Foto

Menuju Puncak Tiada Akhir

Ahad, 6 November 2016 02:00 WIB Penulis: (M-3)

MI/BRIYAN B HENDRO

KUTIPAN lirik berbahasa Dayak yang dituliskan Firmansyah, Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, itu menggambarkan keperkasaan Gunung Beriun. Gunung itu merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan gunung lainnya di Kutai Timur, Kalimantan Timur, seperti Gunung Tutunambo dan Gunung Nyere. Menjadi satu-satunya gunung berkontur tanah yang dikelilingi gunung batu karst Sangkulirang-Mangkalihat tak membuat Beriun sering dijamah orang. Bahkan, hingga kini belum tercatat ada ekspedisi pendakian ke puncaknya dan pendataan mengenai kompleksitas isi hutannya.

Pada 1-20 September lalu, sebagian ‘kegelapan’ Beriun telah dapat disingkap tim Eiger Black Borneo Expedition 2016. Bak Amazon di Amerika Selatan, hutannya tak kalah seksi dengan pepohonan berusia ratusan tahun dan beragam spesies fauna. Menurut kesaksian suku Dayak Basap, Beriun memiliki enam puncak, yaitu Puncak Beriun Raya, Puncak Sentiwong, Puncak Borean Gona, Puncak Tara Tebu, Puncak Koloi, dan Puncak Kejantri.

Ketika pendaki berdiri di salah satu puncak, akan terlihat puncak lainnya yang seakan tidak ada habisnya sehingga lahirlah kata iun, yang dalam bahasa Dayak berarti di sana. Istilah ini merujuk kisah orang Dayak dahulu ketika berada di Puncak Gunung Beriun. Tiap puncak itu dipisahkan jurang dan lembah yang dalam. Puncak Beriun Raya ialah puncak utama.

Karena itu, pada jurang-jurang dan lembah-lembah itulah, tim ekspedisi berjuang menuju puncak. Perjalanan itu benar-benar menguji mental dan juga kemampuan navigasi karena data-data dari peta Badan Informasi Geospasial dan peta Google Earth kerap tidak bisa diandalkan. Ujian makin berat dengan anomali cuaca. Namun, Beriun tidak selamanya angkuh. Hari demi hari semakin membawa tim mendekati puncak.

Pada hari keenam di hutan, tim ekspedisi pun berhasil menginjak Beriun Raya. Sujud syukur dan tangis haru pun tertumpah di gunung berketinggian 1.261 mdpl itu. Terima kasih Beriun! (M-3)

Komentar