DESAIN

Dari Sifat Primitif Manusia

Ahad, 30 October 2016 04:15 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/ FARIO UNTUNG TANU

DI area pameran Trade Expo Indonesia di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, sebuah rumah bambu berdiri menjulang. Desain atap pelana yang memanjang hingga hampir menyentuh tanah membuat bangunan dua lantai itu tampak lebih gagah dan mewah ketimbang kebanyakan rumah bambu lain. Archean, demikian nama rumah bambu yang didesain Adelina Chandra Rahardja itu. Berdasarkan arti bahasa, archean merupakan masa mulai munculnya bentuk kehidupan primitif di bumi.

Pemaknaan Adelina pun tidak jauh berbeda. Ia kemudian memilih bambu sebagai refleksi sifat primitif dan keliaran manusia. “Konsep (rumah) ini memang diambil dari sifat dasar manusia yang primitif, natural, liar, dan bebas sehingga saya pikir, dengan penempatan bahan bambu, sangatlah cocok untuk dideskripsikan ke dalam konsep ini,” tutur Adelinah kepada Media Indonesia, Rabu (12/10). Meski berangkat dari sifat primitif, Archean dibuat kaum modern kota yang ingin menghadirkan suasana natural. Bangunan seluas 60 meter persegi tampak diperuntukkan sebagai hunian cottage yang memiliki fasilitas cukup lengkap.

Di lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang duduk, ruang makan, walk-in closet, dan kamar mandi. Ruangan-ruangan itu dipisahkan dengan bambu lunak yang dianyam membentuk partisi berlubang. Adelinah menjelaskan dinding anyaman ini dibuat untuk menghindari kesan kaku. “Perputaran udara juga bisa menjadi lebih baik,” tambah Adelinah.

Tangga panjat
Untuk menuju lantai atas terdapat tangga yang juga dibuat dari bambu. Namun, bambu tidak dirangkai hingga menjadi tangga seperti umumnya. Adelinah hanya menggunakan dua batang bambu yang pada ruas-ruasnya dibuat coakan untuk pijakan kaki. Dengan begitu, menaiki tangga ini cukup menantang karena hanya bagian depan telapak kaki yang bisa berpijak. “Tangga memang cukup unik konsepnya. Saya buat sebuah tangga yang layaknya orang sedang memanjat naik. Namun, tak perlu takut karena setiap pijakan sudah disiapkan rongga untuk langkah kaki,” jelas Adelinah.

Di lantai atas seluas 24 meter persegi itu seluruh ruangan dimanfaatkan sebagai satu kamar. Namun, pemanfaatan ruang membutuhkan trik tersendiri karena kemiringan atap. Di sisi lain, pencahayaan alami berlimpah dari jendela-jendela. Tak hanya memanfaatkan bambu, Adelinah juga menggunakan kaku dan batu sebagai material bangunan maupun furnitur. Pada furnitur kayu, kesan alami dan primitif berusaha diwujudkan dengan model yang sederhana dan tanpa ukiran.

Rumah bambu ini dikatakan Adelinah cukup diminati, termasuk dari pembeli di Kanada dan Malaysia. Untuk pasar luar negeri itu rumah bambu diekspor baik dalam bentuk rangkaian maupun utuh. Dengan potensi pasar rumah bambu yang terbuka lebar, Adelinah berharap para petani dan pengusaha bambu pun semakin giat berproduksi. (M-3)

Komentar