BIDASAN BAHASA

Di Balik Elite dan Elit

Ahad, 30 October 2016 07:30 WIB Penulis: Ridha Kusuma Perdana, Tim Bahasa Media Indonesia

MI/Susanto

BAHASA Indonesia mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir. Hal itu terlihat dari pertambahan jumlah lema yang sangat signifi kan. Pada 1991, jumlah lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua ialah 68 ribu. Pada 2008, jumlah lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Badan Bahasa sudah mencapai angka 90 ribu. Itu artinya, dalam dua dekade terakhir, ada penambahan 22 ribu lema. Menurut penulis, itu merupakan pertumbuhan yang sangat fantastis.

Salah satu hal yang membuat bahasa Indonesia berkembang dengan cepat ialah keterbukaan terhadap kata-kata baru dari bahasa lain yang masuk, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Kata-kata baru itu diserap ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. Misalnya, berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, unsur dari bahasa Inggris /-ty/ menjadi /tas/ (quality menjadi kualitas) dan /-tion/ menjadi /si/ (action menjadi aksi).

Berkaitan dengan kaidah penyerapan kata itu, terkadang ada kekeliruan dalam praktiknya, misalnya, kata celebrity diserap menjadi selebriti atau selebritis. Padahal, kata serapan yang benar ialah selebritas. Dalam kasus lain, ditemukan pula kesalahan pada penggunaan kata elite, baik pada pengucapan maupun penulisan. Kata elite dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
Edisi Keempat berarti ‘orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok; kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, dan sebagainya)’.

Kata elite sebenarnya berasal dari bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, huruf e di akhir kata selalu tetap dilafalkan. Karena itu, dalam bahasa Indonesia, kata itu tetap diserap menjadi elite, ditulis elite, dan diucapkan elite, bukan elit. Selain itu, pelafalan vokal e dalam kata itu juga bukan tanpa tujuan. Vokal e pada akhir kata itu mempunyai arti dan tidak dapat dihilangkan begitu saja. Vokal e di akhir dalam kata elite mempunyai makna yang terpilih atau yang dipilih atau menunjukkan kaum atau golongan yang dipilih.

Hal itu sejalan dengan perkataan Ketua Redaksi Pelaksana Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, Dr Meity Taqdir Qodratillah, dalam aca ra pelatihan bertema Penyegaran keterampilan berbahasa bagi reporter di Jakarta, November tahun lalu. “Huruf e dalam kata elite dan bonafi de mempunyai arti yang dipilih atau yang terpilih,” ujarnya saat itu.

Dengan demikian, tidak tepat apabila pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar (cermat, apik, dan santun) tetap mengucapkan kata elite dengan pelafalan elit, atau malah menuliskannya dengan elit.

Hal yang sama juga berlaku pada kata bonafi de. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, kata bonafide ber arti dapat dipercaya dengan baik (tentang perusahaan dan sebagainya); jujur: perusahaan itu tidak bonafi de. Kata bonafi de pun tetap dilafalkan dan ditulis bonafi de, bukan bonafi d atau malahan bonafi t. Begitu pula kata faksimile yang harus diucapkan dan ditulis faksimile, bukan faksimil, faksimail, atau bahkan faksimail.

Komentar