekeliling, suasana adem tercipta dari paduan gemericik air di kolam ikan dan hamparan kerikil serta rumput hijau di pekarangan. Pada perpanjangan yang bersisian dengan kolam ikan, desain teras seperti bingkai yang mengelilingi area berkerikil. Di tengah area kerikil itu terdapat pohon setinggi sekitar 4 meter.

Sang arsitek, Yodi Juliardi, menjelaskan teras itu sengaja dibuat agar bisa mengakomodasi kumpul keluarga. Hasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan. Dilengkapi dengan meja dan kursi yang asyik untuk ngopi maupun bekerja, teras itu, diakui pemilik rumah, menjadi tempat favorit anggota keluarga. Gaya warung kopi makin lengkap dengan adanya lampu gantung dengan kap mangkok.

“Secara fungsional, teras memang dijadikan ruang yang berfungsi sebagai penghubung antara ruang dalam dan luar. Dengan kenyamanan iklim tropis di Bandung, teras menjadi ruang yang sangat nyaman bagi pemilik rumah,” tutur Yodi kepada Media Indonesia, Jumat (28/10). Kenyamanan beraktivitas di teras pun tampak dipikirkan secara detail dengan adanya
kaca penghalang tampias hujan dan silau matahari. Kaca semiburam itu terpasang di bawah atap, baik pada sisi depan maupun samping teras.

Keterbukaan pada teras itu rupanya menggambarkan konsep desain untuk rumah yang berdiri di atas tanah seluas 200 meter tersebut. “Ruang-ruang dalam bangunan ini juga dirancang untuk mendekati kualitas ruang teras yang ada, yakni dengan pemberian kaca jendela yang cukup lebar dengan intensitas berbeda di masing-masing ruangnya,” jelas Yodi. Bukaan besar terutama berlimpah di ruang keluarga. Untuk bukaan pada sisi yang teras, Yodi memilih tiga jendela besar berbingkai kayu, sedangkan untuk bukaan yang menuju kolam ikan dibuat pintu kaca geser. Aliran udara makin berlimpah dengan lubang-lubang angin di atas pintu. “Hal ini memang dilakukan supaya terjadi pertukaran udara di dalam bangunan yang didapat dari bagian luar rumah,” jelasnya.

Paduan kubus dan atap pelana
Menatap rumah yang berada di sudut jalan itu, kesan minimalis modern kuat terpancar. Asrinya taman hanya dapat sedikit diintip dari celah-celah tembok semen setinggi sekitar 1,5 meter. Meski begitu, keunikan paduan desain kubus dengan atap pelana tetap terlihat jelas. Bangunan kubus berada di sisi timur dan selatan, mengapit bagian bangunan yang beratap pelana.

Yodi menjelaskan ruang-ruang dalam rumah seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, serta dapur didesain menyatu tanpa sekat. Nuansa yang dipilih tetap alami dan minimalis, salah satunya dengan lantai acian semen di ruang-ruang itu. Bahkan, pada beberapa ruang, seperti dapur, sebagian dinding juga dibiarkan bergaya semen ekspos. Elemen kayu dipadukan dengan cantik baik lewat furnitur maupun lewat aksen pada bagian pinggir tiap anak tangga.

Untuk menonjolkan keindahan kayu maupun semen acian, warna dinding rumah sengaja dicat dengan warna putih. Ya, suasana sejuk dan menenangkan terkadang tidak membutuhkan banyak warna maupun aksen. Cukup dengan paduan sederhana yang sesuai dengan lingkungan. (M-3)

Komentar