Eksekutif

Membawa Remitansi Mengalir ke Pelosok Negeri

Senin, 31 October 2016 07:10 WIB Penulis: Fathia Nurul Haq

MI/PANCA SYURKANI

BESARAN transfer uang yang dikirimkan pekerja migran Indonesia ke negaranya (remitansi) tidak boleh dianggap remeh.

Pada laporan Migration and Remmitances Factbook 2016, yang dikeluarkan Bank Dunia pada awal tahun lalu menyebutkan Indonesia merupakan negara penerima remitansi terbesar ke-4 di dunia.

Aliran uang tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Tanah Air diperkirakan mencapai US$10,5 miliar pada 2015, meningkat jika dibandingkan dengan US$8,3 miliar (Rp97 triliun) pada 2014.

Besarnya 'kue' remitansi pekerja asing Indonesia itu rupanya juga disadari Western Union.

Bahkan, kantor PT Western Union untuk regional Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam sengaja didirikan di Indonesia, alih-alih dua negara lain yang masih dibawahkan mereka.

Di kantor baru, yang terletak di bilangan Senayan, Jakarta, itulah Direktur PT Western Union untuk regional Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam Vijay Raj Poduval sehari-hari berkantor.

"Indonesia adalah negara yang penting bagi kami," ujar Poduval, saat disambangi di ruangannya, di lantai 17 Sentral Senayan III, awal bulan lalu.

Bagaimana tidak?

Indonesia punya lebih dari 4 juta pekerja migran yang memakai jasa pengiriman uang Western Union dari seluruh dunia.

Volume transaksi remitansi Indonesia di urutan kedua tersibuk dalam hal arus pengiriman uang di regional Asia Tenggara.

"Itulah mengapa saya berkantor di Jakarta, bukan Singapura atau Brunei Darussalam," lanjutnya.

Bisnis remitansi memang tak jauh dari pekerja migran, sebagaimana Western Union selama 165 tahun telah berkecimpung di sana.

"Mungkin mereka tidak paham dengan jelas apa itu Western Union, tapi mereka pasti pernah mendengarnya," ujar Vijay yakin.

Menurutnya, meski pangsa pasar Western Union termasuk mikro, potensinya amat luar biasa.

Vijay yang sudah matang di industri keuangan mengatakan, sebelumnya ia juga pernah bekerja sebagai bankir dan konsultan.

"Saya pernah mengerjakan retail banking, kartu kredit, saya juga pernah menjadi konsultan. Tapi Western Union punya sesuatu yang berbeda," ucapnya.

Dengan intensitas transaksi yang padat, rata-rata 31 transaksi per detik di seluruh dunia, bisnis remitansi dapat berputar dengan atau tanpa campur tangan bankir.

"Fleksibilitas ini menjadikan bisnis remitansi cukup kompleks, tiap negara punya regulasinya sendiri-sendiri," tambahnya.

Tak kurang dari 262 juta transaksi dilakukan orang per orang di berbagai negara tahun lalu.

Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang transaksi yang melibatkan perbankan, yakni 150 juta transaksi di seluruh dunia.

"Volumenya secara keseluruhan di seluruh dunia mencapai US$551 miliar," jelasnya lagi.

Laiknya hubungan mutualisme, Poduval pun memandang segmen remitansi oleh pekerja migran dalam volume yang besar merupakan peluang bagi Western Union ikut mengembangkan perekonomian di pelosok Indonesia.

"Kami ingin melebarkan cabang sampai ke daerah-daerah," ungkap pria yang sudah 13 tahun bekerja untuk Western Union.

Pendidikan dan pembangunan

Poduval mengaku semakin mantap bekerja di bidang remitansi.

Ada satu alasan kuat yang membuat Vijay beralih dari dunia perbankan kepada bisnis remitansi, yakni potensi arus dana yang dinilainya potensial untuk membangun daerah kantong-kantong kemiskinan.

Arus dana dari pekerja migran di luar negeri barangkali tidak sebesar insentif fiskal yang mampu disuntikkan pemerintah ataupun dana corporate social responsibility (CSR) yang setiap tahun dianggarkan korporasi besar.

Namun, dana-dana yang masuk sebagai devisa itu, apabila ditukar dalam rupiah lalu dikirimkan ke daerah-daerah tertinggal asal para pekerja migran, jumlahnya menjadi signifikan.

Vijay bahkan memperhatikan peruntukan dana yang mengalir ke Indonesia.

Rata-rata seperempat dana itu untuk pendidikan, dalam porsi tak kalah besarnya, juga untuk kesehatan.

"Pekerja migran mengirimkan uang untuk keluarganya di Indonesia, dia butuh cepat. Itu yang kami upayakan," cetus Vijay.

Uang tersebut datang, selain dari pekerja migran, juga dari keluarga-keluarga diaspora yang mengirimkan sebagian uangnya untuk sanak famili di negara lain.

"Ini menunjukkan remitansi memperkuat perekonomian. Uangnya biasanya untuk membayar utang, membayar biaya pendidikan. Kucuran langsung ini menambah volume uang di daerah," lanjut dia.

Western Union sendiri bekerja sama dengan berbagai bank di Indonesia untuk memperluas jangkauannya.

Saat ini pekerja migran atau siapa pun pengguna jasa Western Union bisa mengirimkan langsung uangnya dalam mata uang asing, ditukarkan dalam rupiah lalu didistribusikan hingga ke pelosok di 32 provinsi di Indonesia.

Untuk alasan ini pulalah, sebagian besar sebaran Western Union malah berada di area rural.

"Sebaran kita luas, di 32 provinsi. Sebagian besar di area rural," sebut Vijay.

Setiap tahunnya, fenomena arus uang dari pekerja migran ke daerah rural mencapai US$10 miliar.

Tidak kurang dari US$7 miliar di antaranya murni untuk pendidikan.

"Ini menunjukkan remitansi memperkuat perekonomian. Uangnya biasanya untuk membayar utang, membayar biaya pendidikan. Kucuran langsung ini menambah volume uang di daerah," tutup dia.

Enggan jauh dari keluarga

Dalam skala yang berbeda, Vijay merasa dirinya sama saja dengan para pemakai jasa perusahaannya, yakni pekerja migran.

Bedanya, ia tak sanggup tinggal jauh dari keluarga kecilnya.

Ia memang fasih berbahasa Inggris, tetapi aksen Hindi amat kental dalam pengucapannya.

Bukan hanya Hindi, ia juga mengusai bahasa Marathi, Bengali, dan Malayalam, yakni bahasa-bahasa yang digunakan masyarakat India.

Ia juga masih memegang teguh falsafah hidup orang India, "Keluarga sangat penting bagi saya."

Karena itulah meski dituntut untuk berpindah-pindah oleh pekerjaannya, Vijay enggan tinggal terpisah dengan keluarganya.

Selain Indonesia, Vijay dan keluarganya juga pernah tinggal di Eropa, Bangladesh, dan beberapa negara Asia lainnya.

"Saya punya dua orang anak. Anak lelaki saya umur sembilan tahun, anak perempuan saya usia tiga tahun. Mereka ikut dengan saya tinggal di Indonesia sekarang. Anak laki-laki saya bersekolah di Gandhi School. Saya rasa mereka menyukai kultur Indonesia," jelas pria yang memulai kariernya sebagai asisten konsultan di India tersebut.

Di waktu luangnya, Vijay lebih memilih untuk berwisata kuliner dan melihat-lihat suasana dan budaya di Indonesia bersama keluarganya.

Selain baik untuk kebersamaan keluarga, menurutnya anak-anak juga perlu punya wawasan budaya yang luas.

"Saya bepergian untuk pekerjaan saya rata-rata 20 hari sebulan. Cukup sulit mengatur waktu bersama, akan lebih sulit jika mereka tidak tinggal bersama saya. Bagaimanapun situasinya mereka harus tinggal bersama saya," ujar penyuka ikan goreng khas Indonesia itu. (E-4)

__________________________________________

BIODATA

Nama: Vijay Raj Poduval

Kebangsaan: India

Pendidikan

Boston Business School

Mini MBA, Business Administration and Management, General

2008 - 2008

Narsee Monjee Institute Of Management Studies (NMIMS)

India

2005

Kakatiya University

India

1996

Karier

President Director PT Western Union Indonesia & Regional Director - Indonesia, Singapore, & Brunei

August 2014 - sekarang

Country Director at Western Union

India

2003 - 2016

Assistant Manager (Retail Banking) Maharashtra & Gujarat at Global Trust Bank Ltd, Mumbai

India

2001 - 2003

Sales Team Leader at HSBC, Mumbai

India

1998 - 2000

Komentar